Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Monday, 19 February 2018
2

EDISI 2

Senin, 31 Mei 2010


EDITORIAL - Ecohealth

GALERI - Alternatif Aplikasi Multi Criteria Analysis (MCA) dalam Kebijakan Kontrol Penyakit Hewan

OPINI - Ecohealth: Pendekatan Istimewa untuk Keseimbangan Bersama

ARTIKEL - Apakah itu Conservation Medicine?

FOKUS - Pergantian inang (Host Switching)

Download PDF

 

Ecohealth

Oleh: Albertus Teguh Muljono

 

Umat manusia menghadapi berbagai tantangan yang membutuhkan solusi global. Salah satu tantangan tersebut adalah penyebaran penyakit-penyakit infeksius yang baru muncul atau muncul kembali (emerging and re-emerging diseases).  Konsekuensi yang mungkin timbul dari penyakit-penyakit infeksius yang baru muncul tersebut adalah munculnya bencana besar bagi umat manusia.  Sebagai contoh HPAI H5N1 telah mengakibatkan kerugian ekonomi sebesar USD 20 miliar, dan jika menjadi pandemi maka kerugian ekonomi dunia akan mencapai sekitar USD 2 triliun.  Oleh karena itu, investasi dunia dalam strategi pengendalian dan pencegahan HPAI H5N1 sangat tinggi. Tujuannya adalah mencegah bencana besar yang mungkin terjadi.  Usaha tersebut telah berhasil menghilangkan kasus AI di 50 negara dari 63 negara terinfeksi, walaupun di beberapa negara HPAI H5N1 masih menjadi masalah besar dan masih berpontensi untuk memicu pandemi.

The environment is everything that isn’t me.  Demikian Albert Einstein secara sederhana mendefinisikan environment atau “lingkungan”. Dengan kata lain, lingkungan adalah semua hal selain manusia.  Perubahan hubungan antara manusia dengan lingkungannya akhirnya akan mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan manusia itu sendiri.  Timbulnya penyakit-penyakit infeksius yang baru muncul atau muncul kembali (emerging and re-emerging diseases) merupakan salah satu akibat negatif dari perubahan hubungan antar hewan, manusia dan lingkungan dimana mereka hidup dan tinggal.  Kondisi ini adalah hasil dari berbagai kecenderungan antara lain seperti pertumbuhan populasi manusia dan ternak yang sangat pesat, tingginya tingkat urbanisasi, perubahan sistem pertanian, semakin dekatnya batas antara satwa liar dan ternak, exploitasi hutan, perubahan ekosistem dan pemanasan global, serta perdagangan hewan dan produk asal hewan di era globalisasi.

Dengan kesadaran akan keterkaitan erat antara perubahan lingkungan dan kesehatan manusia, maka satu dekade belakangan ini komunitas global menganggap penting untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia dengan menciptakan lingkungan dan ekosistem yang sehat.  Untuk mencapai itu maka dibutuhkan pendekatan integral dan lintas disiplin yang melibatkan baik ilmu-ilmu ecologi maupun ilmu-ilmu kesehatan. Upaya-upaya ini yang kemudian terkelompok menjadi berbagai bendera seperti ecohealth, one world one health, conservation medicine, global change and human health, dll.  Secara umum, semua kelompok tersebut bertujuan untuk lebih memahami hubungan antara lingkungan, sosial, kesehatan, dan bagaimana pada akhirnya mengarahkan perubahan sosial dan ekosistem tersebut untuk mewujudkan kesehatan dan kesejahteraan umat manusia.

Kembali ke Atas | Galeri | Opini | Artikel | Fokus

 

Multi Criteria Analysis (MCA) dalam Kebijakan Pengendalian  Penyakit Hewan

Oleh: Andri Jatikusumah

 

Apakah itu Multi Criteria Analysis?

Membuat suatu kebijakan adalah suatu proses yang kompleks, dalam prosesnya cenderung menimbulkan konfliks dan membutuhkan kecekatan dan ketepatan sehingga tercipta suatu kebijakan yang berpihak pada masyarakat.  Kebijakan yang akan dibuat  dalam melakukan pencegahan, pengendalian atau pemberantasan penyakit hewan, seharusnya didasarkan pada pertimbangan keilmuan seperti epidemiologi, nilai-nilai sosial dan budaya dan ekonomi.   Setiap stake holder (SH) yang terlibat dengan suatu kebijakan mempunyai tujuan yang berbeda dan melihat suatu permasalahan dari perspektif masing-masing kepentingan.  Keadaan ini membuat pengambil keputusan/kebijakan harus peka, cermat dan tepat dalam melihat berbagai keinginan dan tujuan dari setiap SH.   Suatu bentuk analisis yang sering digunakan dalam membantu pembuat kebijakan/keputusan untuk mengatasi permasalahan seperti ini adalah Multi Criteria Analysis (MCA).

