Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Sunday, 22 October 2017
ULTAH 6

Diskusi Interaktif “Kesejahteraan Hewan dari Prespektif Publik: Budaya, Sosial dan Agama”

Sabtu, 17 Desember 2011

Bogor - Dalam upaya peningkatan pengetahuan masyarakat akan pentingnya keamanan pangan asal hewan dan peningkatan pemahaman serta kepedulian masyarakat terhadap kesejahteraan hewan, maka pada ulang tahun Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS) yang ke-6 tahun 2011, CIVAS menyelenggarakan serangkaian kegiatan yang meliputi penyuluhan keamanan pangan dan diskusi interaktif mengenai kesejahteraan hewan.

Penyadaran Masyarakat dan Keamanan Pangan

Rangkaian kegiatan pertama yaitu penyuluhan keamanan pangan yang bertema “Keamananan Pangan untuk Kesejahteraan Bangsa” Kegiatan ini diadakan untuk menyambut datangnya hari raya Idul Adha 1432H dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai tata cara pemilihan hewan dan pengelolaan daging kurban serta cara memilih dan mengolah daging secara umum yang baik.  Kegiatan penyuluhan dilakukan dengan berbagai cara yaitu melalui siaran Pro1 RRI Bogor di frekuensi 93,75 FM pada Senin, 31 Oktober 2011 jam 08.00 hingga 09.00 WIB. Narasumber yang dihadirkan adalah Drh. Erianto Nugroho dari CIVAS dan Drh. Arif dari Dinas Pertanian Kota Bogor.  CIVAS juga memberikan penyuluhan kepada Pengurus Dewan Keluarga Masjid/Mushola dan petugas desa se-Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor dengan judul “Penyuluhan Penanganan dan Penyembelihan Hewan Kurban yang Halalan Thoyiban” pada 3 November 2011 di Aula Kantor Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Pembicara yang dihadirkan dalam penyuluhan ini adalah Drh. Andri Jatikusumah, MSc dari CIVAS, Drh. Hardy Hendriwan Kasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor, dan H. Romli Eko Wahyudi, SKH. MSi dari LPPOM MUI Kabupaten Bogor. Penyuluhan dihadiri oleh 36 peserta. Pada kesempatan yang sama, peserta juga diberikan poster “Pemilihan Hewan Kurban” dan “Penyembelihan Hewan dan Penanganan Daging Kurban” untuk dipasang di masjid dan kantor desa masing-masing.

Pada 6 November 2011, perwakilan dari CIVAS, yaitu Drh. Sunandar dan Drh. Riana A. Arief, melakukan pemeriksaan antemortem dan postmortem hewan kurban di Masjid Nurul Yaqin RT 02 RW 05 Kelurahan Atang Sanjaya, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. CIVAS juga memberikan sumbangsih sarung tangan dan celemek sekali pakai untuk meningkatkan higiene sanitasi petugas penanganan daging kurban.

Penyuluhan mengenai cara memilih dan mengolah daging yang baik dilakukan pada hari Jumat, 4 November 2011, kepada 24 ibu-ibu PKK dan RT di Kelurahan Atang Sanjaya, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor dan pada hari Selasa, 8 November 2011, kembali dilakukan penyuluhan kepada 37 orang ibu rumah tangga RT 02 RW 05 Kelurahan Atang Sanjaya atas permintaan masyarakat setempat.  Materi penyuluhan disampaikan oleh Nofita Nurbiyanti, SKH dan Drh. Riana A. Arief.  Pada kesempatan yang sama, peserta penyuluhan juga diberikan leaflet “Penanganan dan Pengolahan Daging yang Baik” dari CIVAS dan “PEDULI ASUH: Kepedulian untuk Pangan Hewani yang Aman, Sehat, Utuh, dan Halal” dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor.

Dan kegiatan terakhir dari penyuluhan yaitu dengan membagikan leaflet “Penanganan dan Pengolahan Daging yang Baik” kepada pengunjung di 3 pasar utama Kota Bogor, yaitu Pasar Bogor, Pasar Anyar, dan Pasar Warung Jambu. Pembagian khususnya diarahkan kepada ibu-ibu rumah tangga karena merekalah yang membeli dan mengolah daging untuk keluarga. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat menangani dan mengolah daging untuk kesehatan keluarga dan kesejahteraan bangsa.

