Vets for a Better Life
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Monday, 21 September 2020

Ada Apa Daging Sapi?

Jumat, 9 September 2011

Niat baik Menteri Pertanian Suswono mengadakan sensus sapi bersama Badan Pusat Statistik patut dihargai. Setidaknya, data baru hasil sensus membuka lembaran baru industri persapian Indonesia. Sekaligus menjadi pijakan kokoh dalam pengambilan kebijakan dalam peningkatan produksi daging sapi dalam negeri untuk mencapai target swasembada daging sapi tahun 2014.

Seperti tertuang dalam cetak biru swasembada daging sapi 2014, dengan target populasi 14,23 juta ekor, kemampuan produksi daging sapi dalam negeri 420.200 ton. Dengan begitu, impor daging sapi hanya 32.000 ton.

Untuk mencapai itu, perlu dukungan anggaran Rp 10,65 triliun dalam lima tahun ke depan. Untuk skenario pesimistis, perlu anggaran Rp 2,24 triliun. Skenario optimistis, perlu dukungan dana Rp 20 triliun.

Di luar perkiraan semula dalam cetak biru, populasi sapi hasil sensus BPS sebanyak 14,8 juta ekor. Jauh di atas perkiraan populasi tahun 2009 sebanyak 12,6 juta ekor.

Yang juga tak kalah membahagiakannya, populasi sapi 2010 sebanyak 14,8 juta ekor, jauh melampau target populasi sapi 2014, seperti yang tertuang dalam cetak biru sebanyak 4,23 juta ton.

Apabila mengacu pada cetak biru, melihat kenyataan populasi sapi 2010 mencapai 14,8 juta ekor, idealnya Indonesia saat ini sudah swasembada daging sapi.

Dengan begitu, idealnya anggaran swasembada daging sapi yang tadinya diproyeksikan Rp 10,65 triliun tidak diperlukan lagi. Menyadari ada yang tidak sesuai, Suswono melakukan pembahasan ulang cetak biru swasembada daging sapi 2014.

Ketidaksesuaian ini tampak dari, sampai Desember 2010 impor daging sapi dan jeroan sebanyak 120.000 ton dan impor sapi bakalan hingga 650.000 ekor.

Impor daging dan sapi 2010 masih bisa dimaklumi karena hasil sensus BPS baru diumumkan September 2011. Begitu pula dikeluarkannya izin impor daging sapi 2011 sampai Agustus masih bisa dipahami. Akan tetapi, kalau pada September 2011 pemerintah masih mengalokasikan tambahan impor daging sapi sebanyak 28.000 ton, 7.000 diantaranya untuk Januari 2012, tentu sulit dipahami.

Kementerian Pertanian telah menetapkan target swasembada lima komoditas pangan, yakni beras, jagung, kedelai, gula, dan daging sapi. Di antara lima komoditas pangan tersebut, yang paling kecil tantangannya adalah swasembada daging sapi.

Pertama, peningkatan produksi daging sapi tidak mengalami kendala lahan. Selama ini, tantangan peningkatan produksi beras, jagung, kedelai, dan gula adalah soal lahan.

Kompetisi lahan di antara keempat komoditas itu sangat ketat karena keempat komoditas itu potensial ditanam di lahan yang sama. Ketika harga beras tinggi, misalnya, petani beralih dari jagung, kedelai, atau tebu. Begitu pula ketika harga jagung, kedelai, dan gula yang berbahan baku tebu naik. Petani akan meninggalkan komoditas padi dan beralih menanam komoditas yang lebih menguntungkan.

Belum lagi daya tarik harga dari komoditas lain, seperti cabe dan bawang merah. Ketatnya kompetisi menjadikan ruang gerak peningkatan produksi beras, jagung, kedelai, dan tebu mengalami tantangan serius. Belum lagi dari aspek konversi lahan yang belum bisa dikendalikan.

Para pemain di sektor peternakan sapi juga sudah siap. Perusahaan penggemukan sapi siap meningkatkan produksi karena kapasitas mereka jauh dari optimal.

Koperasi peternakan juga tumbuh. Masyarakat juga sudah terbiasa memelihara sapi sejak zaman nenek moyang. Indonesia juga memiliki bibit-bibit sapi unggul, yang mampu meningkatkan efektivitas inseminasi buatan. (HERMAS E PRABOWO)

Sumber : Kompas

Tinggalkan Balasan

Ada Apa Daging Sapi?

by boghen time to read: 2 min
0