MCA atau juga dikenal sebagai Multi Criteria Decision Analysis (MDCA) atau Multi Objective Decision Making (MOCM) adalah suatu analisis dalam pengambilan keputusan untuk menetapkan alternatif terbaik dari sejumlah alternatif berdasarkan beberapa kriteria tertentu.  Analisis ini bertujuan agar kebijakan yang akan dibuat paling baik untuk memenuhi  kepentingan umum.  Aplikasi MCA diharapkan dapat membantu pembuat kebijakan/keputusan dalam memilih kebijakan yang paling baik dan memenuhi semua kebutuhan SH.

 

Aplikasi Multi Criteria Analysis

Aplikasi MCA sering digunakan dalam riset dan manajemen ilmu pengetahuan.  Di Negara-negara Uni Eropa (UE), MCA mulai sering digunakan pada kebijakan yang bersifat bottom up, adanya hasil temuan yang bersifat ilmiah yang berpengaruh terhadap kepentingan publik (contoh : ditemukan  zat baru yang bersifat toksik dan mengancam kesehatan masyarkat, dsb), kebijakan dalam isu-isu konservasi atau lingkungan, serta keputusan atau kebijakan lain yang banyak melibatkan banyak SH.  Aplikasi MCA secara umum akan meningkatkan kualitas suatu kebijakan dan tranparansi kebijakan karena menuntut keterlibatan SH.

Tujuan umum dari MCA adalah membantu pembuat kebijakan/keputusan untuk memikirkan suatu kebijakan/keputusan yang akan dibuat tetapi bukan untuk membantu pembuat kebijakan/keputusan memutuskan suatu kebijakan/keputusan.  Teknik MCA akan menyederhanakan berbagai macam kepentingan dan tujuan SH dengan cara mengubah preferensi masing-masing SH kedalam bentuk data yang lebih mudah dikelola sehingga mempermudah penilaian dan analisa.  Analisa MCA pada akhirnya akan menentukkan suatu pilihan berdasarkan  berbagai pilihan dari berbagi alternatif yang ada.

 

Tahapan dalam Multi Criteria Analysis

Dua metode yang paling sering digunakan dalam analisa MCA adalah Simple Linear Evaluation Method dan Concordance Analysis Method.  Metode Simple Linear Evaluation dilakukan dengan cara mengkombinasi berbagai kriteria kedalam suatu skor dengan cara mengkalikan dengan pembobotan untuk setiap kriteria.  Metode ini adalah metode yang paling sederhana dan metode yang paling  intuitif dari berbagai metode yang ada.  Skor pada metode ini didasarkan pada skala kriteria yang dibuat oleh peneliti yang didasarkan pada preferensi SH.

Metode Concordance Analysis adalah suatu metode evaluasi dimana setiap alternatif dilakukan rangking didasarkan pada rata-rata perbandingan dengan kriteria yang diinginkan.

Secara Umum Tahapan dalam Analisa MCA meliputi 5 tahap, yaitu:

Tahap 1. Definisi dari Suatu Kebijakan

Tahap ini dimulai dengan melakukan inventarisasi dari suatu rencana atau aksi implementasi atau elemen-elemen yang dapat dilakukan perbandingan dimana penilaian dapat dibuat.

Membuat berbagai alternatif dari suatu rencana dapat dilakukan dengan melihat standar yang telah dibuat, sebagai contoh di Negara-negara UE tindakan suatu negara terhadap suatu penyakit menular yang masuk ke daerah regional UE, UE mempunyai ketetapan atau standar dalam melakukan tindakan pencegahan seperti stamping out pada kelompok ternak yang terdeteksi penyakit, dan melakukan tindakan surveilans dalam waktu tertentu dan berbagai alternatif tambahan lainnya dalam melakukan kontrol seperti

  1.  pre-emptive slaughter, yaitu melakukan eliminasi pada peternakan dengan radius tertentu sekitar daerah terinfeksi  untuk membatasi proses penyebaran penyakit.  Tindakan ini biasanya adalah untuk mencapai keadaan bebas penyakit kembali sehingga akan mencabut larangan ekspor ke suatu Negara (dinyatakan bebas penyakit 3 bulan setelah eliminasi hewan terakhir yang terdeteksi)
  2. Melakukan vaksinasi dengan vaksinasi inaktif pada peternakan dengan radius tertentu sekitar daerah terinfeksi untuk  membatasi proses penyebaran penyakit.  Vaksinasi dilakukan sebagai upaya untuk menekan penyebaran penyakit, yang kemudia semua hewan yang divaksinasi akan dieliminasi segera setelah epidemic dapat dikendalikan (dinyatakan bebas penyakit 3 bulan setelah eliminasi hewan yang terdeteksi atau divaksinasi)
  3. Melakukan vaksinasi dengan vaksin aktif pada peternakan dengan radius tertentu sekitar daerah terinfeksi untuk  membatasi proses penyebaran penyakit.  Semua hewan yang divaksin tidak diperbolehkan keluar dari peternakan sampai dengan epidemic terkendali (dinyatakan bebas penyakit 6 bulan setelah eliminasi hewan terakhir yang terdeteksi).

