Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Friday, 19 October 2018
Jembrana (Heru, 2011)
Sumber: Heru (2011)

17 Tahun Berlalu, Virus Jembrana Kembali Jangkiti Sapi di Sumsel

Minggu, 18 Februari 2018

Palembang - Virus Jembrana yang diidap oleh hewan ternak jenis sapi Bali, kini kembali mewabah di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sejak tahun 2017 hingga awal 2018. Padahal, virus jembrana yang menyerang sapi Bali terakhir mewabah di Sumsel sudah 17 tahun yang lalu.

Merujuk data Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumsel, jumlah sapi Bali yang mati akibat terserang virus Jembrana selama 2017 sebanyak 200 ekor. Jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan wabah virus Jembrana pada 17 tahun yang lalu, yang berkisar 50 ekor sapi Bali.

Menurut Romzi Anthoni, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Sumsel, virus Jembrana terakhir mewabah di tahun 1990-an di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Namun, saat itu, wabah tersebut langsung bisa diatasi.

“Ini terjadi lagi tahun 2017 dan sampai sekarang masih ada sapi Bali yang terindikasi mengidap gejala-gejala virus Jembrana. Sapi Bali yang terserang virus Jembrana ini berasal dari Provinsi Jambi dan Riau,” ucap dia, Sabtu, 17 Februari 2018.

Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) menjadi daerah terbanyak yang menyumbang angka kematian sapi Bali akibat virus Jembrana. Dari 200 ekor sapi Bali yang mati, sekitar 100 ekor berasal dari Kabupaten Muba. Beberapa kabupaten lain yang turut terserang virus jembrana, yaitu Kabupaten Musi Rawas (Mura), Muara Enim, Lahat, Ogan Komering Ilir (OKI), Kota Palembang, dan Lubuklinggau.

Salah satu faktor mewabahnya lagi virus Jembrana, yaitu karena harga jual sapi Bali yang jauh lebih murah dibandingkan harga pasarannya. Sebagian besar transaksi sapi Bali yang berasal dari Provinsi Jambi, diduga terjadi di peternakan sapi Bali yang banyak mengidap virus Jembrana.

“Para pedagang di perbatasan Sumsel-Jambi, tergiur dengan harga yang murah, tanpa melihat kualitas dan kondisi hewan ternak itu sendiri,” ujar Romzi. Ternyata, sapi Bali yang dijual dengan harga murah, mengidap virus Jembrana dan menyebarkan virus tersebut ke sapi-sapi Bali lainnya di Sumsel.

Sayangnya, transaksi jual beli antara pedagang lintas provinsi ini tidak terdeteksi oleh Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Sumsel. Para pedagang khususnya di kecamatan terpencil di Sumsel tidak melaporkan jumlah hewan ternak yang masuk ke Sumsel.

“Karena tidak melaporkan ke kita, jadi kita tidak bisa memantau masuknya sapi Bali di Sumsel. Mereka juga tidak memperhatikan kesehatan sapi Bali, dengan tidak adanya surat kesehatan dari dinas terkait, saat proses jual beli,” ucapnya.

Kasus mewabahnya virus Jembrana pada sapi Bali menjelang Idul Fitri 2017 di Sumsel, berawal dari salah satu pengepul hewan ternak di Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Muba, Sumsel, membeli sapi Bali dari Jambi. Warga Kabupaten Muba membeli Sapi Bali sebanyak dua ekor dengan harga di bawah Rp 10 juta. Padahal, harga jualnya biasanya mencapai hingga Rp 15 juta.

“Sapi Bali yang dibeli tersebut tidak langsung dipotong, tapi dicampur dengan sapi Bali lainnya di kandang yang sama,” Romzi membeberkan. Bahkan sapi Bali yang mengidap virus Jembrana ini juga digembalakan. Dari situlah awal mula menyebarnya virus jembrana.

Virus jembrana lalu menyebar di belasan kecamatan di Kabupaten Muba. Bahkan, penyakit yang menyerang benteng pertahanan kesehatan sapi Bali ini mewabah hingga ke kabupaten terdekat di Kabupaten Muba.

Dari puluhan kematian sapi Bali secara dadakan, Dinas Peternakan turun langsung dan memeriksa sampel darah ke laboratorium, di Balai Pengkajian Teknologi Peternakan di Provinsi Lampung. Dari hasil tes laboratorium, kematian sapi Bali di Kabupaten Muba karena terserang virus Jembrana. Awal mewabahnya virus Jembrana terjadi di bulan Maret-April 2017.

