Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Tuesday, 21 November 2017
sapi-almere

Penyakit Antraks Mereda

Kamis, 10 Maret 2016

Makassar – Wabah antraks yang beberapa waktu lalu menyerang sapi dan kerbau di Desa Malimpung, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, telah mereda. Pemerintah kabupaten setempat masih mengisolasi desa itu dari lalu lintas ternak dan melakukan pengawasan intensif terhadap ternak di wilayah itu.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian dan Peternakan Pinrang Hairah, saat dihubungi dari Makassar, Rabu (9/3), mengatakan sudah  lima hari berlalu sejak kasus kematian sapi terakhir terjadi di Desa Malimpung. “Namun, posko pengawasan kami masih berjalan di desa itu dengan petugas yang berjaga hingga waktu yang belum ditentukan,” katanya.

Pemantauan secara intensif terus dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut. Selain itu, dilakukan vaksinasi terhadap ternak sapi dan kerbau di desa-desa tetangga serta pengobatan pada ternak yang terindikasi terkena antraks.

Sejak penyakit antraks merebak di Desa Malimpung pada 16 Februari, menurut Hairiah, sebanyak 34 sapi dan 9 kerbau mati. Smeua sapi itu adalah milik 5 warga di Desa Malimpung.

Dari pemeriksaan riwayat ternak, para pemilik tidak pernah memberikan vaksinasi kepada sapi atau kerbau mereka meskipun telah mendapatkan sosialisasi dari dinas pertanian dan peternakan. Kasus antraks ini merupakan yang pertama kali terjadi di Pinrang.

“Kami akan terus melakukan sosialisasi kepada pemilik ternak terkait antraks untuk mencegah kejadian serupa terulang. Semoga para pemilik ternak yang tadinya enggan memberikan vaksin dapat menyadari pentingnya vaksinasi tersebut,” kata Hairiah.

 

Isolasi dievaluasi

Saat ini, Pemkab Pinrang menanggulangi penyakit antraks bersama Dinas Peternakan Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Kementerian Pertanian. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Muladno meninjau Pinrang untuk melihat langsung penanganan antraks tersebut. Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan Provinsi Sulsel Syamsul Bahri mengatakan, isolasi ternak di Desa Malimpung akan dievaluasi setidaknya 14 hari setelah kasus kematian ternak terakhir.

Waktu 14 hari adalah periode perkembangan bakteri pada tubuh hewan yang terjangkit antraks. “Jika sudah melewati periode 14 hari, baru dapat dievaluasi apakah kondisi sudah memungkinkan untuk isolasi dibuka atau belum,” ujar Syamsul.

Ia menambahkan, sejak penyakit antraks merebak, selain di Pinrang, ribuan vaksinasi juga diberikan untuk populasi ternak di dua kabupaten tetangga, yakni Sidenreng Rappang (Sidrap) dan Enrekang. “Vaksinasi telah mencakup sekitar 96 persen dari total populasi ternak di tiga kabupaten tersebut,” kata Syamsul.

Langkah antisipasi juga dilakukan dengan memusnahkan ternak yang mati dengan cara dibakar, kemudian dikubur untuk mencegah penyebaran bakteri Bacillus anthracis, penyebab penyakit. Sejauh ini tidak ada laporan penyakit itu telah menulari manusia ataupun ternak lain di luar Desa Malimpung.

 

Penyebab

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti dari mana sapi dan kerbau di Desa Malimpung terjangkit antraks. Meski Sulse merupakan salah satu wilayah endemik antraks, Kabupaten Pinrang tidak pernah memiliki riwayat kasus penyakit tersebut.

Hairiah mengatakan, ada sejumlah kemungkinan masuknya penyakit itu di Pinrang. Hal itu antara lain angkutan sapi atau kerbau yang terkontaminasi bakteri atau melalui ternak lain di padang pengembalaan.

Sementara itu, Syamsul menduga hewan ternak di Desa Malimpung tertular oleh ternak dari wilayah lain saat berada di tempat pengembalaan. Di Pinrang, ternak sapi dan kerbau dipelihara dengan cara dilepasliarkan. “Tahun lalu ada kasus antraks di Kabupaten Sidrap yang wilayahnya berbatasan dengan wilayah Kecamatan Patampanua, Pinrang,” kata Syamsul.

Antraks menyerang sapi dan kerbau dengan gejala kematian mendadak disertai keluarnya darah pada mulut, hidung, atau telinga. Antraks juga dapat menjangkiti manusia, salah satunya jika mengonsumsi daging hewan yang tertular antraks. (Eng)

 

Sumber: Kompas