www.civas.net
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Thursday, 14 November 2019
Ibu Tata
Tri Satya Putri Naipospos

Kompartemen Bebas AI dan Implikasinya

Kamis, 22 Agustus 2019

“Penggunaan konsep kompartementalisasi tidak hanya dimaksudkan untuk tindakan-tindakan yang memfasilitasi perdagangan saja, tetapi juga sebagai alat untuk memperbaiki kesehatan hewan melalui biosekuriti yang lebih baik dan mengurangi timbul dan dampak wabah penyakit.”

Salah satu alternatif perdaganga dalam situasi adanya penyakit avian influenza (AI) bagi negara manapun di dunia adalah adanya subpopulasi hewan domestik yang dapat dipisahkan baik melalui regionalisasi (zoning) atau kompartementalisasi. Saat ini dapat dikatakan virus H5 atau H7 dan setiap highly pathogenic avian influenza (HPAI) lainnya merupakan penyakit unggas yang paling penting di dunia, karena menyebabkan disrupsi pasar domestik dan internasional.

Situasi dan status epidemiologi AI di dunia termasuk Indonesia adalah kompleks. Virus-virus AI terus berevolusi secara konstan melalui mutasi dan re-assortment dengan subtipe-subtipe baru, sehingga menjadi ancaman yang signifikan bagi kesehatan manusia maupun kesehatan hewan. Risiko yang ditimbulkan beragam, begitu juga respon di tiap-tiap negara berbeda.

Kasus kematian manusia akibat HPAI H5N1 di Indonesia tidak dilaporkan lagi dalam dua tahun terakhir (2017-2018). Begitu juga kasus pada unggas menurut data Kementerian Pertanian, menunjukkan tren penurunan dari 2.751 kasus pada 2007 menjadi 476 kasus pada 2018. Meskipun demikian belum dapat dikatakan masalah AI di Indonesia secara keseluruhan sudah berakhir. Kasus AI dilaporkan masih terus terjadi di lapangan dengan intensitas rendah dan sporadis.

Para ahli mengatakan sebagai implikasi dari penerapan vaksinasi dan biosekuriti yang ketat, telah terjadi manifestasi klinis dan patologis yang jauh lebih ringan dibandingkan dengan gejala klasik yang menciri pada masa awal HPAI H5N1 muncul di Indonesia. Kenyataan ini menunjukkan bahwa diagnosa semakin sulit dilakukan hanya didasarkan atas pengamatan lapangan. Setiap kasus perlu dikonfirmasi melalui pengujian di laboratorium.

Virus-virus HPAI H5N1 terus bersirkulasi di antara unggas di Indonesia selama 15 tahun terakhir. Dari awalnya virus clade 2.1 yang kemungkinan berevolusi menjadi beberapa subclade. Suatu clade baru generasi keempat yaitu clade 2.3.2.1 terdeteksi dari kasus kematian itik yang tidak biasa di 2012, mengindikasikan adanya introduksi virus HPAI H5N1 eksotik.

Pada 2017, terdeteksi virus low pathogenic avian influenza (LPAI) H9N2, yang datanya tidak begitu terdokumentasi dengan baik, akan tetapi mungkin saja ke depan akan menjadi ancaman endemik zoonotik baru yang tersembunyi.

 

Konsep kompartementalisasi

Saat ini pengendalian AI di Indonesia dititikberatkan pada peningkatan biosekuriti di peternakan, sertifikasi kompartemen bebas AI, dan pemantauan dinamika virus AI yang beredar di lapangan untuk tujuan produksi dan penggunaan vaksin yang efektif.

Pada kenyataannya, sangat sulit bagi negara-negara yang berstatus endemik termasuk Indonesia untuk mendapatkan dan mempertahankan status bebas AI untuk seluruh wilayah negara. Konsep yang lebih dimungkinkan adalah mendapatkan dan mempertahankan status kesehatan hewan yang berbeda bagi suatu kompartemen unggas di dalam batas wilayah negara.

Konsep kompartementalisasi diperkenalkan oleh Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) dipicu oleh munculnya pandemi AI di 2004. Konsep ini didasarkan atas prinsip epidemiologi yang menyatakan bahwa suatu subpopulasi ternak dapat dipisahkan secara efektif dari populasi ternak rentan lainnya, sehingga ternak hidup atau produk yang berasal dari subpopulasi tersebut dapat diperdagangkan secara aman.

Status kesehatan hewan yang berbeda dari subpopulasi tersebut sangat ditentukan oleh manajemen dan praktik biosekuriti yang tinggi. Meskipun demikian, kompartemen bebas AI juga ditentukan oleh faktor-faktor lain seperti epidemiologi spesifik penyakit, sistem produksi ternak, infrastruktur, dan surveilans.

Penerapan kompartemen bebas AI harus didukung secara sah oleh suatu legislasi nasional untuk memungkinkan suatu perusahaan perunggasan mendapatkan pengakuan status kompartemen. Legislasi tersebut harus menyebutkan kewenangan akhir dalam menetapkan, mempertahankan, dan mensertifikasi suatu kompartemen terletak pada Otoritas Veteriner suatu negara.