 

Tahap 2. Definisi Kriteria Penilaian

Definisi suatu kriteria sangatlah penting, definisi kriteria harus menjadi perhatian sehingga definisi dapat dilakukan dengan benar dan tidak menimbulkan pertanyaan.  Kriteria merupakan refleksi dari preferensi pembuat kebijakan.

Dalam proses penilaian dalam suatu studi MCA hal yang paling utama adalah keterlibatan dari SH dalam melakukan definisi dari suatu kriteria dan melakukan pembobotannya.  Jika seorang peneliti terlalu dalam terlibat, maka hasil analisa tersebut dianggap kurang mempunyai kredibilitas.  Dengan kata lain ketika SH melakukan partisipasinya diharapkan dapat memberikan definisi kriteria sehingga suatu penilaian kriteria disepakati menurut preferensi SH.

Dalam Tahap ini, tim evaluasi harus memeriksa kembali kriteria yang dipilih oleh SH apakah secara logis dapat diterima dan bersifat independen diantara satu dan yang lainnya.

 

Tahap 3. Analisa Dampak dari Suatu Kebijakan atau Keputusan

Ketika suatu kebijakan atau keputusan akan dibuat, maka estimasi yang bersifat kuantitatif dan deskripsi kualitatif terhadap dampak suatu kebijakan harus bisa diperkirakan atau diprediksi, dan diperhitungkan.

Berdasarkan penilaian suatu kriteria dan tindakan, tim evaluasi membuat suatu evaluasi dalam bentuk Matriks MCA.  Matrik ini adalah suatu tabel dengan kolom sesuai banyaknya kriteria dan baris sesuai ukuran yang kita ingin perbandingkan.  Setiap sel mewakili suatu bentuk evaluasi dari suatu kriteria berdasarkan ukuran yang telah ditentukan.  MCA memerlukan evaluasi dari semua kriteria yang ada.

Hal selanjutnya adalah mengidentifikasi siapa yang akan terkena dampak dari sebuah keputusan.  Pada tahapan inilah SH akan teridentifkasi dan merupakan salah satu hal yang paling utama dalam memberikan kontribusi preferensi dan kriteria dari setiap perspektif masing-masing SH terhadap sebuah keputusan atau kebijakan yang akan dibuat.

SH adalah semua orang atau pihak yang yang akan terkena dampak dari sebuah kebijakan atau keputusan.  SH ini diharapkan memberikan kontribusi langsung terhadap kebijakan yang akan dibuat sehingga menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.  Dalam hal pengendalian penyakit hewan keputusan yang dibuat oleh Chief Veterinary Authority (CVO) selain didasarkan pada epidemiologi suatu penyakit, sosial kultur dan dampak terhadap ekonomi.  Keputusan atau kebijakan yang akan dibuat juga diharapkan didasarkan pada preferensi semua SH yang terlibat.

 

Tahap 4 . Penilaian Efek dari suatu Kebijakan (Aksi) Berdasarkan Kriteria yang Terpilih

Tujuan pada tahap ini adalah melakukan evaluasi dampak dari suatu kebijakan atau aksi.  Proses analisa dampak harus didasarkan pada data kuantitatif atau pandangan subjektif ahli dan evaluasi dari SH.  Dalam kenyataannya tekhnik ini biasa melakukan kombinasi faktual dan dampak dari suatu kebijakan atau aksi dilihat dari cara pandang SH utama yang terlibat dari suatu kebijakan.

Dalam melakukan pengumpulan cara pandang dari SH, tim evaluasi atau peneliti akan melakukan wawancara individu atau wawancara kelompok dengan pertimbangan bahwa cara pandang mereka dianggap adalah penilaian yang paling relevan dalam menilai suatu aksi.

 

Tahap 5. Agregasi (pengumpulan) Penilaian

Tahapan selanjutnya adalah proses pengumpulan atau agregasi penilaian yang dilakukan berbagai SH biasanya dibantu oleh sebuah program komputer untuk melihat hubungan suatu tindakan dengan alternatif yang lain.  Terdapat 3 pendekatan yang berbeda dalam proses agregasi penilaian, yaitu:

  1. Penilaian secara personal : Perbedaan suatu penilaian tidak dapat disatukan. Setiap penilaian merupakan bentuk penilaian secara personal berdasarkan analisa dan cara pandang masing-masing personal.
  2. Perangkingan penilaian: Penilaian yang berbeda dapat dilakukan perangkingan (dapat menggunakan program komputer).  Klasifikasi akan dilakukan terhadap suatu penilaian dengan penilaian lainnya berdasarkan skor yang paling baik dari kriteria-kriteria yang paling utama.
  3. Pembobotan kriteria:  Pembobotan kriteria di ajukan oleh peneliti/atau tim evaluasi.  Hasilnya kemudian dirangking berdasarkan pembobotan.  Pembobotan kriteria tergantung pada perbedaan kriteria skor dan bagaimana pengaruh dari suatu kriteria terhadapa SH.  Sebagai contoh dalam hal kebijakan yang berhubungan pengendalian penyakit.  Sebagian besar SH berpendapat bahwa lamanya epidemi adalah kriteria yang penting sehingga pembobotan dari kriteria bagi sebagain besar SH akan diberikan bobot besar.  Dalam tahap ini setiap SH diminta untuk melakukan penilaian (berupa pembobotan) berdasarkan subjektifitas masing-masing SH.

