Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Wednesday, 15 August 2018
megapolitan 2018
Ilustrasi

Kasus Leptospirosis pada Manusia dan Hewan di Wilayah Boyolali

Rabu, 28 Februari 2018

Boyolali – Tingginya kasus kematian pada manusia di wilayah Boyolali pada dua bulan pertama 2018 ini mencapai empat orang dan dari delapan kasus yang ditemukan. “Tim dari Pusat dan Dinas akan melangsungkan pertemuan untuk berdiskusi mengenai leptospirosis dan mencari solusi bersama,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Ratri S. Survivalina (27/2).

Penyakit leptospirosis tidak hanya menular ke manusia, namun juga ke hewan ternak. Hewan ternak milik warga di Boyolali sudah ada yang positif terjangkit bakteri akibat kencing tikus ini. Hal ini diungkapkan Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali Sherly Jeanne Kilapong (13/2). Dikatakan, bakteri leptospira di Boyolali ternyata tidak hanya pada tikus saja, namun juga ditemukan di hewan ternak warga.

“Kita sudah periksa tahun kemarin, tikus positif. Tahun ini sapi juga ada yang positif dan tahun kemarin kambing juga ditemukan positif (mengandung bakteri leptospira). Paling sering teorinya di tikus, tetapi sapi dan kambing bisa kena juga,” terangnya.

Ternak yang tertular bakteri leptospira aman dikonsumsi asalkan dimasak secara matang terlebih dahulu. Ternak tersebut jika sudah diberi antibiotik juga akan sembuh, bakterinya akan mati. “Kalau sudah dimasak tidak masalah untuk dimakan dagingnya. Yang berbahaya bagi yang menyembelih, yang motong-motong, yang memasak. Jika ada luka di tangan, bisa menular lewat luka itu,” tegasnya.

Kabid Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Peternakan (Disnakan) Boyolali Afiany Rifdania juga mengakui ada ternak warga yang tertular penyakit tersebut. Pihaknya pun menyatakan sudah mengambil langkah-langkah pengobatan kepada ternak warga tersebut dan melakukan lokalisir.

“Dari hasil surveilans kami ke wilayah dua korban di Desa Kismoyoso dan Manggung, Kecamatan Ngemplak tidak ada ternaknya. Tetapi kedua korban menurut info terakhir beraktivitas di Desa Dibal. Yang satu orang bermain bola, sedangkan yang satunya lagi bekerja sebagai tukang kayu di Desa Dibal. Kesimpulannya, korban kemungkinan bukan tertular dari hewan peliharaan seperti sapi dan lain-lain, tetapi bisa dari lingkungan yang tercemar kencing tikus,” ujarnya.

“Tapi kencing tikus dimungkinkan bisa termakan oleh ternak dan menyebabkan ternak tertular,” ujarnya. Umumnya masyarakat di Boyolali memiliki kandang ternaknya yang dekat dengan rumah dan setiap hari kontak dengan hewan ternak itu. Hal ini berrisiko pemilik ternak tertular penyakit leptospirosis.

Setelah laporan kasus penderita leptospira, petugas dinas akan mengambil sampel darah ternak warga penderita leptospirosis dari daerah kasus dan sekitarnya. Sampel darah ternak itu dikirim ke laboratorium di Salatiga untuk dilakukan penelitian.

“Tugas kami mencegah dan menanggulangi agar tidak menyebar kemana-mana. Caranya, bagi ternak yang positif tertular akan dilakukan pengobatan ternak,” ungkapnya. Pekan ini surveilans juga dilanjutkan ke Kecamatan Banyudono dan Kecamatan Boyolali Kota. “Selain Banyudono dan Boyolali Kota, rencananya kami juga ke rumah warga suspect leptospirosis di Bangak, Banyudono,” imbuhnya.

“Tempo hari sudah 32 sampel yang kita kirimkan itu semuanya negatif. Yang tahun 2017 itu negatif. Nah yang 2018 ini, kita baru ambil 25 sampel. 15 baru diteliti dan 10 sampel sudah keluar hasilnya, tiga diantaranya positif (mengandung bakteri leptospira). Ada kambing, domba dan sapi. Karena positif di daerah itu kita lakukan pengobatan,” tandasnya.

Menurutnya, penyakit leptospirosis ini bersifat sub klinis, tidak tampak dari luar. Jadi ternak yang terkena penyakit ini tetap tampak sehat-sehat saja. Sehingga sulit untuk mengetahui ciri-ciri ternak yang terkena penyakit tersebut. (Yulianto, A Ludiyanto | Ed: Fie)

 

Sumber: Fokus Jateng dan Solo Pos