Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Friday, 28 April 2017
phm2

Pelatihan Manajemen Kesehatan Unggas

Kamis, 9 November 2006

Kesehatan hewan adalah hal utama yang harus dipertimbangkan saat mengembangkan usaha peternakan. Hal ini berkaitan erat dengan munculnya berbagai macam penyakit di ternak. Profil usaha peternakan di sektor pertama menunjukkan bahwa usaha perunggasan menyediakan kesempatan usaha yang lebih baik selama manajemen peternakannya memiliki manajemen kesehatan hewan yang sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku saat ini. Dengan kata lain, jika manajemen kesehatan ternak dilakukan secara optimal, maka munculnya berbagai penyakit dapat ditekan sebanyak mungkin.

Ternak di Indonesia, umumnya di sektor III dan IV, belum menunjukkan pelaksanaan manajemen kesehatan hewan yang optimal. Hal ini berkaitan dengan tujuan dari usaha peternakan. Sektor I dan II biasanya mempunyai sistem manajemen yang baik di semua bagian, termasuk kesehatan hewan. Namun di sektor III dan IV, peternak memelihara unggas hanya sebagai usaha sampingan, meskipun dalam skala usaha yang relatif kecil. Hal ini dapat dipahami karena ternak komersil dipelihara dengan pola manajemen yang baik untuk menghasilkan keuntungan yang besar. Sebaliknya, peternak rakyat tidak mengenal adanya pola tertentu dan pemeliharaan biasanya dilakukan hanya sebagai kegiatan paruh waktu.

Secara umum, peternak sektor IV tidak mengerti mengenai kesehatan hewan. Hal ini dapat terlihat dari sistem peternakannya yang masih tradisional. Sebagai contoh, unggas dibiarkan berkeliaran di kebun orang dengan pakan apapun yang tersedia dan tanpa adanya usaha pencegahan penyakit. Kondisi ini menjadikan unggas berisiko tinggi dan rentan terhadap penyakit hewan menular. Berbagai jenis penyakit menular di unggas telah dilaporkan di Indonesia, tetapi penyakit yang saat ini menjadi pusat perhatian adalah penyakit yang disebabakan oleh virus seperti Avian Influenza (AI), Newcastle Disease (ND) atau Tetelo, Infectious Bronchitis (IB), Infectious Laryngotracheitis (ILT), Marek’s disease, dan Infectious Bursal Disease (IBD) atau Gumboro.

Selain kesehatan hewan, hal lain yang juga terkait dengan kesehatan hewan dan juga tidak kalah penting adalah biosekuriti. Membatasi lalu lintas orang/pekerja dan kendaraan di peternakan adalah tindakan biosekuriti untuk mencegah penyebaran AI. Selain itu, manajemen lalu lintas unggas dan produk unggas dan pembersihan peralatan di daerah berisiko juga termasuk pengendalian AI.

Sektor I dan II adalah peternakan komersil dengan biosekuriti yang ketat dan sistem tertutup, sehingga berpotensi mengurangi infeksi AI dibandingkan jenis peternakan lainnya. Sektor III adalah peternakan komersil dengan atau tanpa biosekuriti yang ketat dan sistem terbuka yang memungkinkan terjadinya kontak tidak langsung dengan peternakan lain sehingga sektor III lebih mudah terinfeksi bila dibandingkan dengan sektor I dan sektor II. Terlebih lagi, sektor IV yang mempunyai sistem yang sangat terbuka dan tidak melaksanakan tindakan biosekuriti lebih mudah terinfeksi dibandingkan sektor I, II, dan III. Hal ini dapat dimengerti karena peternakan komersil dengan biosekuriti ketat dan sistem tertutup dapat mencegah kontak antara unggas dan manusia atau dengan hewan lain atau burung liar. Secara umum, peternakan sektor I dan II membatasi dengan ketat lalu lintas dari bahan kontaminan seperti unggas, produk unggas, pakan, kotoran, bulu, dan peralatan kandang. Mereka juga membatasi lalu lintas orang/pekerja dan kendaraan yang masuk atau keluar dari peternakan. Kesehatan pekerja di peternakan sektor I dan II umumnya diperiksa secara berkala. Mungkin inilah yang menyebabkan kejadian AI di peternakan sektor I dan II lebih sedikit dibandingkan dengan yang lainnya. Sebaliknya, sektor III dan IV yang memiliki sistem terbuka memungkinkan terjadinya infeksi AI dari luar, sehingga peternakan sektor III dan terutama sektor IV lebih mudah terinfeksi dibandingkan sektor I dan II.

Terkait dengan semua hal di atas, Indonesia dan Belanda telah membuat sebuah kesepakatan untuk mengadakan kerjasama dalam pengembangan dan pelaksanaan program pengendalian Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI). Salah satu proyek dalam program kerjasama ini yang telah dilaksanakan adalah studi vaksinasi lapangan di kabupaten Sukabumi. Studi ini bertujuan untuk melaksanakan program pelatihan manajemen kesehatan unggas di peternakan untuk para peternak dan juga untuk memperkuat kapasitas CIVAS dan dinas peternakan dalam merekomendasikan implementasi manajemen kesehatan unggas dan penanganan masalahnya di lapangan.

Tujuan dari Pelatihan Manajemen Kesehatan Unggas adalah: untuk memberikan pengetahuan kepada peternak, staf proyek, dan dokter hewan mengenai Manajemen Kesehatan Unggas dan Biosekuriti, memberikan pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik terkait peran sentinel dalam strategi DIVA dan ujicoba lapangan, memberikan rekomendasi terkait tindakan biosekuriti yang praktis dan mungkin dilaksanakan di peternakan untuk mencegah infeksi HPAI dan penyebaran virus, dan memberikan rekomendasi terkait tindakan biosekuriti yang praktis dan mungkin diaplikasikan oleh staf CIVAS dan petugas dinas peternakan serta peternak untuk melindungi diri dari virus HPAI.

Pelatihan Manajemen Kesehatan Unggas dilaksanakan selama empat hari di GG House Happy Valley, Gadog, Jawa Barat. Pelatihan dimulai pada hari Senin (6 November 2006) hingga Kamis (9 November 2006). Pelatihan ini dihadiri oleh 28 peserta yang terdiri dari peternak, petugas Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi, dan CIVAS yang berkaitan dan terlibat dalam kegiatan pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan HPAI.