Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Saturday, 24 June 2017

Rabies

Senin, 24 Februari 2014

III. Epidemiologi

Pathogenesa dan Penyebaran Virus

Virus rabies masuk kedalam tubuh pada umumnya masuk kedalam tubuh melalui perlukaan dan melalui gigitan hewan yang terinfeksi Rabies. Gigitan dari hewan yang terinfeksi adalah rute yang paling penting dan paling sering terjadi dalam proses infeksi Rabies. Didalam sebuah review pada tahun 1927-1946 kasus-kasus Rabies pada manusia hampir sekitar 99,8% disebabkan oleh gigitan hewan yang terinfesi Rabies meskipun kasus-kasus Rabies dari bentuk transmisi lain pernah dilaporkan, seperti melalui jilatan terhadap membran mukosa, kontaminasi materi infeksius pada cakaran yang bersifat transdermal bahkan vaksin rabies inaktif yang menyebabkan infeksi juga pernah dilaporkan (Child, 2002). Virus yang masuk kedalam tubuh melalui gigitan akan ber-replikasi dalam otot atau jaringan ikat pada tempat inokulasi dan kemudian memasuki saraf tepi pada sambungan neuromuskuler dan menyebar sampai ke susunan saraf pusat (SSP).

Virus terus ber-replikasi hingga masuk menuju kelenjar ludah dan jaringan lain. Sehingga virus ini pada umumnya menyebar ke hewan lain melalui saliva dari hewan yang terinfeksi (melalu gigitan). Kepekaan terhadap infeksi dan masa inkubasinya bergantung pada latar belakang genetik inang, strain virus yang terlibat, konsentrasi reseptor virus pada sel inang, jumlah inokulum, beratnya laserasi, dan jarak yang harus ditempuh virus untuk bergerak dari titik masuk ke SSP. Terdapat angka serangan yang lebih tinggi dan masa inkubasi yang lebih pendek pada orang yang digigit pada wajah atau kepala.

Virus Rabies mempunyai kemampuan untuk menginfeksi antar sel dan jaringan (in vitro) dan dan dalam sel (in vivo). Virus rabies mempunyai opsi untuk menyebar ke sel yang terinfeksi atau sel sehat melalui jaringan intertisial. Pada tipe penyebaran in vivo, virus menyebar didalam sel khususnya sel-sel saraf perifer dan sel neuron dari SSP melalui transport intraaxonal dan microtube network dependent process. Virus yang bergerak dalam sistem intraaxonal, mempunyai kemampuan daya jelajah yang tinggi terutama pada neuron bipolar sebelum masuk dan menyebrang kedalam synaps dari suatu sel saraf ke sel saraf yang lain (Wunner, 2002). Secara postulat bahwa nucleokapsid dari virus mungkin ditransportasikan dalam aliran axonplasmic sepanjang axon melalui synaps ke dalam postsynaptic neuron meskipun postulat ini masih dianggap lemah. Studi akhir-akhir ini menunjukkan bahwa kemampuan virus Rabies dalam melakukan menginfeksi sel didalam inang bergantung pada protein G dari virion (Etessami et al., 2000). Studi lain yang menunjukkan bahwa fenotp penyalit Rabies yang diperlihatkan oleh Inang (Dumb Rabies dan Severe Rabies) bergantung pada tipe virus yang menginfeksi SSP (Coulon et al., 1989).

Susunan sel syaraf

Sumber: (http://www.steve.gb.com, 2006)

Epidemiololgy Rabies pada hewan Domestik dan Satwa Liar

Distribusi penyakit Rabies sangat bervariasi untuk setiap belahan dunia. Rabies adalah penyakit zoonosis yang pada umumnya berasal dari satwa liar yang menyerang hewan-hewan domestik dan manusia atau dari hewan domestik yang tertular kemudian ke manusia. Hewan-hewan utama yang merupakan pembawa rabies (HPR=Hewan Pembawa Rabies) umumnya berbeda untuk setiap benua. Di Eropa hewan utama pembawa Rabies adalah rubah dan kelelawar, di Timur Tengah hewan pembawa rabies utama adalah srigala dan anjing, di benua Afrika HPR utama adalah anjing, mongoose dan antelop, untuk Asia ialah anjing, Amerika utara ialah rubah, sigung, rakun, dan kelelawar pemakan serangga dan untuk Amerika selatan HPR yang utama adalah anjing dan kelelawar vampire(http://virology-online.com/, 2010).

Kelelawar dikenal sebagai reservoir utama di alam di berbagai belahan dunia. Banyak dilaporkan perihal kasus Rabies setelah adanya gigitan oleh kelelawar. Hewan domestik yang utama sebagai hewan yang dapat terinfeski rabies adalah anjing, kucing dan ternak. Sedangkan untuk satwa liar HPR umumnya adalah sigung, kelelawar, rubah, tupai, rakun, badgers dan mongoose(http://virology-online.com/, 2010). Satwa-satwa liar inilah yang merupakan sumber penularan Rabies ke hewan-hewan domestik bahkan ke manusia.

Rabies pada satwa liar umumnya melibatkan satwa karnivora dan kelelawar. Satwa-satwa ini adalah reservoir utama penyakit Rabies yang menularkan ke hewan-hewan peliharaan dan ternak. Proses translokasi manusia ke daerah-daerah baru merupakan salah satu faktor dalam proses penularan Rabies dari satwa liar ke hewan domestik seperti anjing dan kucing maupun ternak ruminansia.

Penularan virus rabies dari hewan liar ke hewan domestik

Sumber: (http://www.in.gov)

Hampir setiap tahun di Amerika Serikat dan Puerto Rico kasus gigitian HPR satwa liar dilaporkan dengan jumlah proporsi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan hewan domestik seperti anjing dan kucing. Keadaan ini terbalik dengan negara-negara berkembang yang sering melaporkan kasus-kasus gigitan yang berasal dari hewan domestik seperti anjing.