Diskusi Interaktif Mengenai Kesejahteraan Hewan

Rangkaian kegiatan kedua yaitu diskusi interaktif dengan tema “Kesejahteraan Hewan dari Prespektif Publik: Budaya, Sosial dan Agama” pada 17 Desember 2011 bertempat di Bukit Gumati Batutulis, Bogor.  Diskusi ini bertujuan untuk Meningkatkan pemahaman dan kepedulian pemangku kepentingan terhadap kesejahteraan hewan di Indonesia.

Diskusi ini diselenggarakan atas terjadinya perlakuan terhadap hewan yang tidak sesuai dengan norma serta standar kesejahteraan hewan universal yang masih terjadi di Indonesia. Kita menyaksikan bagaimana perlakuan yang tidak manusiawi dalam bentuk kekerasan, penyiksaan dan eksploitasi yang masih terus terjadi di sekeliling kita, baik terhadap hewan kerja, hewan produksi, hewan kesayangan dan satwa liar, termasuk hewan yang digunakan untuk hiburan. Terakhir masyarakat dihentakkan dengan video kebrutalan penyembelihan sapi di sebuah Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Hal ini lantas berujung pada larangan ekspor sapi ke Indonesia oleh pemerintah Australia. Peristiwa tersebut juga mengundang keprihatinan banyak pihak di masyarakat. Pembiaran terhadap kasus ini dapat memicu penyebaran sikap yang tidak layak di masyarakat secara terus menerus.

Saatnya bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk menghentikan semua praktek-praktek yang memperlihatkan kekejaman, penyiksaan dan eksploitasi hewan yang terjadi di sekeliling kita. Ke depan, sudah sangat perlu bagi Indonesia untuk mulai menerapkan standar-standar kesejahteraan hewan yang universal secara demokratis dan transparan berbasis keilmuan dan etik dengan memperhatikan sistem produksi ternak dan pemanfaatan hewan serta aspek-aspek yang relevan seperti lingkungan, wilayah, geografis, ekonomi, budaya, sosial, dan agama.  Untuk itu CIVAS menyelenggarakan diskusi interaktif tentang isu kesejahteraan hewan sebagai sumbangan pemikiran dan konsepsi dalam memperkenalkan dan menyebarluaskan konsep kesejahteraan hewan menuju bangsa yang bermartabat dan menjunjung tinggi moral.

Sebelum pelaksanaan diskusi ini terlebih dahulu dilakukan survei persepsi masyarakat terhadap pengetahuan dan praktek kesejahteraan hewan dalam kehidupan sehari-hari. Survei ini dilaksanakan pada bulan November 2011 sebanyak 19 responden yang aktivitas sehari-harinya berhubungan dengan hewan yang terdiri dari tokoh masyarakat; petenak sapi, domba, dan unggas; pedagang hewan; penampung dan pemotong unggas; pemotong di RPH, pemilik hewan kesayangan/pehobi; pegawai petshop; dan petugas teknis dari dinas pertanian kota bogor dan dinas peternakan dan perikanan kabupaten bogor.  Hasil survei ini kemudian disampakain pada diskusi sebagai bahan masukan dalam pengambilan rumusan kesejahteraan hewan secara umum.

Pada diskusi interaktif narasumber yang dihadirkan yaitu Dr. Natasha Lee, Veterinary Programme Manager Companion Animals & Tertiary Animal Welfare Education WSPA Asia dengan topik International Perspective about Animal Welfare in South East Asia dan Janice Girardi / Director Bali Animal Welfare Association dengan topik Social Challenges BAWA has faced in Bali in your Animal Welfare program.  Diskusi ini dimoderatori oleh Drh. Tri Satya Putri Naipospos, M.Phil., Ph.D.

