Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Wednesday, 23 August 2017

Brucellosis

Minggu, 23 Februari 2014

III. Epidemiologi

Inang

Brucellosis umumnya menginfeksi sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi. Brucellosis pada sapi dan kerbau utamanya disebabkan oleh Brucella abortus, namun infeksi oleh B. suis dan B melitensis juga kadang dapat ditemukan. Pada babi, brucellosis disebabkan oleh Brucella suis. Brucellosis pada kambing dan domba disebabkan oleh B. melitensis dan B. ovis, sedangkan pada kuda oleh B. abortus dan B. suis. Pada anjing, brucellosis utamanya disebabkan oleh B. canis, bila ditemukan infeksi oleh B. abortus, B. suis, atau B. melitensis maka hal tersebut umumnya berkaitan dengan adanya infeksi brucellosis pada ternak di sekitarnya.

Cara penularan

Brucellosis ditularkan melalui ingesti bakteri yang terdapat dalam susu, fetus abortus, membran fetus, dan cairan uterus atau kopulasi dan inseminasi buatan. Pada sapi jantan, bakteri ini dapat ditemukan dalam semen yang dihasilkan. Pada domba, brucellosis juga diketahui dapat ditularkan antar domba jantan melalui kontak langsung. Infeksi biasanya tahan lama pada domba jantan dan B. ovis akan diekskresikan dalam persentasi yang tinggi secara intermiten selama kira-kira =4 tahun.

Brucellosis dapat ditularkan ke manusia melalui konsumsi susu segar dan produk susu dari hewan yang terinfeksi atau kontak langsung dengan sekresi, ekskresi, dan bagian tubuh hewan yang terinfeksi, seperti jaringan, darah, urin, cairan vagina, fetus abortus, dan plasenta.

Kejadian di dunia dan Indonesia

Brucellosis tersebar secara luas di seluruh dunia. Sebagian besar negara maju sudah berhasil mengendalikan penyakit pada ternak dan hewan kesayangan, namun masih kesulitan mengeradikasi brucellosis pada populasi satwa liar. Hanya ada satu negara yang berhasil membebaskan diri dari brucellosis, yaitu Irlandia pada Juli 2009.

Brucellosis pertama kali dilaporkan di Indonesia pada tahun 1953. Sejak itu reaktor brucellosis telah ditemukan secara luas di pulau-pulau besar di Indonesia, seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Pulau Timor, kecuali Bali. Pada tahun 2002, pulau Bali dinyatakan bebas historis penyakit brucellosis melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 443/Kpts/TN.540/7/2002, sementara pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dinyatakan bebas penyakit brucellosis melalui program pemberantasan dalam Keputusan Menteri Pertanian No. 444/Kpts/TN.540/7/2002. Di tahun 2009, Provinsi Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan Kepulauan Riau dinyatakan bebas dari penyakit brucellosis pada sapi dan kerbau melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 2541/Kpts/PD.610/6/2009 dan pulau Kalimantan juga dinyatakan bebas dari penyakit brucellosis pada sapi dan kerbau melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 2540/Kpts/PD.610/6/2009.

Faktor Risiko

Beberapa faktor risiko penyebaran brucellosis adalah pemasukan hewan terinfeksi atau carrier ke dalam peternakan, lingkungan, kandang, dan peralatan yang teinfeksi, serta manusia.