Tujuan dari analisa ini adalah sebagai alat bantu untuk membuat kombinasi secara terstruktur berbagai perbedaan dalam mengambil kebijakan dengan melihat penilaian SH terhadap suatu masalah sebelum pengambil kebijakan memberikan keputusan kepada publik.

Metode MCA banyak dipraktekkan di UE, disebabkan negara UE terdiri dari berbagai negara (SH) dengan berbagai macam kepentingan dari setiap negara.  Salah satu bentuk kebijakan yang banyak melibatkan SH adalah kebijakan dalam kesehatan hewan karena secara langsung atau tidak langsung akan berdampak terhadap publik, sosial kultur serta ekonomi.

Negara UE dalam UE projek melakukan studi MCA untuk melakukan evaluasi berbagai strategi alternatif terhadap penyakit yang bersifat eksotik bagi UE seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Classical Swine Fever (CSF), dan Avian Influenza (AI).

Tantangan yang terjadi saat ini khususnya terkait dengan mengambil kebijakan seperti kebijakan dalam penganggulangan, pengendalian dan pemberantasan suatu penyakit hewan saat ini menuntut keterlibatan SH yang akan merasakan dampak dari suatu kebijakan tersebut.  MCA adalah satu alat bantu untuk membantu pengambil keputusan dalam membuat kebijakan yang berpihak pada masyarakat sehingga kebijakan akan berkualitas, transparan dan mempertimbangkan kepentingan SH yang terlibat yang didasarkan pada ilmu pengetahuan dan mempertimbangkan sisi epidemiologi, sosial kultur dan ekonomi

 

Bahan Bacaan

Multi Criteria Analysis of Aternative Strategies to Control Contagious Animal Diseases By
M.C.M. Mourits and M.A.P.M Van Asseldonk.

Evaluating Socio Economic Development, SOURCEBOOK 2: Methods & Techniques Multi-criteria analysis
http://ec.europa.eu/regional_policy/sources/docgener/evaluation/
evalsed/sourcebooks/method_techniques/evaluating_alternatives/
multi_criteria/index_en.htm

Kembali ke Atas | Editorial | Opini | Artikel | Fokus

 

OPINI

Ecohealth:  Pendekatan Istimewa untuk Keseimbangan Bersama

Oleh:  M.D. Winda Widyastuti

 

Saya menganggap bahwa konsep ecohealth adalah suatu hal sederhana pada mulanya, yaitu bagaimana mewujudkan kesehatan manusia dengan tanpa melupakan lingkungan sekitar kita.  Namun ternyata tidak sesederhana itu saja. Dibutuhkan cara pandang istimewa untuk bisa memahaminya  dan pendekatan istimewa untuk mengimplementasinya.  Cara pandang istimewa ini menuntut kita untuk rela sejenak meninggalkan diri kita dan memandang dari luar, bahwa ternyata ada keterkaitan erat dalam sebuah ekosistem dimana kita sebagai manusia yang juga dokter hewan dan lingkungan menjadi bagian di dalamnya.  Dan di dalam keterkaitan itu banyak faktor lain di luar ekosistem itu sendiri (manusia-hewan-tumbuhan, agen penyakit dan lingkungan) yang dapat berperan dan berpengaruh terhadap keberhasilan implementasi konsep ecohealth tersebut; antara lain kerjasama multidisiplin ilmu dan lintas sektoral, kondisi ekonomi-sosio-kultural masyarakat, faktor alam dan infrastruktur maupun kebijakan pendukung.

 

Pendukung Konsep “One Health

Konsep lama yang kembali didengungkan dalam kurun waktu lima sampai sepuluh tahun terakhir ini sungguh dekat dengan “one health”, dan bahkan dikatakan bahwa “ecohealth” memperluas konsep “one health”.  Inti peran profesi kedokteran hewan, kedokteran manusia dan kesehatan masyarakat dikemukakan sebagai pilar prinsip “one health”, sedangkan dalam konsep “ecohealth” mulitidisiplin ilmu lain ikut dilibatkan, antara ahli bidang lingkungan dan ekonomi-sosio-kultural.  Kedua konsep tersebut jelas telah terbukti berhasil dalam penanganan berbagai penyakit zoonosis di dunia, meskipun dalam tataran operasional banyak sekali kendala yang dihadapi dan tidak semudah yang dibayangkan.  Sebut saja KOMNAS FBPI sebagai contoh lembaga yang dibentuk dengan melibatkan berbagai departemen untuk pengendalain penyakit avian influenza.  Lembaga tersebut dibentuk dengan melibatkan peran lintas sektoral termasuk di dalamnya profesi kedokteran hewan dan kedokteran manusia.  Dalam pelaksanaan di lapangan, selain dua profesi utama tersebut, maka berbagai pihak ikut terkait, termasuk berbagai dinas teknis terkait serta pemerintah daerah beserta aparaturnya.

