Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Monday, 23 April 2018
Bone Bolango

Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Bone Bolongo Musnahkan Sapi Positif Antraks

Sabtu, 25 November 2017

Bone – Tim dari Dinas Pertanian dan Peternakan Bone Bolango menemukan satu ekor sapi yang positif antraks yang hendak dipotong warga. Sapi yang ditemukan di Desa Padengo itu, awalnya sakit dan hendak di potong paksa oleh warga. Namun setelah diteliti sampel darahnya oleh tim dinas pertanian dan peternakan setempat, sapi itu positif antraks.

“Setelah positif antraks, kita lakukan prosedur pengamanan dengan membakar sapi positif antraks lalu kita kubur. Ada satu sapi lagi yang kita periksa, namun hasilnya negatif antraks,” ungkap Alwin Karim, Kabid. Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bone Bolango (25/11).

Alwin mengatakan, pihaknya telah menurunkan tim untuk melakukan vaksinasi pada sapi-sapi lain di lokasi yang diduga terkena antraks. Dari data yang ada, sejak Januari 2017 lalu, sebanyak 10.000 ternak sapi sudah divaksin.

Dia mengatakan bahwa seluruh pengobatan maupun vaksinasi ini dilakukan untuk mencegah penyebaran virus antraks meluas. “Seluruh pengobatan ternak sapi ini kita berikan secara gratis,” ungkapnya.

Sebelumnya dari laporan yang diterima oleh Puskesmas Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango diketahui ada sembilan warganya positif terkena penyakit antraks. Mereka mengkonsumsi daging yang diduga telah terjangkit antraks. Mayoritas warga mengalami luka di bagian kulit kaki dan tangan dan mengaku merasakan pusing saat beraktivitas.

“Dari gejalanya, baik luka yang dialami dan riwayat adanya kontak dengan hewan ternak, para warga ini ini positif antraks,” kata Roni Hunta, Kepala Puskesmas Tilongkabila, Bone Bolango.

Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Bone Bolango, Ronal Alibasa meminta agar Pemda setempat lebih serius menindaklanjuti merebaknya kembali wabah antraks. Meski warga hanya terkena antraks kulit, namun dia menurutnya kasus antraks tahun 2017 ini lebih parah jika dibandingkan dengan kasus yang terjadi tahun 2016 lalu.

Menurutnya, dinas pertanian dan peternakan sebagai dinas teknis harus mengambil langkah untuk memutus mata rantai kasus antraks dengan cara mensterilkan kondisi kesehatan seluruh ternak sapi yang masuk ke daerah tersebut. Jika tidak dilakukan, maka kasus yang sama akan terus terjadi apalagi saat ini Pemda memiliki program bantuan satu warga dua ekor sapi.

“Jika kita tidak sterilkan pengadaannya atau distribusi sapi kepada warga, maka kasus antraks akan ditemui lagi,” pungkasnya. (Aldiansyah Mochammad Fachrurrozy)

 

Sumber: Liputan 6