Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Monday, 21 August 2017

Malignant Catarrhal Fever (MCF)

Minggu, 23 Februari 2014

Gejala Klinis

Tanda-tanda klinis MCF sangat bervariasi mulai dari per akut sampai kronis.

Pada Hewan

Dalam bentuk per akut, terkadang tidak ada tanda-tanda klinis yang terdeteksi, atau muncul gejala depresi yang diikuti oleh diare dan disentri yang dapat berkembang dalam 12-24 jam sebelum kematian. Secara umum, serangan gejala yang timbul seperti demam tinggi, peningkatan lakrimasi serous dan eksudat nasal, akan berkembang untuk mengeluarkan mukopurulen yang banyak. Pada hewan yang sedang laktasi, akan menghasilkan penurunan produksi susu. Secara khas, kedua kornea berkembang menjadi putih, dimulai dari perifer. Beberapa kasus luka pada kulit (dicirikan oleh koreng dan keluarnya eksudat), dapat menjadi keras, nekrosis di epidermis dan sering hanya terbatas pada perineum, ambing dan puting susu.

Salivasi dengan hiperemi merupakan gejala awal, yang akan berkembang menjadi erosi pada lidah, palatum durum, gusi dan secara khas menyerang papilla yang ada di sisi dalam pipi. Limponodus superfisial dapat membesar dan kaki depan akan membengkak. Gejala saraf seperti hyperesthesia, inkoordinasi, nystagmus dapat muncul pada keadaan tidak adanya tanda-tanda klinis lainnya atau sebagai bagian dari sindrom yang meluas.

Banyak spesies hewan yang rentan terhadap OvHV-2, mulai dari Bos taurus dan B. indicus yang relatif resisten, berbagai spesies kijang, banteng (Bison bison) dan kerbau (Bubalus bubalis) yang jauh lebih rentan, sampai sapi Bali yang sangat rentan (Bos javanicus) dan rusa Pere David’s (Elaphurus davidianus). Spesies yang lebih resisten cenderung mengalami infeksi dan lesio, sedangkan pada spesies yang lebih rentan, tanda-tanda klinis yang muncul kurang dramatis. Laporan dari berbagai negara dan terutama dari Norway baru-baru ini, menyatakan babi terserang penyakit ini. Gejala yang timbul sama dengan gejala-gejala akut yang diperlihatkan pada sapi. Bentuk “mild” (ringan) yang dijelaskan pada tahun 1930 (was regarded with some skepticism) karena hanya dapat dikonfirmasi dengan perubahan histologi post mortem.

Penyelidikan yang dilakukan baru-baru ini dengan menggunakan metode molecular dan serologi dapat mengkonfirmasi bahwa beberapa hewan terinfeksi dapat pulih meskipun memeperlihatkan gejala ringan atau bahkan reaksi klinis yang cukup. Beberapa studi menunjukkan bahwa sejumlah besar hewan dapat terinfeksi tanpa memperlihatkan gejala klinis.

Pada Manusia

MCF belum pernah dilaporkan dapat menyebabkan infeksi pada manusia.

  • dokterternak

    Di artikel ini tertulis:
    “Di Indonesia MCF juga disebut sebagai Bovine Epimeral Fever dan penyakit ini merupakan penyakit yang umum menyerang sapi di Indonesia (Sianturi, 2007).”

    Padahal etiologinya saja sdh berbeda..