Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Saturday, 24 June 2017

Malignant Catarrhal Fever (MCF)

Minggu, 23 Februari 2014

Etiologi

MCF disebabkan oleh virus dari famili Herpesvirus. Penyebab utama penyakit ini adalah dua bovid gammaherpesvirus yang terjadi subklinis di induk semang alaminya. MCF pada banteng disebabkan oleh virus yang disebut ovine herpesvirus-2 (OvHV-2). Terkait erat dengan virus yang disebut Alcelaphine herpesvirus-1 (AlHV-1) yang bertanggung jawab untuk kebanyakan kasus MCF di Afrika. Virus-virus ini terkait satu sama lain dan juga terkait dengan gammaherpesvirus lain seperti Kaposi’ssarcoma-associated herpesvirus (KSHV), Epstein–Barr virus(EBV) dan murine gammaherpesvirus (MHV-68).

Wildebeest (Connochaetes taurinus) membawa AlHV-1 yang bertanggungjawab terhadap wildebeest-derived form of MCF (WD-MCF). Di Sahara-Afrika, transmisi silang antar spesies ke hewan lain yang rentan dapat terjadi ketika wildebeest sedang merumput di suatu area. WD-MCF juga dilaporkan di seluruh dunia pada koleksi kebun binatang dimana juga terdapat hewan-hewan artiodactyl termasuk didalamnya adalah wildebeest. Secara eksperimental, WD-MCF dapat terjadi pada kelinci. Lesio-lesio yang diamati sama dengan yang digambarkan pada induk semang alaminya (Dewals et al., 2008)

Karakteristik Agen

Malignant Catarrhal Fever disebabkan oleh satu atau dua gamma herpesvirus. Serotipe spesifik dapat berubah-ubah tergantung dari spesies dan distribusi geografisnya. Wildebeest di Afrika merupakan induk semang alami yang membawa Alcelaphine herpesvirus-1 (AlHV-1). Semua jenis domba domestik di Amerika Utara dan dunia merupakan pembawa dari ovine herpesvirus-2 (OvHV-2). Alcelaphine herpesvirus-2 (AlHV-2) adalah non-patogenik tapi bersifat laten pada wildebeest (Connochaetes taurinus) dan hartebeest (Alcelaphus buselaphus). Baru-baru ini diberitakan bahwa kambing terinfeksi secara endemik oleh caprine herpesvirus-2 (CpHV-2).

Herpesvirus ini terdiri dari nukleokapsid yang mempunyai selaput luar dan berbentuk poligonal. Virus ini bersifat tahan pada suhu 50oC sampai -60oC kering beku dapat bertahan 1 minggu. Dalam gliserin 50% tahan sampai 7 hari. Tetapi labil pada proses beku cair. Virus ini tahan lama dalam sel dari pada di luar sel dan penyakitnya bersifat sporadis (Anonimous, 2009).

Siklus hidup

Infeksi dimulai saat partikel virus kontak dengan sel yang mempunyai reseptor tertentu di permukaan selnya, kemudian glikoprotein dari amplop virus berikatan dengan reseptor tersebut dan DNA virus akan masuk. DNA virus bermigrasi ke nukleus dan di dalam nukelus terjadi replikasi dan transkripsi DNA virus. Pada infeksi yang menunjukkan gejala, sel-sel inang yang terinfeksi oleh virus mentranskripsikan gen virus yang bersifat lisis tetapi ada juga beberapa sel inang yang mentranskripsikan gen virus yang laten (virus dormant dalam sel). Virus laten, dalam jangka panjang tidak menunjukkan gejala. Virus laten ini bisa direaktivasi. Jika virus laten tersebut terbangun maka akan terjadi replikasi dan produksi virus. Dari virus laten ini dapat menyebabkan sel lisis dan seringkali menyebabkan kematian sel (lytic) dalam prosesnya. Aktivasi lytic umumnya ditandai dengan munculnya gejala penyakit yang tidak spesifik seperti demam ringan, sakit kepala, sakit tenggorokan, lemah, letih, lesu, gejala peradangan pada kelenjar limfe, bisa juga temuan imunologis seperti berkurangnya jumlah natural killer cells (Wikipedia, 2009).

Transmisi

Domba dapat terinfeksi setelah lahir. Infeksi terjadi antara sejak kelahiran sampai umur 4 bulan dan kebanyakan domba terinfeksi pada umur 4 bulan atau lebih awal. Transmisi plasenta dapat terjadi namun jarang. Transmisi secara horizontal melalui kontak fisik dengan hewan satu flock merupakan cara utama transmisi antar domba. Virus DNA OvHV-2 dengan level tinggi secara konsisten ditemukan dalam sekresi nasal pada domba, jadi dapat dikatakan hidung merupakan portal yang penting terhadap pengeluaran OvHV-2. Virus tersebut tidak menyebabkan kesakitan pada domba. Sapi, banteng dan rusa juga dapat terinfeksi melalui transmisi horisontal, yaitu tranfer virus melalui sekresi nasal (O’Toole et al., 2000). Rumput kering, sumber air, burung dan pekerja dapat memfasilitasi transmisi virus tersebut.

Transmisi ke manusia

MCF belum terdokumentasi dapat ditransmisikan ke manusia. Virus ini sendiri dapat dengan cepat diinaktivasi oleh sinar matahari dimana dapat menurunkan proses penularan melalui fomite.

  • dokterternak

    Di artikel ini tertulis:
    “Di Indonesia MCF juga disebut sebagai Bovine Epimeral Fever dan penyakit ini merupakan penyakit yang umum menyerang sapi di Indonesia (Sianturi, 2007).”

    Padahal etiologinya saja sdh berbeda..