 

Peran Dokter Hewan

Sebagai dokter hewan yang mempunyai kemampuan istimewa, Saya berpendapat bahwa kita mampu memandang dengan cara yang istimewa.  Seperti pepatah “banyak jalan menuju Roma”, maka pendekatan ecohealth adalah  jalan istimewa untuk mencapai tujuan utama dokter hewan sesuai sumpahnya: mewujudkan kesehatan hewan demi kesejahteraan manusia (manusya mriga satwa sewaka).

Dengan kompetensi yang dimiliki, seorang dokter hewan mampu mengidentifikasi suatu kondisi tidak seimbang yang disebabkan oleh suatu penyakit yang bersumber dari hewan dan berpengaruh terhadap kesehatan manusia.  Tujuan selanjutnya bukan semata bagaimana menangani atau mengobati kondisi tersebut, melainkan bagaimana mencegah agar kondisi serupa tidak terjadi tanpa melupakan faktor lain baik yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh.

Dalam konsep “ecohealth”, seorang dokter hewan dituntut untuk tidak meng’istimewa’kan dirinya sebagai satu-satunya orang atau profesi yang paling mengerti dan mampu menyelesaikan permasalahan tersebut.  Jika hal itu terjadi, maka untuk mencapai tujuan tersebut seringkali (meskipun tidak berarti selalu) tidak memperhatikan sisi atau kondisi lain yang sebenarnya terkait erat, misalnya kondisi ekonomi, sosial dan kultur dari masyarakat, atau kondisi dari alam dan  lingkungan sekitar.  Kerjasama berbagai bidang disiplin ilmu wajib diterapkan untuk saling mendukung dalam menemukan jalan keluar terbaik.  Tentunya, masing-masing pihak mempunyai peran sama pentingnya sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.

Sebut saja pengendalian penyakit Anthraks sebagai contohnya.  Selain diperlukan keahlian dokter hewan yang mengerti benar agen penyebab Anthrax dan bagaimana cara menanggulangi penyakit tersebut, diperlukan juga kompetensi dari ahli tanah untuk mempelajari struktur tanah di lingkungan tersebut, diperlukan ahli sosial untuk mengetahui seberapa jauh sebenarnya masyarakat mempunyai alasan untuk peduli atau sama sekali tidak terpengaruh dengan kejadian Anthrax di sekitarnya, ahli ekonomi veteriner untuk mengetahui seberapa besar kerugian yang diterima masyarakat karena penyakit tersebut dalam skala kerugian yang paling kecil sekalipun; atau keahlian-keahlian lain yang dibutuhkan untuk mendukung pencarian solusi masalah.

 

Berbasis Masyarakat

Implementasi suatu konsep ecohealth memang seharusnyalah digali, dibangun, dikembangkan dan diwujudkan dengan berbasis pada masyarakat.    Dengan mengedepankan masyarakat untuk ikut berperan dari awal dalam mengidentifikasi permasalahan maka mereka akan merasakan bahwa masalah itu adalah milik mereka dan selanjutnya keinginan untuk mencari solusinya juga akan muncul dari mereka sendiri. Pada akhirnya nanti, semua pakar atau ilmuwan termasuk dokter hewan diharapkan hanya akan berperan sebagai fasilitator atau konsultan setelah program berjalan.  Kecuali untuk melakukan kewenangan penanganan medis, maka profesi dokter hewan atau dokter manusia tetap menjadi yang terdepan.  Jadi, dalam konsep ecohealth, masyarakat sebagai objek dari sebuah kejadian penyakit zoonosis pada akhirnya akan diharapkan menjadi bagian subjek untuk melaksanakan pengendalian penyakit tersebut dengan dukungan dan fasilitasi dari para ahli yang ada.

Pendekatan dengan berbasis masyarakat sudah sangat umum digunakan oleh para pemerhati lingkungan.  Konflik pemanfaatan atau pengolahan sumber daya alam yang tidak benar senhingga berpengaruh terhadap keseimbangan lingkungan biasanya dilakukan oleh masyarakat dengan alasan ekonomi.  Maka pendekatan dilakukan dengan cara menggugah masyarakat mencari solusi alternatif atau membimbing masyarakat dalam pemanfaatan lahan atau sumber daya alam dengan benar sehingga mendatangkan keuntungan secara ekonomi tetapi proses merawat alam pun tetap berjalan.