Pada dasarnya, suatu kompartemen harus ditetapkan secara jelas. Dengan mengindikasikan lokasi di seluruh komponen yang dimilikinya, termasuk peternakan dan begitu juga seluruh unit fungsional yang berkaitan (seperti pabrik pakan, rumah potong, pabrik rendering dan sebagainya), keterkaitannya satu sama lain, dan kontribusinya terhadap pemisahan epidemiologis antar hewan dalam satu kompartemen dan antar subpopulasi dengan status kesehatan hewan yang berbeda.

 

Manfaat Kompartemen Bebas AI

Tidak ada negara di dunia yang dapat menghindar dari masuknya unggas-unggas liar yang kemungkinan membawa virus AI. Begitu juga, adalah tidak mungkin untuk memberantas penyakit AI pada populasi unggas liar. Dengan demikian, bagi penyakit-penyakit yang memiliki reservoir pada spesies liar seperti halnya AI, kompartemen bebas AI memberikan kepada sektor swasta suatu peluang untuk memproteksi investasi mereka dengan membangun pemisahan antara peternakan dan spesies liar.

Kompartemen bebas AI dapat disetujui secara bilateral antara Otoritas Veteriner dari negara/zona pengekspor dan negara/zona pengimpor, sehingga memungkinkan perdagangan terus berlanjut meskipun terjadi perubahan status kesehatan hewan di negara/zona tersebut. Khususnya penting bagi stok bibit unggas, karena penapalan stok tersebut tetap dapat dilakukan meskipun ada kejadian wabah AI di negara dimana perusahaan memiliki fasilitas perbibitan.

Kredibilitas sertifikat kompartemen bebas AI sesungguhnya bergantung kepada kepercayaan mitra bisnis antar negara pengekspor dan negara pengimpor. Untuk lebih meningkatkan kepercayaan terhadap sertifikasi kompartemen bebas AI, maka suatu perusahaan yang telah mendapatkan pengakuan harus mempunyai tanggal persetujuan pengakuan, yaitu tanggal dimana sersertifikat diterbitkan begitu semua lokasi dari kompartemen terlah diinspeksi. Persetujuan masih dapat berjalan sepanjang perusahaan tersebut terus mematuhi skema aturan-aturan yang ada, dan inspeksi ulang telah dilakukan.

Kalau dipelajari apa yang telah dilakukan Pemerintah Inggris, inspeksi ulang suatu perusahaan perbibitan ditetapkan dengan siklus 2 tahunan, dengan 50% dari lokasi kompartemen diinspeksi setiap tahun. Inspeksi ulang terhadap masing-masing kompartemen dimulai 12 bulan setelah sertifikat diterbitkan, dan berlanjut setiap tahun pada tanggal dikeluarkan.

Pemerintah Inggris juga menetapkan pengaturan bahwa tanggung jawab perusahaan adalah mengontak Otoritas Veteriner setiap tahun untuk inspeksi ulang. Setiap perusahaan yang ditemukan tidak melaksanakan inspeksi ulang terhadap semua peternakannya dalam siklus dua tahunan tersebut, maka persetujuannya secara otomatis ditangguhkan.

 

Prasyarat Eskpor

Sebagaimana diketahui, implikasi AI terhadap pasar internasional unggas sangat besar, mencakup kehilangan kepercayaan konsumen, kehilangan daya saing, kehilangan pangsa pasar, kakurangan pasokan, dan disrupsi arus perdagangan.  Pada kejadian dimana terjadi penyakit di suatu wilayah negara, maka kompartementalisasi dapat menjadi suatu cara untuk memungkinkan perdagangan internasional terus dapat dilangsungkan tanpa risiko penyebaran penyakit.

Kompartemen bebas AI pada umumnya diterapkan oleh negara-negara pengekspor besar unggas seperti Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Brazil, Thailand, dan Kolumbia. Inggris adalah negara pertama yang menerapkan ide kompartemen ini kepada perusahaan perbibitan unggas mereka.

Aviagen merupakan perusahaan perbibitan utama di Inggris yang pertama kali mencapai status kompartemen global di 2015. Ini dibuktikan dengan tingginya keuntungan yang diperoleh saat mengekspor stok bibit ayam ke Afrika Selatan dimana Inggris saat itu berada di tengah suasana wabah AI.

Meskipun kompartemtalisasi didesain untuk memungkinkan perdagangan dapat berlanjut dalam kejadian wabah, tetapi keputusan akhir untuk menerima ekspor dalam kejadian wabah AI selalu terletak pada negara penerima/pengimpor. Penggunaan konsep kompartementalisasi tidak hanya dimaksudkan untuk tindakan-tindakan yang memfasilitasi perdagangan saja, tetapi juga menjadi alat untuk memperbaiki kesehatan hewan melalui biosekuriti yang lebih baik dan untuk mengurangi kemungkinan timbul dan dampak wabah penyakit.

Untuk tujuan ini, kemitraan pemerintah dan swasta yang efektif harus lebih didorong terutama dalam upaya membagi informasi tentang data penyakit dan pencegahan yang dilakukan, termasuk hasil perkembangan vaksinasi di peternakan yang telah disertifikasi sebagai kompartemen bebas AI dengan bukti-bukti yang telah terdokumentasi.

 

Tri Satya Putri Naipospos

Ketua Komisi ahli Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Karantina Hewan

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan

 Kementerian Pertanian

 

Sumber: Majalah TROBOS Edisi 239/Tahun XX/Agustus 2019

Tinggalkan Balasan

Kompartemen Bebas AI dan Implikasinya

by Patricia Noreva time to read: 5 min
0