www.civas.net
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Tuesday, 17 September 2019
sapi-almere
Ilustrasi

Mendorong Kemitraan di Sapi Potong

Sabtu, 1 September 2018

Jakarta – Selama ini program kemitraan antara inti dan plasma dalam usaha peternakan sudah banyak dilakukan di ayam pedaging dan sapi perah. Namun, ternyata usaha kemitraan sudah mulai terjadi dalam peternakan sapi potong di beberapa daerah di tanah air. Hal ini terungkap dalam suatu workshop sapi potong yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Pangan Pertanian dan Advokasi (Pataka) di Jakarta beberapa waktu lalu.

Owner PT Indo Prima Beef, Nanang Purus Subendro menyampaikan, kandang inti PT Indo Prima Beef berlokasi di Lampung Tengah, saat ini kandang 1 menampung sapi sebanyak 3.500 ekor sapi dan kandang 2 menampung sapi sebanyak 2.500 ekor sapi. Sedangkan kandang plasma di Kopkar Gunung Madu sebanyak 1.000 ekor dengan anggota peternak 400 orang, dan kemitraan Pasar Jaya sebanyak 700 ekor sapi merupakan usaha keluarga. Kemudian di Samudera Biru Langit sebanyak 300 ekor dengan jumlah 20 anggota untuk Komunitas Sapi Indonesia (KSI).

“Peternak yang ingin melakukan kemitraan harus melalui beberapa tahapan proses. Pertama, peternak kemitraan inti melakukan pembinaan kepada peternak plasma terutama yang belum bankable (nasabah yang memenuhi persyaratan Bank). Kedua, setelah itu peternak kemitraan dalam bentuk kredit bank. Ketiga peternak harus mampu berkembang dan mandiri,” papar Nanang.

Head of Sales & Marketing PT Santosa Agrindo (Santori), Anityo Yusman Adisuwondo menambahkan pengembangbiakan sapi potong berbasis kemitraan merupakan sinergi keunggulan industri feedlot (penggemukan) bersama peternak rakyat. Ada beberapa sasaran, diantaranya sasaran pertama adalah pengembangbiakan dengan melakukan penyebaran sapi betina produktif di peternak rakyat guna menghasilkan sapi bakalan untuk penggemukan sapi di Industri.

“Sejak 2016, kemitraan pengembangbiakan sapi BX PT Santori di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur merangkul 29 peternak mitra dengan jumlah ternak 176 sapi indukan bunting dan 54 pedet. Untuk pembiayaan mitra dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh Bank rakyat Indonesia dan Bank Negara Indonesia,” jelasnya.

Lanjutnya, sasaran yang kedua pengembangbiakan sapi potong komersial yang efisien dan berdaya saing serta menjamin keberlanjutan usaha. Strateginya adalah berkolaborasi dengan perkebunan sawit dalam rangka Sistem Integrasi Sapi Kelapa Sawit (Siska) dengan menggunakan sapi BX, guna menghasilkan sapi bakalan dan sapi induk yang berbiaya rendah.

“Berjalan sejak 2013 kemitraan pembiakan sapi BX yang berlokasi di PT Buana Bhakti, Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan. Ternaknya sebanyak 300 sapi indukan yang bekerja sama dengan kemitraan Indonesia-Australia Commercial Cattle Breeding (IACCB). Dengan model 100 % kawin alam lahir sebanyak 139 ekor sampai Maret 2018,” tuturnya.

Terakhir masih menurut Yusman, sasaran pengembangbiakan genetik sapi wagyu komersil di Lampung Timur, guna menghasilkan daging sapi premium untuk pasar domestik dan ekspor. Strateginya pembibitan dan pembiakan sapi wagyu di pelihara intensif yang terintegrasi dengan penggemukan. Kemudian masuk proses pemotongan dan distribusi rantai dingin.

Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) I Ketut Diarmita mengatakan, dalam pelaksanaan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan, perlu adanya kontribusi dari semua pihak untuk mendukung pertumbuhan industri peternakan. Tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga dari pihak swasta dan masyarakat peternak pada umumnya.

Saat ini industri sapi dan daging sapi masih lebih berkembang ke arah hilir terutama ke bisnis penggemukan dan impor daging. Pemerintah berkeinginan untuk mendorong industri peternakan sapi dan kerbau lebih ke arah hulu, yaitu ke arah pembibitan dan pengembangbiakan.

 

Masih Bergantung Impor

Secara umum Indonesia masih mengandalkan pasokan impor untuk menutupi kebutuhan daging sapi di kota-kota besar terutama untuk wilayah Jabodetabek. Hal ini kata Ketut, dikarenakan produksi daging sapi lokal masih belum mencukupi kebutuhan nasional, sehingga untuk memenuhi kekurangannya dilakukan impor, baik dalam bentuk sapi bakalan maupun daging.