Pendekatan berbasis masyarakat untuk pengendalian penyakit zoonosis tidaklah semudah dan sesederhana yang kita bayangkan.  Tahapannya akan tetap sama, yaitu dengan melibatkan masyarakat dari awal identifikasi masalah hingga pelaksanaan program untuk menyelasaikan masalah tersebut.  Detail lebih jelas diperlukan untuk memberikan masyarakat bukti nyata bahwa pengaruh satu faktor saja dari suatu penyakit zoonosis sebenarnya telah memberikan dampak besar buat mereka.   Perhitungan ekonomi yang selalu digunakan masyarakat untuk membandingkan untung-ruginya melakukan sesuatu sebaiknya dicoba sebagai suatu jalan pendekatan juga, oleh karena itu diperlukan juga perhitungan ekonomi-veteriner untuk mendukung hal tersebut.

Ada penyakit zoonosis yang berdampak ekonomi global sehingga kerugian ekonomi dapat dirasakan secara nyata, misalnya Avian Influenza yang melumpuhkan berbagai sektor peternakan, penyakit Anthrax yang membunuh ternak kerbau, atau penyakit brucellosis yang menyebabkan kerugian ekonomi besar bagi peternak sapi.  Lalu bagaimana dengan Salmonellosis yang mungkin hanya menyebabkan diare yang bisa jadi dianggap hal biasa saja bagi masyarakat?  Bagaimana dengan penyakit Antharx tipe kulit yang membuat masyarakat merasa tidak perlu khawatir karena dapat diselesaikan dengan mendapatkan antibiotika dari apotek setempat?  Bagaimana dengan Rabies yang mungkin ditakuti tetapi dampak nyatanya hanya dirasakan oleh keluarga-keluarga yang ditinggalkan korban?

 

Indonesia dan Konsep Ecohealth

Indonesia dengan keberagaman kekayaan alam termasuk flora dan fauna (topografi daerah, tumbuhan, hewan, mikroorganisme) serta dengan keberagaman kultur masyarakat, menurut pendapat Saya merupakan sasaran tepat untuk penerapan konsep ecohealth.  Dengan berbagai kompetensi keahlian yang dimiliki oleh Indonesia, maka pencapaian tujuan akhir melalui konsep ecohealth tersebut bukanlah hal mustahil untuk dilakukan.  Pemerintah Indonesia sendiri sudah menyepakati untuk ikut serta aktif mengkampanyekan dan melaksanakan konsep ecohealth bersama lima negara lain  di wilayah Asia Tenggara, yaitu Vietnam, Laos, Chambodia, Thailand dan China.  Kesepakatan tersebut telah dinyatakan dalam rapat APEIR (Asian Partnership Emerging Infectious Disease Research) di Khuming, China, pada 19 Januari 2010.  Selanjutnya, apakah kesepakatan tersebut akan ditindaklanjuti dalam bentuk implementasi inisiasi kegiatan yang nyata?  Jawabannya ada pada kita sendiri, terutama sebagai pribadi dokter hewan yang mempunyai tanggung jawab moril untuk peduli dan berperan dalam pemberantasan penyakit zoonis demi kesejahteraan bersama.
Kembali ke Atas | Editorial | Galeri | Artikel | Fokus

 

Apakah Itu Conservation Medicine?

Oleh: Riana Aryani Arief

 

Conservation medicine, atau medik konservasi, merupakan istilah yang umum digunakan akhir-akhir ini. Banyak orang beranggapan bahwa medik konservasi merupakan istilah untuk tindakan kedokteran terkait konservasi, tetapi apakah pengertiannya memang sesederhana itu?

Menurut Consortium for Conservation Medicine (2010), medik konservasi merupakan bidang ilmu multidisiplin yang mempelajari hubungan antara manusia, hewan, lingkungan, dan patogen. Sasaran utama medik konservasi adalah mencapai kesehatan ekosistem dan semua komponen yang ada di dalamnya (Aguirre et al. 2002). Untuk mencapai hal tersebut, perlu dipahami interaksi antara:

  1. Perubahan iklim, struktur habitat, dan penggunaan lahan yang terjadi secara alami maupun akibat perbuatan manusia
  2. Patogen, parasit, dan polutan
  3. Keanekaragaman dan kesehatan hewan, baik liar maupun domestik
  4. Dan kesehatan manusia.

Oleh karena itu, medik konservasi melibatkan ahli-ahli dari berbagai bidang seperti kedokteran umum, kedokteran hewan, habitat, sosial, biologi, kimia, dan bidang-bidang lainnya yang terkait dengan masalah yang dihadapi. Yang terpenting, medik konservasi tidak hanya mempelajari masalah yang timbul tetapi juga memberikan solusi praktis untuk mengatasi penyebabnya (Schloegel & Daszak 2004).

