Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Tuesday, 20 November 2018
Jembrana (Heru, 2011)
Sumber: Heru (2011)

Penyakit Jembrana Musuh Utama Sapi Bali

Minggu, 28 Oktober 2018

Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu provinsi pemasok ternak sapi potong terbanyak ke pulau Jawa dan beberapa daerah lain di Indonesia. Jenis sapi yang paling banyak dibudidayakan di dearah Nusa Tenggara Timur adalah sapi bali (Bos javanicus). Sapi bali diketahui sangat rentan terhadap infeksi penyakit jembrana atau yang biasa dikenal dengan penyakit keringat darah. Penyakit ini pertama kali dilaporkan di Indonesia pada tahun 1964. Wabah jembrana pertama kali terjadi di Kabupaten Jembrana, Gianyar, Klungkung, Badung, Tabanan, dan Buleleng di Provinsi Bali, yang menyebabkan kematian tinggi pada sapi bali.

Penyakit ini kemudian juga terjadi pada sapi bali di pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Ternak sapi yang rentan terjangkit penyakit jembrana adalah ternak sapi yang berumur lebih dari 1 tahun, dan paling banyak menyerang ternak sapi yang berumur 4 hingga 6 tahun. Penyakit jembrana menyebabkan Kerugian ekonomi yang cukup besar karena angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematiannya (mortalitas) yang relatif tinggi. Selain itu penyakit ini memiliki kecenderungan untuk menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga hewan rentan terhadap penyakit lainnya akibat infeksi sekunder.

 

Etiologi

Penyakit jembrana disebabkan oleh infeksi bovine lentivirus yang termasuk ke dalam famili retrovirus. Virus Jembrana ini selain memiliki hubungan antigenik dengan BIV, juga berhubungan dengan group lentivirus lainnya seperti Human Immunode­ciency Virus (HIV), Simian Immunode­ciency Virus (SIV), Feline immunode­ciency Virus (FIV), Maedi Visna Virus (MVV), Caprine Arthritis Encephalitis Virus (CAEV) dan Equine Infectious Anemia Virus (EIAV).

Penyakit jembrana merupakan penyakit yang tidak bersifat zoonosis, sehingga tidak dapat menular dari hewan ke manusia maupun sebaliknya. Host utama dari penyakit ini adalah sapi bali (Bos javanicus). Bovine lentivirus diketahui dapat bereplikasi dengan mudah dan konsisten hanya pada sapi bali. Infeksi eksperimental pada sapi hasil persilangan (Bos indicus dan Bos taurus) diketahui hanya menghasilkan infeksi ringan atau subklinis. Penyakit Jembrana bersifat akut dan terjadi setelah periode inkubasi pendek yang terjadi selama kurang lebih 12 hari dengan rata-rata kejadian selama 5 hari. Kematian ternak akibat Jembrana terjadi pada 1 atau 2 minggu setelah infeksi.

 

Gejala klinis

Sapi yang terinfeksi penyakit jembrana akan mengalami demam dengan kenaikan suhu tubuh hingga mencapai 41°- 42° C. Pada saat demam akan terjadi penurunan jumlah trombosit di dalam pembuluh darah. Akibat penurunan trombosit ini akan  terjadi perdarahan di kulit yang luka akibat gigitan serangga pengisap darah seperti lalat Tabanus sp, sehingga menyebabkan sapi yang terinfeksi terlihat seperti mengeluarkan keringat darah. Keringat darah merupakan salah satu gejala patognomonis penyakit jembrana yang sangat populer di masyarakat peternak sapi bali. Selain mengalami kenaikan suhu tubuh, sapi yang terinfeksi penyakit jembarana juga dapat mengalami abortus pada betina bunting yang terinfeksi, lethargy, pembengkakan pada kelenjar limfe terutama limfoglandula  parotis, prefemoralis dan praescapularis, diare berdarah, serta mengalami luka pada selaput lendir mulut yang menyebabkan sapi mengalami  kesulitan pada  saat makan sehingga mengalami penurunan bobot badan.

 

Penularan Penyakit

Penularan penyakit jembaran terjadi melalu gigitan nyamuk, lalat atau caplak. Serangga-serangga ini merupakan serangga penghisap darah. Jika serangga menggigit dan menghisap darah sapi yang terinfeksi maka virus akan terbawa dan menular ke sapi lainnya saat serangga tersebut menghisap darah sapi yang sehat. Selain itu transmisi juga dapat terjadi melalui jarum suntik bekas injeksi sapi yang terinfeksi.

 

Diagnosa

Diagnosa penyakit jembrana dapat dilakukan melalui pengamatan terhadap gejala klinis yang terjadi. Peneguhan diagnosa dapat dilakukan melalui uji ELISA (Enzym-Linked Immunosorbent Assay), Uji Western Blotting dan Teknik PCR (Polymerase Chain Reaction).

 

Pencegahan dan Pengendalian

Pencegahan penyakit jembrana dapat dilakukan dengan melakukan vaksinasi dan peningkatan daya tahan tubuh sapi. vaksinasi dapat dilakukan dengan menggunakan antigen dari hewan yang telah sembuh dari penyakit jembrana dengan diambil serumnya (antigen) kemudian diinduksi pada hewan,  untuk meningkatkan antibodi atau kekebalan tubuhnya. Percobaan untuk menemukan antigen sebagai bahan utama vaksinasi jembrana dari virus yang tidak aktif sampai sekarang masih mengalami kesulitan, dikarenakan virus ini hanya menekan durasi dan tingkat keparahan penyakit sampai tingkat yang bervariasi atau tertentu saja.

Vaksinasi jembrana diberikan dua kali setahun. Vaksin kedua (booster) diberikan satu bulan sejak vaksin pertama. Peningkatan daya tahan tubuh sapi dapat dilakukan dengan memerhatikan kesehatan ternak. Kesehatan ternak sapi merupakan faktor penting dalam menjaga keselamatan ternak dari berbagai jenis penyakit. Menjaga kesehatan sapi dilakukan memberikan pakan yang cukup, memberikan suplemen, dan memelihara sapi pada kandang yang bersih dan layak. Selain itu pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan penyemprotan pada kandang dan peralatan kandang dengan disinfektan dan anti serangga.

Pengendalian dapat dilakukan dengan mengontrol lalu lintas hewan di dalam wilayah yang terinfeksi. Hal ini merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mengurangi kejadian infeksi dalam suatu wilayah  untuk membatasi penyebaran penyakit. Dalam hal ini, tindakan pemerintah melalui aturan karantina sangat diperlukan. Langkah pengendalian lain yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan isolasi terhadap  hewan yang terinfeksi. Isolasi yaitu mengandangkan sapi yang terjangkit penyakit jembrana secara terpisah dari sapi lainnya.

Ditempat isolasi dilakukan perawatan dan pengobatan sampai sapi tersebut sembuh. Jika ditemukan gejala penyakit yang mengarah pada penyakit jembrana, segera laporkan pada petugas kesehatan hewan terdekat untuk segera mendapatkan penanganan. Ternak yang mengalami kematian segera dikubur. Sisa pakan dan kotoran ternak yang mati juga ikut dimusnahkan untuk mencegah terjadinya penularan penyakit.

 

Sumber: Balai Besar Pelatihan Peternakan Kupang