Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Thursday, 18 January 2018
itik-yang-kena-flu-burung_20160331_163253

Unggas Mati Mendadak, Peternak Temanggung Waspada Flu Burung

Senin, 27 November 2017

Temanggung – Sebanyak 32 unggas di Desa Keblukan, Kecamatan Kaloran Temanggung mati mendadak dengan gejala mirip terserang virus flu burung, minggu lalu. Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Temanggung telah menerjunkan tim untuk melakukan pemeriksaan.

Kasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan, Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Temanggung, drh. Nurul Khasanah mengatakan hasil pemeriksaan kematian 32 unggas secara mendadak di Desa Keblukan memang positif karena serangan virus flu burung.

”Unggas yang mati itu terdiri dari ayam buras, itik, dan entok atau itik manila. Itu milik sejumlah warga,” kata Nurul Khasanah, (27/11).

Dia mengumumkan bahwa memasuki musim penghujan virus flu burung mulai merebak dan menyerang ternak unggas. Unggas yang staminanya tidak baik akan mati mendadak, sedangkan ternak yang kondisi lebih baik akan sakit dan masih bisa diobati.

“Agar ternak kondisinya baik, peternak harus lebih menjaga kebersihan kandang, dan pakan ternak,” katanya.

Dia mengatakan sebelumnya, kasus flu burung juga menyerang 23 ekor unggas jenis ayam buras dan entok di Desa Bandunggede, Kecamatan Kedu. Atas kejadian itu pihaknya menggalakkan sosialisasi dan pembagian vaksin serta melakukan desinfeksi pada peternakan kecil. “Bantuan ditujukan pada kepemilikan unggas maksimal 5.000 ekor,” katanya.

Berdasar penelitian, terangnya, penyebab flu burung adalah tingkat kelembaban yang tinggi pada musim hujan, kebiasaan mengumbar ternak, dan mencampur unggas berbagai macam unggas seperti entok, bebek, dan ayam menjadi satu kandang.

Dia mengemukakan warga biasanya akan langsung mencampur ayam baru usai dibeli dengan yang lama di kandang. Padahal seharusnya dipisah dulu untuk mengetahui apakah kondisinya betul-betul sehat atau ada penyakitnya. Jika ayam baru itu sehat, maka tidak ada penyebaran virus dan penyakit.

Nurul mengatakan meski sudah mulai muncul flu burung, tetapi dibandingkan tahun 2016 lalu, kasus tahun ini masih tergolong rendah. Sepanjang periode Januari – November hanya ada 55 unggas yang mati karena flu burung di dua tempat. Berbeda dengan tahun lalu, tercatat mencapai 1.737 unggas yang terkena flu burung. (Osy)

 

Sumber: KrYogya