 

Konservasi pada awalnya hanya bertujuan untuk melestarikan atau mengelola alam dan flora dan fauna didalamnya untuk mencegah eksploitasi, hilangnya habitat, dan kepunahan spesies, namun dengan perkembangan dunia saat ini para ahli sadar bahwa konsep itu teramat dangkal. Berbagai perbuatan manusia seperti intensifikasi peternakan, penggunaan antibiotik secara berlebihan, polusi, introduksi spesies baru, fragmentasi habitat, pembukaan lahan baru, dan perubahan iklim mempengaruhi dan mengubah keseimbangan ekologi inang – patogen di dunia. Hasilnya timbullah emerging dan re-emerging diseases, seperti SARS, Monkeypox, West Nile virus, Avian Influenza, dan penyakit-penyakit lainnya. Penyakit-penyakit yang timbul tidak hanya terbatas kepada penyakit hewan atau manusia saja, tetapi banyak penyakit baru yang timbul merupakan zoonosis. Bahkan 75% penyakit infeksius baru pada manusia merupakan penyakit zoonosis. Dengan kemunculan berbagai penyakit dan masalah kesehatan pada hewan dan manusia akibat perubahan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas manusia, interaksi dari berbagai komponen dalam ekosistem tidak lagi dapat diabaikan dan muncullah konsep Medik Konservasi (Schloegel & Daszak 2004; CCM 2010).

Selain Medik Konservasi, terdapat juga konsep-konsep lain seperti Ecohealth dan One World One Health yang berkembang akibat munculnya berbagai penyakit pada manusia dan hewan. Meskipun demikian, secara prinsip semuanya mengakui bahwa perlu pendekatan yang lebih holistik terhadap kesehatan di dunia. Semua makhluk yang hidup di bumi merupakan bagian dari ekosistem bumi dan secara langsung maupun tidak langsung akan saling mempengaruhi, oleh karena itu jangan lagi kita hanya melihat melalui kotak bidang ilmu masing-masing, tetapi lihatlah dunia sebagai suatu kesatuan ekologi yang mencakup manusia, hewan, tumbuhan, dan segenap isi bumi lainnya.

 

Bahan Bacaan:

Aguirre AA, Ostfeld RS, Tabor GM, House C, Pearl MC. 2002. Conservation Medicine:
Ecological Health in Practice. Oxford University Press: New York.

Consortium for Conservation Medicine [CCM]. 2010. What is Conservation Medicine?. http://www.conservationmedicine.org/wcm.htm. [22 April 2010]

Schloegel LM dan Daszak P. 2004. Conservatino Medicine: Tackling the Root Causes of Emerging
Infectious Diseases and Seeking Practical Solutions. Wildlife Tracks Volume 8, Number 4 2004: 2-7

University of Western Ontario [UWO]. 2002. Ecosystem Health: Overview. http://www.schulich.uwo.ca/ecosystemhealth/activities/
shortcourse/2003/overview.htm. [23 April 2010]

 

Kembali ke Atas | Editorial | Galeri | Opini | Fokus

 

FOKUS

Pergantian inang (Host Switching) – bidang penelitian yang sangat penting dan genting!!

diadaptasi dari Martin Jeggo and Deborah Middleton. Host Swicthing-a critical area for research. The One Health Newsletter. Volume 2 Issue 4. Fall 2009.

Oleh: Albertus Teguh Muljono 

 

Pendahuluan

Patogen didefinisikan sebagai agen biologis penyebab penyakit pada inangnya, baik mulai dari menyebabkan sakit ringan sampai menimbulkan kematian. Saat ini, kegentingan penelitian-penelitian mengenai patogen bukan hanya dari sisi kemampuan patogen untuk menginfeksi inang, namun juga dilihat dari sisi kemampuan inang untuk bertahan dari infeksi patogen yang mengakibatkan penyakit.

Sebagian kelompok patogen tidak bersifat pemilih atau tidak selektif terhadap inangnya, seperti sebagian besar bakteri gram positif, sedangkan kelompok patogen yang lain sangat selektif dan hanya terbatas memilih beberapa spesies sebagai inangnya, seperti virus African Horse Sickness yang hanya menginfeksi equine. Apa yang mengendalikan spesifisitas inang suatu patogen belum banyak dipahami, dan bagaimana suatu patogen melakukan pemilihan inang adalah suatu hal yang lebih tidak dipahami.

Suatu patogen yang dapat menginfeksi lebih dari satu spesies inang dapat dipastikan mempunyai keuntungan dalam bertahan hidup, namun banyak juga patogen yang dapat bertahan hidup dengan baik hanya dengan bertahan dalam satu spesies tertentu.  Namun demikian terdapat banyak patogen-patogen yang mengambil spesies-spesies baru sebagai inang barunya.  Fenomena ini sering terjadi pada kelompok patogen virus dan umumnya menyebabkan dampak yang sangat merusak pada inang barunya. Contohnya adalah meloncatnya virus defisiensi imun dari monyet ke manusia yang sekarang dikenal luas dengan sebutan HIV-AIDS pada tahun 1950. Selain itu juga terdapat beberapa penemuan yang cukup mengkhawatirkan belakangan ini seperti virus Reston Ebola di Filipina pada tahun 2008.

 

Apa itu pergantian inang?