Pada November 2017, Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Sumsel baru bisa mengatasinya secara merata, di kabupaten yang terjangkit virus Jembrana. “Di bulan Juli 2017, kita langsung menyurati Dinas Peternakan di kabupaten/kota, agar bisa mengantisipasi lebih cepat penyebaran Virus Jembrana di Sapi Bali,” kata Romzi.

Mereka juga meminta bantuan tambahan vaksinasi Virus Jembrana Sapi Bali ke Direktorat Jenderal (Dirjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian. Tambahan vaksinasi tersebut baru didapatkan sebanyak 7.500 vaksin di akhir tahun 2017. Ribuan vaksin tersebut ternyata belum bisa memberantas penyebaran virus Jembrana sapi Bali di Sumsel.

Di awal Febuari 2018, Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Sumsel kembali mendapatkan 6.000 vaksinasi, yang akan disebar di lokasi yang belum mendapatkan vaksinasi. “Kita mengusulkan 60.000 tambahan vaksinasi, tapi belum terealisasi. Jadi ada beberapa daerah yang belum mendapatkan vaksin ini,” ujarnya.

Diungkapkan Iskandar Subagio, Kasi Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Sumsel, virus Jembrana disebarkan dari lalat yang menghinggapi sapi Bali yang sudah sakit. Lalat yang beterbangan di kandang hewan ternak ini menyebarkan virus Jembrana di makanan, minuman, dan menghinggap ke tubuh sapi Bali. “Masa inkubasi dari penyerangan virus Jembrana ke pertahanan tubuh sapi Bali selama 4-7 hari. Jika sudah terserang, pasti sapi Bali akan mati mendadak,” tuturnya.

“Gejala klinisnya yaitu mengalami demam sampai 42 derajat Celsius, hipersalivasi atau keluar air liur berlebihan, pembengkakan kelenjar pertahanan di punggung kaki, tangan dan telinga,” kata Iskandar. Ada keringat darah, bintik-bintik darah yang keluar dari pori-pori, mencret, dan berak darah, bulu mudah rontok jika diusap.

Lalu terjadi abortus atau keguguran pada sapi betina yang hamil. Namun, tidak semua sapi Bali yang mengidap virus Jembrana menunjukkan gejala seperti ini. Virus Jembrana yang sering disamakan dengan virus HIV/AIDS ini, hanya menyerang sapi Bali saja dan tidak menular ke sapi jenis lain.

Wabah virus mematikan ini, bisa menyerang sapi Bali di mana pun, baik yang berada di kandang kotor, kandang bersih, tempat peternakan hewan maupun sapi peliharaan warga. Untuk mengantisipasinya, Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Sumsel mengerahkan dinas terkait di kabupaten/kota untuk melakukan penyemprotan antiseptik lalat. Vaksinasi yang diberikan untuk satu ekor sapi sebanyak dua kali.

Di Sumsel sendiri, populasi sapi bisa mencapai 200.000 ekor. Dengan jumlah sapi Bali di kisaran angka 72.000 ekor. “Jumlah vaksinasi memang tidak mencukupi, tapi kita berharap stok vaksinasi dari pusat bisa dikirim lagi di tahun ini,” ujarnya.

Selain itu, mereka juga mengimbau kepada para warga agar tidak dulu membeli sapi Bali dari luar provinsi. Jika membeli sapi, harus ada bukti kesehatan dari dinas terkait, untuk menghindari semakin meluasnya virus Jembrana di Sumsel.

Antisipasi lainnya, yaitu sapi Bali yang mengidap virus Jembrana harus segera dipotong dan dijual ke konsumen. Virus tersebut tidak akan terjangkit ke manusia. Hanya saja, sistem pemasakan daging sapi Bali ini harus benar-benar matang.

Sapi Bali mempunyai keunggulan tersendiri dibandingkan jenis sapi lainnnya. Hewan ternak ini cenderung produktif melahirkan anak setiap tahunnya. “Mudah beradaptasi dengan iklim tropis di daerah manapun, bisa mengonsumsi jenis pakan apa pun dan rasio dagingnya lebih banyak dibandingkan tulangnya,” ujar Iskandar.

Adapun Alung, penjual hewan kurban di Jalan Syahyakirti, Kecamatan 36 Ilir, Palembang, mengatakan bahwa sapi Bali cukup mendominasi penjualan saat memasuki Idul Adha. “Pembeli lebih tertarik dengan sapi Bali karena dagingnya yang padat, tulang sapi yang kecil dan jumlah lemak yang lebih sedikit,” ujarnya. Harga jual di kisaran Rp 13 juta hingga Rp 18 juta, tapi tiap tahun modalnya terus naik. (Nefri Inge)

 

Sumber: Liputan 6