Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Saturday, 20 October 2018

41 Unggas Mati Diserang Virus H5N1

Kamis, 8 September 2011

Tegal – Sebanyak 41 ekor ayam kampung bukan ras (buras) milik empat orang warga di RT 3 RW 3, Kelurahan Margadan, Kecamatan Margadana, Kota Tegal mati mendadak.

Tim khusus dari Dinas Kelautan dan Pertanian (Dislatan) setempat menyatakan seluruh unggas itu positif mengidap flu burung (H5N1). Kepala Bidang Peternakan Dislatan Kota Tegal Setyo Widardo mengatakan, berdasarkan laporan warga di RT 3 RW 3, Kelurahan Margadana, telah terjadi kematian mendadak terhadap unggas jenis ayam kampung pada 2-6 September 2011 lalu. Tanda-tanda yang ditemukan pada unggas yang mati mendadak antara lain badan dan jenggernya nampak kebiruan dengan kotoran berwarna putih.

”Kejadian itu terjadi di empat rumah dalam satu wilayah yang sama,” tandasnya, kemarin. Menurut Setyo, sumber wabah ditengarai berasal dari pedagang ayam hidup keliling yang biasa berada di wilayah tersebut. Ayam yang mati mendadak antara lain milik Kusnanto sebanyak 16 ekor, Rahidi empat ekor, Casmuni 13 ekor dan Carso 8 ekor.

Menanggapi hal kematian mendadak tersebut, petugas kesehatan hewan Kecamatan Margadana, drh. Liza Atikah yang juga merupakan anggota tim khusus dari Dislatan Tegal mengaku telah melakukan beberapa langkah dalam menangani puluhan unggas yang terkena flu burung. Antara lain, berkoordinasi dengan dinas kesehatan dan Kelurahan Margadana. Selain itu, juga melakukan penyemprotan desinfektan, disposal atau membakar serta mengubur bangkai ayam. ”Tak luput pula membagi vitamin unggas untuk ayam sehat yang masih hidup,” katanya.

Kejadian yang sama pernah terjadi di wilayah Tegal. Seperti yang dilaporkan Tim Dislatan pada 8-15 Agustus lalu telah terjadi kematian unggas yang didiagnosa terkena flu burung (H5N1) terhadap ayam kampung milik warga RT 06 RW 2, Kelurahan Kaligangsa, Kecamatan Margadana. Sebanyak 14 ekor ayam mati mendadak dengan ciri-ciri badan dan jengger nampak kebiruan.

Sumber wabah disimpulkan, ternyata warga memasukkan ayam baru tanpa dikarantina terlebih dahulu. ”Saat itu telah dilaksanakan tindakan-tindakan yang diperlukan sebagai pencegahan flu burung,” katanya.

Terpisah, Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul masih memeriksa sembilan warga di Dusun Singgelo, Poncosari, Srandakan yang sebelumnya pernah kontak dengan ayam yang mati mendadak diduga terkait flu burung.

Kepala Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul Maya Sintowati Pandji menjelaskan bahwa pengamatan terhadap sembilan warga tersebut dilakukan menyusul beberapa warga sekitar yang suspect flu burung memiliki riwayat pernah mengubur ayam yang mati mendadak. ”Pengamatan kami lakukan sekitar 14 hari sejak ditemukan gejala kasus flu burung pada 1 September. Ini sebagai bentuk kewaspadaan dini antisipasi penyebaran penyakit flu burung,” katanya.

Untuk saat ini, lanjut dia, untuk suspect flu burung masih belum ada penambahan. “Masih ada tiga orang suspect, dua di antaranya dirawat di RSUP Dr Sardjito dan seorang lagi dirawat di rumah,” kata Maya,kemarin. (Akrom Hazami)

Sumber : Antara