Diskusi ini dibuka dengan pemberian sambutan dari Direktur eksekutif CIVAS Drh. Andri Jatikusumah M.Sc yang menjelaskan peran CIVAS sebagai suatu oganisasi yang masih cukup muda untuk terus berupaya dalam menyumbangkan pemikiran, konsepsi, daya dan tenaga dalam mendorong terwujudnya kesehatan dan kesejahteraan manusia melalui peningkatan kesehatan hewan, kesejahteraan hewan dan keamanan pangan asal hewan; Ketua Badan Pengurus CIVAS, Drh. Tri Satya Putri Naipospos, M.Phil., Ph.D. memaparkan peranan dan program CIVAS yang telah dilaksanakan selama 6 (enam) tahun dalam turut serta dalam memberikan masukan dan rekomendasi bagi pengambilan keputusan, melaksanakan lebih dari 20 studi diberbagai daerah di Indonesia, penguatan kapasitas dengan melakukan berbagai pelatihan, aktif dalam mengkampanyekan kegiatan dan isu-isu kesehatan hewan, dan turut serta dalam membahas permasalahan kesehatan terkini baik internal maupun eksternal.  Pada kesempatan ini juga disampaikan penghargaan dan terima kasih atas kerjasama dari berbagai pihak selama ini baik dari dalam maupun luar negeri atas dukungan dana dan keahliannya dalam terwujudnya kegiatan CIVAS. Serta satu perkembangan baik bagi CIVAS yaitu pencapaian untuk mendapatkan pengakuan organisasi berbadan hukum sebagai suatu hal yang menyebabkan CIVAS lebih yakin untuk melangkah kedepan dan senantiasa meningkatkan kesadaran tentang pentingnya membangun jaringan dan legalitas formal untuk pengembangan organisasi, disamping itu tanggung jawab profesi yang juga menjadi perhatian CIVAS kedepan adalah turut serta dalam mengembang sistem medik veteriner konservasi di Indonesia dengan merintis kerjasama dengan kementerian kehutanan RI; dan  terakhir sambutan Ketua PBPDHI yang diwakili oleh Drh. Agus Lelana menyampaikan tentang kesrawan yang telah diamanatkan dalam UU No 18 tahun 2009, merupakan salah satu hal yang perlu di atur oleh Negara. Kesrawan secara prinsip merupakan suatu bentuk penilaian manusia terkait status fisik dan kejiwaan hewan melalui nilai-nilai moral yang dimiliki oleh manusia. Bagaimana hewan digunakan sebagai instrumen atau bagaimana hewan memiliki status moral sendiri.

Narasumber pertama, Dr Natasha Lee memaparkan tentang upaya untuk menciptakan dunia yang peduli terhadap kesejahteraan hewan dan menghentikan kekejaman terhadap hewan. Bekerjasama dengan berbagai pihak di berbagai belahan dunia dengan fokus area meliputi; inhumane culling of dogs and cats, disaster management, wildlife, sustainable farming, dan pendidikan kesrawan. Pengembangan konsep tentang kesrawan dengan memberikan rekomendasi dan masukan bagi pemerintahan dan stakeholder terkait, membangun capacity building, meningkatkan sumberdaya, dan membangun jejaring/hubungan. Sedangkan narasumber kedua Janice Girardi memaparkan tentang berapa faktor yang menjadi tantangan dalam penerapan kesejahteraan hewan di Bali: isu-isu ekonomi (wisata dan hiburan, RPH, pasar hewan, tropical fish, breeders anjing, deforestation, restoran yang menyediakan daging anjing), isu-isu lingkungan (kurangnya pemahaman masyarakat tentang perilaku hewan, sulitnya mengendalikan/restrain anjing liar pada saat vaksinasi dan pengobatan, kurangnya kesadaran masyarakat untuk melindungi dan menyelamatkan hewan), isu sosial kultur masyarakat (kurangnya pengetahuan masyarakat bagaimana memperlakukan dan menangani hewan, dog fighting mafia), isu rabies (kurangnya pemahaman tentang bagaimana memberantas rabies, herd immunity, tanda-tanda rabies dan hewan apa saja yang dapat terinfeksi rabies), dan agama (terkait upacara-upacara adat yang melibatkan hewan sebagai tumbal).

Diskusi dihadiri oleh sebanyak 50 orang peserta dari kalangan pemerintahan bidang peternakan, kesehatan hewan, karantina hewan, asosiasi, akademisi, NGO, swasta, lembaga internasional, mahasiswa, dan pemerhati kesejahteraan hewan.

Hasil diskusi ini mengeluarkan suatu rekomendasi dalam bentuk rumusan yang secara umum disepakati bahwa harus membangun kerjasama antara pemerintah, stakeholders terkait, pemuka agama, NGO dan tokoh masyarakat untuk melaksanakan kesejahteraan hewan.

Dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan terkait menghasilkan rekomendasi sebagai berikut:

  1. Pemerintah dan Pemerintah Daerah  adalah pengemban amanah Pasal 66 dan 67 UU No 18 Tahun 2009 dan peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan untuk melaksanakan Kesejahteraan Hewan (Kesrawan). Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam hal ini dapat mengembangkan kebijakan, pembinaan, strategi komunikasi, pengawasan dan pelaksanaan opersional Kesrawan yang lebih implementatif  dengan memperhatikan nilai-nilai kesrawan secara universal dan kondisi objektif di lapangan.
  2.  Masyarakat memahami bahwa pada hakekatnya implementasi kesrawan merupakan tanggungjawab bersama pemerintah dan masyarakat.  Upaya sebagaimana diamanatkan UU No. 18 Tahun 2009 tentang kesrawan seperti pendidikan, pelatihan  dan penyuluhan perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan menerapkan azas continuous improvement.  Termasuk implementasi kesrawan dalam pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan khususnya yang bersifat zoonotik.
  3. Sektor pendidikan formal maupun informal (PT) dapat mengembangkan kurikulum dan metode pembelajaran yang dapat megubah paradigma dan perilaku peserta didik dalam memperlakukan hewan yang sesuai dengan kaidah kesrawan universal.  Dalam hal ini pendidikan tinggi seperti, Fakultas Kedokteran Hewan, Biologi, Peternakan, Perikanan, Kehutanan dapat mengembangkan standar kompetensi kesrawan.   Pendidikan moral untuk usia dini (5-16 tahun) hendaknya juga mengandung muatan kesrawan seperti “pet responsible ownership”.  Pemahaman terhadap perilaku hewan (animal behavior) merupakan disiplin ilmu yang strategis sebagai jembatan untuk memahami kesrawan maupun efektivitas penerapannya di lapangan.
  4. Sektor penelitian dan pengembangan yang menggunakan hewan coba menerapkan standar perlakuan hewan yang sesuai dengan kaidah kesrawan universal dan diawasi oleh institusi internal dan eksternal dalam penerapannya.  Institusi internal yang saat ini di rekomendasikan adalah adanya animal care and use committe.
  5. Sektor agribisnis peternakan mulai dari pembudidayaan, sampai dengan rumah pemotongan hewan dan penjual eceran diharapkan memperhatikan prinsip-prinsip kesejahteraan hewan dalam supply chain.  Dalam hal ini setiap rantai direkomendasikan dapat menerapkan standar perlakuan kesrawan sehingga memberikan nilai tambah terhadap produk peternakan, kepuasan konsumen maupun terhadap citra Indonesia di mata internasional.
  6. Asosiasi-asosiasi yang berkaitan dengan hewan seperti HPDKI, HIMPULI, dll direkomendasikan untuk melakukan advokasi dan sosialisasi pentingnya penerapan kesrawan sebagai bagian tidak terpisahkan dari visi misi organisasi tersebut. Upaya yang dapat dilakukan antara lain memberikan muatan prinsip dan nilai kesrawan dalam perspektif  budaya, sosial dan agama. Termasuk perlakuan hewan dalam tradisi budaya masyarakat, seperti ketangkasan domba garut, karapan sapi, dan adu ayam “tajen”.
  7. Organisasi profesi, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) direkomendasikan untuk meningkatkan upaya-upaya yang telah dilakukan seperti penyusunan standar kompetensi, pengembangan kurikulum, sosialisasi, advokasi, dan training penerapan kesrawan sehingga menghasilkan tenaga kesehatan hewan yang memahami prinsip kesejahteraan hewan dan kader-kader profesional dalam penyeliaan kesrawan.
  8. Lembaga swadaya masyarakat (NGO) termasuk yayasan yang bergerak di bidang kesrawan mengembangkan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah sebagai penanggugjawab kesrawan di Indonesia maupun pemuka agama dan tokoh masyarakat, sehingga apa yang dilakukan sejalan dengan kebijakan dan program pemerintah maupun nilai-nilai positif di masyarakat. Untuk mengefektifkan penerapan kesrawan di Indonesia disarankan agar Masyarakat Kesrawan Nasional (Makresna) sebagai kumpulan dari organisasi dan pemerhati kesrawan yang telah dideklarasikan di Bogor tahun 2010 terus diperkuat kelembagaannya oleh Pemerintah secara intensif.  Termasuk salah satu programnya adalah mengembangkan animal welfare watch dengan peran NGO sebagai pengawasan/advokasi dll.
  9. Agensi Internasional seperti WSPA, FAO, OIE, dapat lebih banyak membantu implementasi kesrawan di Indonesia, terutama dalam capacity building (Modul pelatihan kesrawan termasuk pelatih yang bersertifikatnya) menjamin keberlanjutan program, dan penguatan kelembagaan kesrawan di Indonesia.

Rekomendasi Dialog Interaktif Kesrawan