Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Friday, 20 October 2017

Trypanosomiasis (Surra)

Selasa, 25 Februari 2014

II. Etiologi

Penyebab

Penyakit Surra disebabkan oleh protozoa yang merupakan parasit darah, yaitu Trypanosoma evansi. Parasit ini dapat ditemukan di dalam sirkulasi darah pada fase infeksi akut. T. evansi memiliki ukuran panjang 15 to 34 μm dan dapat membelah (binary fission) untuk memperbanyak diri. Bentuknya yang khas seperti daun atau kumparan dicirikan dengan adanya flagella yang panjang sebagai alat gerak. Di bagian tengah tubuh terdapat inti. Salah satu ujung tubuh berbentuk lancip, sedangkan ujung tubuh yang lain agak tumpul dan terdapat bentukan yang disebut kinetoplast.

Trypanosoma evansi memiliki morfologi yang mirip dengan trypanosoma lainnya seperti T. equiperdum, T. brucei, T. gambiense dan T. rhodesiense. Permukaan tubuh T. evansi diselubungi oleh lapisan protein tunggal yaitu glikoprotein yang dapat berubah-ubah bentuk (variable surface glycoprotein). Dengan kemampuan glikoprotein yang dapat berubah bentuk, maka T. evansi dapat memperdaya sistem kekebalan tubuh inang (host). Konsekuensinya akan terjadi variasi antigenik (antigenic variation) dimana tubuh akan selalu berusaha membentuk antibodi yang berbeda-beda sesuai dengan protein permukaan yang ditampilkan oleh T. evansi.

Di alam terdapat berbagai jenis trypanosoma pada hewan (animal trypanosomes) yang dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu non patogen dan patogen. Trypanosoma lewisi merupakan trypanosoma non patogen yang ditemukan pada tikus dan ditularkan melalui pinjal (rat flea). Jenis trypanosoma yang patogen diantaranya Trypanosoma brucei yang menyebabkan penyakit Nagana pada ternak di Afrika, Trypanosoma equiperdum diketahui menyebabkan penyakit Dourine pada kuda yang ditularkan melalui perkawinan (venereal disease). Trypanosoma equinum yang ditularkan secara mekanis oleh lalat Tabanus dapat menyebabkan penyakit Mal de Caderas pada kuda di Amerika Selatan. Di Afrika, Trypanosoma vivax dan Trypanosoma congolense yang ditularkan oleh lalat tsetse dapat menginfeksi ternak dan manusia (human trypanosomiasis). Adapun Trypanosoma evansi yang ditularkan secara mekanik oleh lalat tabanus dapat menyebabkan penyakit Surra pada kuda, sapi dan kerbau.

Sifat Agen

Trypanosoma evansi merupakan parasit yang bersirkulasi dalam sistem peredaran darah. Parasit ini mengambil glukosa sebagai sumber nutrisinya sehingga apabila hewan terinfeksi tidak memperoleh asupan nutrisi yang baik maka akan terjadi penurunan kadar gula dalam darah. Kemampuan T. evansi menghasilkan racun (trypanotoxin) dan melisiskan sel darah merah akan berujung kepada kondisi anemia pada hewan inang (host).

T. evansi tidak mampu bertahan hidup lama, baik di lingkungan maupun pada bangkai hewan (OIE, 2009). Parasit ini hanya mampu hidup kurang dari 1 jam di dalam karkas pada temperatur ruang. Di lingkungan, ekspos terhadap sinar matahari selama 30 menit akan mematikan trypanosoma. Pada peralatan yang terkontaminasi darah segar, trypanosoma dapat bertahan dalam waktu singkat, kemudian mati setelah darah menjadi kering.

Imunitas

Kehadiran T. evansi dalam sirkulasi darah akan menggertak reaksi imunitas (kekebalan). Hal ini terjadi seiring dengan peningkatan kadar protein dalam serum terutama immunoglobulin M (IgM) sebagai respon imunitas tubuh terhadap adanya infeksi. Penelitian yang dilakukan oleh Payne et al. (1991) terhadap 15 ekor anak sapi dan 11 ekor anak kerbau di Jawa Barat-Indonesia menemukan antibodi terhadap T. evansi yang diduga berasal dari kolostrum. Pada hewan yang terinfeksi, pengobatan yang diberikan di awal masa infeksi/infeksi akut hanya dapat menggertak titer antibodi yang bersifat sementara (transient antibody titre), sementara itu pada hewan terinfeksi kronis antibodi akan terbentuk setelah 4 bulan pasca pengobatan (Nantulya, 1990).

Trypanosoma mempunyai beberapa gen yang mengkode berbagai variasi glikoprotein permukaan bersifat antigenik yang dikenal dengan istilah variable antigenic type (VAT). Setiap saat trypanosoma berkembangbiak di dalam tubuh inang, maka akan dibentuk variasi glikoprotein (VAT) yang baru. Antibodi yang dibentuk oleh tubuh akan menyesuaikan dengan VAT tersebut. Dengan demikian, imunitas tubuh inang akhirnya akan selalu berupaya untuk membentuk berbagai antibodi yang sesuai dengan variasi antigenik yang ditampilkan oleh trypanosoma.

Kondisi imunosupresi (penurunan daya tahan tubuh) yang parahdapat terjadi pada infeksi olehagen Trypanosoma evansi. Akibatnya hewan inang menjadi lebih rentan terhadap infeksi sekunder. Respon imun tubuh inang untuk membentuk antibodi pasca vaksinasi juga mengalami penurunan. Program vaksinasi penyakit viral atau bakterial pada hewan yang terinfeksi T. evansi harus ditunda hingga kondisi ternak membaik setelah diberikan pengobatan trypanosidal.

  • achmad wahyudi

    jelaskan mengapa manusia tidak dapat memproduksi respon immun yang effektif saat terinfeksi penyakit yang disebabkan oleh trypanosoma ( protozoa parasit