Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Tuesday, 20 November 2018
1326168-bebek-620X310 (1)

Sulut Rawan Flu Burung Ayam dari Filipina Dicurigai Bawa Virus

Kamis, 7 Juni 2018

Manado – Sulawesi Utara termasuk provinsi rawan virus flu burung (Avian Influenza) jenis H5N6. Daerah paling utara di Indonesia ini berbatasan langsung dengan Filipina yang tahun 2017 lalu terserang virus jenis baru ini.

Subdit PH Direktorat Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI mengidentifikasi, risiko masuknya virus ini ke Sulut ada pada lalu lintas masuknya ayam aduan dan telur tetas dari Filipina melalui daerah kepulauan di Nusa Utara. Selain itu, risiko lainnya juga ada pada migrasi burung liar.

Berangkat dari identifikasi awal risiko tersebut, FAO ECTAD bekerja sama dengan Direktorat Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI serta USAID mengadakan pertemuan stakeholder tentang penilaian risiko virus AI subtipe H5N6, di Hotel Peninsula Manado, Rabu (6/6/2018) .

Para pemangku kepentingan ini mendapat materi singkat sebagai pengantar pertemuan ini, kemudian berlanjut dengan diskusi yang terbagi tiga kelompok. Yakni kelompok satwa liar, ayam aduan serta kelompok dari peternak yang unggas dikomersilkan.

Masing-masing kelompok ini mengidentifikasi risiko masuknya virus AI H5N6 ke Sulut. Dari pemaparan kelompok ayam aduan, bibit ayam aduan Filipina masuk melalui Kepulauan Sangihe, yang melalui lima titik.

Setelah ayam-ayam ini masuk, ditampung ke pengepul, kemudian dari Tahuna lalu disebarkan ke Manado lalu berlanjut ke Jakarta, Papua, Surabaya, Kalimantan, Sulawesi Selatan dan beberapa tempat lainnya.

Kemudian dari kelompok komersil mengidentifikasi risiko masuknya virus ini ke petermakan datang dari feses, pekerja kandang, biosecurity serta peluang lainnya. Begitu pula kelompok satwa liar yang mengidentifikasi bagaimana burung-burung bermigrasi dan singgah ke Sulut.

Dokter Hewan Mario Pratama dari Direktorat Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI mengatakan identifikasi yang dilakukan pemerintah pusat masih sebatas pada literasi. Dengan adanya kegiatan ini, semua pemangku kepentingan bisa mengidentifikasi lebih dalam soal risiko.

“Risiko artinya adanya bahaya, kurangnya kapasitas dan adanya kerentanan. Dengan assesment ini, kami membangun kapasitas mereka. Kurangnya di mana. Hasil dari ini, kami dari pusat akan menilai apakah risikonya rendah, tinggi atau sedang. Kemudian kami akan melakukan intervensi ke pemerintah daerah,” ujarnya.

Dokter Hewan Pebi Purwosuseno dari Direktorat Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI mengatakan pertemuan ini mengidentifikasi besaran risiko virus AI H5N6 di Sulut seperti apa.

“Yang dapat kami hasilkan adalah manajemen risiko. Manajemen apa yang bisa dilakukan untuk mencegah virus ini masuk. Begitu pula ketika sudah masuk, bagaimana menanganinya. Hasil dari kegiatan ini menjadi masukan bagi Pemerintah Daerah Sulut,” ucapnya.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menyambut baik kegiatan ini, demikian Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulut, Novly Geret Wowiling, yang didampingi Kepala Bidang Peternakan, Grace Sela dan Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesmavet, Hanna Tioho.

Menurut Tioho, Sulut memang belum ada kasus H5N6. Dengan adanya kegiatan ini, sumber daya di Sulut bisa dimaksimalkan. Apalagi memang SDM dan anggaran yang ada di Sulut masih sangat terbatas.

“Dengan adanya analisa ini, kita bisa tahu titik mana yang jadi perhatian, lalu kami maksimalkan. Intinya agar Sulut tak masuk virus AI jenis baru ini. Output dari kegiatan ini yakni kebijakan dari pemerintah daerah. Kita melihat sudah sesuai tidak aturan karantina dan pemda,” jelasnya. (Fin|Lodie Tombeg)

 

Sumber: Tribun Manado