Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Saturday, 24 June 2017
Peta Antraks Kementan 2017
Sumber: Kementerian Pertanian (2017)

Ribuan Dosis Antraks Akan Didistribusikan ke Wilayah Endemis di Semarang

Sabtu, 4 Februari 2017

Ungaran – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang tahun 2017 ini mengalokasikan anggaran untuk pengadaan 1.800 dosis vaksin antraks. Penyakit menular akut dan sangat mematikan yang disebabkan bakteri Bacillus Anthracis ini terus diwaspadai menyusul daerah ini masih menyandang status sebagai daerah endemis antraks.

Pada tahun 1990-an, ribuan sapi di Kecamata Getasan mati karena terserang antraks. Rencananya, vaksin antraks tersebut akan diprioritaskan penggunaannya di daerah endemis dan wilayah perbatasan. “Vaksin tersebut bisa untuk 6.800 ekor sapi, kita prioritaskan di daerah endemis termasuk wilayah perbatasan. Selain itu kita juga mendapatkan 5.000 dosis vaksin antraks dari APBN,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Semarang, Urip Triyoga, Sabtu (4/2/2017).

Ia mengungkapkan, potensi kembali munculnya antraks masih terus diwaspadai. Terlebih pernah muncul kasus antraks di Desa Patemon, Kecamatan Tengaran pada tahun 1991. Saat itu sekitar 1.500 sapi mati akibat terkena antraks.

“Jadi bisa dibilang selama 40 tahun sejak munculnya antraks, Patemon menjadi pusat spora antraks,” kata Urip. Setelah dinyatakan endemis antraks, setiap tahun ada pengawas yang selalu mengambil sampel tanah untuk diperiksakan di laboratorium. Langkah ini guna mengantisipasi munculnya kembali kasus antraks, sebab spora antraks bisa bertahan sampai 40 tahun.

“Tanah untuk mengubur sapi yang mati akibat antraks di Patemon setiap tahun rutin kita cek ke laboratorium. Sampai saat ini negatif,” ujarnya. Kendati negatif antraks, Pemkab Semarang terus memperketat pemeriksaan di rumah pemotongan hewan dan pengawasan lalu lintas ternak di pasar hewan.

Pemkab juga telah mengeluarkan surat edaran ke camat dan kades untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya antraks di wilayah masing-masing. “Kita mengingatkan untuk bersama-sama mengantisipasi munculnya antraks di wilayah masing-masing,” ucap Urip.

Sementara itu, Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian Kabupaten Semarang, Sri Hartiyani menambahkan, spora antraks bisa bertahap sampai puluhan tahun. Sedangkan bakteri antraks bisa bertahan hidup di tempat tertutup. “Spora itu pembungkus bakteri, ia lebih tahan panas. Tapi kalau bakteri antraks akan mati dengan air mendidih suhu 100 derajat selama 30 menit,” imbuhnya.

Yani lantas menjelaskan, ciri-ciri sapi yang terkena antraks antara lain keluar darah berwarna merah kehitaman dari semua lubang, baik mulut, hidung, telinga dan anus. Sapi yang terkena antraks perakut akan mati mendadak setelah terinfeksi bakteri antraks tanpa disertai gejala klinis.

“Kalau antraks akut sapi terlihat lemah, lesu dan tidak nafsu makan kemudian mati. Kalau antraks kronis biasanya terdapat luka pada mulut dan telapak kaki atas sapi yang tidak kunjung sembuh, satu dua bulan kemudian sapi baru mati,” ungkap Sri. (Syahrul Muni | Ed: Sabrina Asril)

 

Sumber: Kompas.com