Jumlah kasus Rabies yang dilaporkan dari hewan domestik dan hewan liar pertahun di Amerika Serikat dan Puerto Rico (1976-2006)

Sumber: (Center for Disease Control (CDC), 2007)

Rabies di hewan domestik masih merupakan ancaman utama untuk penyakit Rabies di Negara-negara berkembang. Derajat kedekatan antar hewan domestik seperti anjing tanpa pemilik atau menjadi liar dengan manusia serta tingkat pengetahuan masyarakat yang rendah merupakan hal utama yang menyebabkan tingkat ancaman Rabies oleh anjing lebih besar jika dibandingkan dengan hewan liar di alam meskipun gigitan oleh hewan liar pembawa rabies masih sering di laporkan. Anjing sebagai hewan sahabat bagi manusia merupakan permasalahan yang utama diberbagai negara berkembang khususnya di Asia yang mengalami masalah dalam kontrol populasi anjing liar. Rabies pada anjing pada negara-negara berkembang dapat memelihara proses siklus virus rabies di alam hingga menuju manusia. Pada hewan ternak Rabies juga merupakan salah satu penyakit yang berpotensial merugikan secara ekonomi terlebih di negara-negara Amerika Selatan seperti Argentina, Meksiko dan Brazil. Hal ini terkait dengan sebaran keberadaan kelelawar vampire (Desmodus rotudus) (Acha, 1967) yang memakan darah ternak sebagai salah satu sumber makanannya. Di Amerika Utara sigung dan rakun selalu dikaitkan dengan penyebaran Rabies pada ternak (Krebs et al., 2000).

Di Indonesia HPR utama pada hewan domestik adalah anjing, kucing dan monyet. Serangan yang disebabkan oleh anjing hampir dilaporkan setiap tahun dari berbagai daerah tertular di Indonesia terutama Sumatera Barat, Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur. Pada tahun 2008 Provinsi Bali melaporkan adanya kasus gigitan pertama yang dikonfirmasi sebagai rabies. Ini adalah kasus pertama yang di pernah dilaporkan dari pulau dengan populasi anjing yang tinggi jika dibandingkan dengan provinsi lainnya. Menurut perkiraan sekitar 600 ribu ekor (tidak ada data pasti mengenai jumlah populasi anjing yang sebenarnya di Bali) atau sekiktar 96 ekor per Km2 (Naipospos, 2010)(rasio manusia dengan anjing di Bali yaitu 1:8). Menurut laporan Departemen Kesehatan Republik Indonesia di Indonesia, kasus gigitan rabies ke manusia mencapai jumlah 20.926 kasus gigitan per tahun pada tahun 2010 yang terlaporkan kepada Dinas-Dinas Kesehatan di seluruh Kabupaten di Indonesia(Departemen Kesehatan, 2008)

Penularan Rabies di Indonesia umumnya berawal dari suatu kondisi anjing yang tidak dipelihara atau tanpa pemilik (rural Rabies) yang berkembang hingga mencapai populasi yang sulit dikendalikan (Departemen Pertanian, 2007). Keadaan ini-lah yang menyebabkan daerah-daerah di Indonesia menjadi endemis terhadapa Rabies.

Pola penyebaran Rabies di Indonesia umumnya terjadi pada anjing liar, anjing peliharaan dan manusia.

Pola Penyebaran Rabies di Indonesia

Sumber: (Departemen Pertanian, 2007)

Epidemiologi Rabies Pada Manusia

Manusia adalah salah satu komponen dari siklus penyakit Rabies yang merupakan “dead end” dari siklus penyakit ini karena hampir selalu menyebabkan kematian. Transmisi manusia ke manusia adalah jarang, tetapi hal ini pernah dilaporkan di Perancis pada proses operasi transplantasi kornea mata pada tahun 1980 (Child, 2002). Bahkan pada tahun 2005 dari hasil investigasi kematian 4 pasien yang melakukan transplantasi ginjal, hati dan arterial segment yang mengalami enchepalitis tanpa diketahui penyebabnya. Hasil investagisai menyatakan bahwa terdapat partikel virus Rhabdovirus penyebab Rabies berdasarkan diagnosa pada SSP dengan mikroskop elektron, immunohistokimia, fluoroscent antibody (FAT) test (Srinivasan et al., 2005).

Di berbagai belahan dunia sangat susah untuk mengestimasikan jumlah kasus kematian yang disebabkan oleh Rabies. Hal in terkait dengan sistem surveillans dan tidak adanya laboratorium yang cukup dan memadai di berbagai belahan dunia. WHO menyatakan bahwa sekitar 55.000 orang per tahun mati karena Rabies, 95% dari jumlah itu berasal dari Asia dan Afrika (WHO, 2008). Sebagian besar dari korban sekitar 30-60% adalah anak-anak usia kecil dibawah 15 tahun (WHO, 2008). Rute utama penyebaran penyakit Rabies ini adalah gigitan dari anjing yang terkena Rabies . Kematian umumnya disebabkan oleh tidak adanya perlakuan atau kurangnya perlakuan yang baik (post exposure treatment) dari korban yang terkena Rabies.

Faktor risiko

Secara umum banyak faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan penyakit Rabies. Tetapi hal yang paling umum khususnya dinegara-negra berkembang (seperti di Indonesia) pada hewan domestic adalah pemeliharaan anjing yang dilepaskan tanpa pengawasan, praktek perburuan dengan menggunakan anjing dan lalulintas anjing menjadi salah satu faktor risiko utama penyebaran penyakit ini dari suatu daerah ke daerah lain.