Istilah pergantian inang digunakan untuk menggambarkan kemunculan suatu patogen pada inang yang baru dimana sebelumnya pada inang ini tidak pernah ditemukan kejadian infeksi oleh patogen tersebut.  Jika melihat secara khusus pada kelompok patogen virus maka terdapat beberapa contoh pergantian inang yang ditemukan baru-baru ini adalah infeksi virus nipah pada babi di malaysia, virus nipah pada manusia di Bangladesh, virus Hendra pada kuda, dan virus menangle pada babi di Australia, SARS pada musang di China.  Contoh lain seperti virus Ebola membuktikan bahwa identifikasi reservoir alami juga menjadi suatu hal yang sangat sulit untuk diketahui.  Selain itu masih banyak contoh patogen lain yang ditemukan hidup dalam inang kelelawar tanpa menyebabkan penyakit pada kelelawar tersebut. Yang lebih menarik adalah bahwa patogen-patogen tersebut telah hidup lama, tenang dan nyaman pada inang kelelawar tanpa perlu untuk mencari inang baru.

 

Mengapa pergantian inang penting?

Penyakit baru muncul dan muncul kembali (emerging and re-emerging diseases) sangat beresiko baik pada manusia maupun hewan, dan 70% penyakit baru pada manusia berasal dari hewan.  Pergantian inang yang dilakukan suatu organisme patogen dari satu inang ke inang yang lain dapat terjadi karena patogen tersebut secara ekologi memiliki kemampuan serta memiliki kesempatan yang membuat hal tersebut terjadi.  Jika kita ingin mengendalikan resiko kejadian penyakit emerging and re-emerging dan mengembangkan strategi mitigasi yang efektif maka hal penting yang harus kita pahami pertama kali adalah dasar mekanisme ekologi patogen tersebut, termasuk mekanisme ekologi molekulernya dalam menginfeksi inang dan menyebabkan penyakit.

 

Apa yang perlu kita tahu?

Penjelasan mengenai pergantian inang dapat dimengerti dengan mengacu pada teori evolusi darwin.  Berdasarkan teori mutasi acak maka dalam suatu kelompok patogen akan terdapat bentuk patogen baru yang mengandung karakteristik yang mampu menginvasi dan hidup di inang baru.  Dalam konteks ini, kelompok patogen virus yang mempunyai kemampuan membongkar pasang secara genetik dan berkembang biak dengan sangat cepat akan dengan mudah bermutasi terus menerus.  Faktor lain yang menyediakan kesempatan bagi suatu patogen untuk berinteraksi dengan inang baru banyak ditemukan pada penyakit-penyakit yang berasal dari kelelawar.  Praktek pertanian dan peternakan intensif telah membantu terjadinya evolusi patogen dengan menyediakan banyak alternatif inang baru dengan jumlah populasi yang tinggi.  Kondisi ini telah meningkatkan kemampuan hidup patogen dan memberi kesempatan bagi patogen untuk mencoba berbagai alternatif inang baru.  Salah satu contohnya adalah replikasi virus SARS pada musang yang secara kebetulan mendorong meningkatnya kemampuan adaptasi virus tersebut terhadap receptor SARS manusia dan akhirnya meningkatkan patogenesitasnya pada manusia.

Berbagai pertanyaan tersisa.  Apakah virus mempunyai proses yang tetap dalam meningkatkan kemampuannya untuk mengembangkan karakteristik baru, seperti protein pelekat pada sel inang baru, yang memicu pergantian inang? Dan apakah kemampuan tersebut dimiliki oleh semua virus atau virus tertentu saja?  Interaksi macam apa yang dapat membatasi rentang inang (host range) suatu virus?  Tidak hanya kemampuan patogen virus untuk menginvasi sel inang tapi juga terdapat serangkaian interaksi antara virus dan sel inang yang sangat kompleks sebelum pergantian inang tersebut dapat benar-benar terjadi.  Proses seleksi virus terhadap inang baru umumnya berdasarkan pada kemampuan adaptasi virus tersebut untuk menanggulangi mekanisme pertahanan sel inang baru. Keberhasilan beradaptasi virus tersebut akan meningkatkan kemampuannya untuk dapat hidup di sel inang yang baru.  Jelas proses ini adalah proses yang tidak pernah berakhir, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) disebabkan oleh virus yang mempunyai kemampuan bermutasi yang sangat tinggi dan masih terus berevolusi untuk menginvasi respon imun inangnya, yang sampai saat ini kebetulan masih terbatas pada mulut dan kuku.  Apa yang mengendalikan hal ini?  Apakah sebenarnya yang menentukan suatu virulensi?

Timbulnya penyakit emerging and re-emerging adalah kenyataan dalam kehidupan modern saat ini.  Wabah H1N1 tahun lalu serta wabah SARS tahun 2003 merupakan contoh nyata yang menegaskan realitas tersebut. Jika kita berhasil mengurai proses utama yang membuat hal ini terjadi maka kita mempunyai kesempatan untuk dapat mengembangkan strategi untuk menurunkan atau bahkan meniadakan resiko yang mungkin terjadi.  Tanpa memiliki pemahaman mengenai penyebab pergantian inang maka manusia akan terus dihantui oleh resiko timbulnya bencana besar akibat wabah penyakit.
Kembali ke Atas | Editorial | Galeri | Artikel | Artikel