“Dengan adanya impor diharapkan dapat memenuhi kebutuhan, sementara sapi-sapi milik peternak dapat berkembang biak dengan baik, terutama untuk menghindari pengurasan sapi lokal karena meningatnya permintaan, sehingga menyebabkan adanya pemotongan betina produktif,” sebutnya.

Menurut Ketut, importasi dilakukan melalui penugasan dari pemerintah kepada Badan Urusan Logistik (Bulog) yang bertujuan bukan untuk mengguncang harga daging sapi, tetapi untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat yang belum bisa menjangkau harga daging sapi agar ada alternatif bagi mereka untuk menjangkaunya. Distribusi daging kerbau, ex-impor diprioritaskan hanya untuk daerah-daerah sentra konsumen dan dapat diedarkan ke daerah lain sepanjang tidak ada penolakan dari pemerintah daerah setempat, yang diharapkan tidak mengganggu daging sapi lokal.

Sedangkan Tri Satya Putri Naipospos Komisi Ahli Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen PKH mengatakan, importasi daging kerbau dari negara/zona tertular PMK, memiliki dampak ekonomi baik dari segi harga, pasar domestik, produsen lokal dan tenaga kerja. Namun risikonya terkena dampak Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Sehingga menurut Tata, peternakan dan perusahaan di negara bebas PMK harus mempertahankan praktik-praktik biosekuriti yang tepat untuk mencegah introduksi penyebaran virus PMK. Introduksi ternak baru ke dalam stok ternak yang sudah ada, pengendalian akses terhadap ternak oleh orang dan peralatan, mempertahankan sanitasi kandang ternak, bangunan, kendaraan, peralatan, monitor, laporkan hewan sakit (dugaan penyakit menular), dan disposal kotoran kandang serta bangkai secara tepat.

 

Dampak Impor Daging Kerbau

Direktur Pusat Kajian Kebijakan Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka), Yeka Hendra Fatika mengatakan pada 2018 pemerintah telah memutuskan untuk kembali mengimpor daging kerbau India 100 ribu ton yang telah mengguyur pasar modern dan tradisional.

Sepanjang 2016 dan 2017 harga daging sapi berkisar Rp 110.000-120.000 per kg. Bahkan sampai April 2018, harga daging sapi masih menyentuh Rp 110.000 per kg. “Importasi daging mampu meredam peningkatan harga daging, namun tidak mampu menurunkan harga daging pada level 80.000 per kg,” katanya.

Yeka menilai, dampak importasi daging kerbau diantaranya, munculnya praktek dagang yang tidak berkeadilan, sebab semua pasar di Jabodetabek telah melakukan praktek penjualan daging oplosan. Kedua, terjadinya penurunan volume pemotongan sapi di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) atau Tempat Pemotongan Hewan (TPH). Selama Januari-Mei 2017, telah terjadi penurunan volume pemotongan di TPH/RPH sekitar Jabodetabek sebesar 47%.

Lalu, menurunnya skala usaha industri feedloter hingga mencapai 20-50%, bahkan di 2017 terdapat 7 feedloter yang sudah tidak melakukan kegiatan impor sapi bakalan dari Australia. “Kesemuanya ini berdampak terhadap hilangnya potensi nilai tambah bisnis sapi di sebesar Rp 16,85 triliun di 2017. Selain itu, hilangnya potensi pendapatan peternak sapi potong skala kecil yang juga menurut Research Analysit Credit Lyonnais Securities Asia, bahwa nilai produk domestik bruto di 2017 yang terambil oleh aktivitas bisnis daging kerbau beku sekitar Rp 4,4 triliun,” ungkap Yeka.

Yeka menyarankan langkah yang perlu dilakukan terhadap dampak importasi daging kerbau ini, yaitu harmonisasi kebijakan agar tidak menimbulkan konflik guna membangun kepastian usaha. Kedua partnership antara pemerinta, swasta dan perbankan dalam mengembangkan industri breeding dan pakan. Ketiga, peternak perlu pedet dan pakan yang murah. Keempat, sinergitas program pengadaan 15.000 ekor indukan sapi dengan peternak sebagai jaminan kepastian supply dan harga yang wajar. Kelima, program penguatan kelembagaan peternak. Keenam, memastikan peternak terlibat dalam berbagai kebijakan pemerintah. (Usman)

 

Sumber: TROBOS Edisi 228 September 2018

Tinggalkan Balasan

Mendorong Kemitraan di Sapi Potong

by Civas time to read: 4 min
0