Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Sunday, 22 July 2018

Malignant Catarrhal Fever (MCF)

Minggu, 23 Februari 2014

Etiologi

MCF disebabkan oleh virus dari famili Herpesvirus. Penyebab utama penyakit ini adalah dua bovid gammaherpesvirus yang terjadi subklinis di induk semang alaminya. MCF pada banteng disebabkan oleh virus yang disebut ovine herpesvirus-2 (OvHV-2). Terkait erat dengan virus yang disebut Alcelaphine herpesvirus-1 (AlHV-1) yang bertanggung jawab untuk kebanyakan kasus MCF di Afrika. Virus-virus ini terkait satu sama lain dan juga terkait dengan gammaherpesvirus lain seperti Kaposi’ssarcoma-associated herpesvirus (KSHV), Epstein–Barr virus(EBV) dan murine gammaherpesvirus (MHV-68).

Wildebeest (Connochaetes taurinus) membawa AlHV-1 yang bertanggungjawab terhadap wildebeest-derived form of MCF (WD-MCF). Di Sahara-Afrika, transmisi silang antar spesies ke hewan lain yang rentan dapat terjadi ketika wildebeest sedang merumput di suatu area. WD-MCF juga dilaporkan di seluruh dunia pada koleksi kebun binatang dimana juga terdapat hewan-hewan artiodactyl termasuk didalamnya adalah wildebeest. Secara eksperimental, WD-MCF dapat terjadi pada kelinci. Lesio-lesio yang diamati sama dengan yang digambarkan pada induk semang alaminya (Dewals et al., 2008)

Karakteristik Agen

Malignant Catarrhal Fever disebabkan oleh satu atau dua gamma herpesvirus. Serotipe spesifik dapat berubah-ubah tergantung dari spesies dan distribusi geografisnya. Wildebeest di Afrika merupakan induk semang alami yang membawa Alcelaphine herpesvirus-1 (AlHV-1). Semua jenis domba domestik di Amerika Utara dan dunia merupakan pembawa dari ovine herpesvirus-2 (OvHV-2). Alcelaphine herpesvirus-2 (AlHV-2) adalah non-patogenik tapi bersifat laten pada wildebeest (Connochaetes taurinus) dan hartebeest (Alcelaphus buselaphus). Baru-baru ini diberitakan bahwa kambing terinfeksi secara endemik oleh caprine herpesvirus-2 (CpHV-2).

Herpesvirus ini terdiri dari nukleokapsid yang mempunyai selaput luar dan berbentuk poligonal. Virus ini bersifat tahan pada suhu 50oC sampai -60oC kering beku dapat bertahan 1 minggu. Dalam gliserin 50% tahan sampai 7 hari. Tetapi labil pada proses beku cair. Virus ini tahan lama dalam sel dari pada di luar sel dan penyakitnya bersifat sporadis (Anonimous, 2009).

Siklus hidup

Infeksi dimulai saat partikel virus kontak dengan sel yang mempunyai reseptor tertentu di permukaan selnya, kemudian glikoprotein dari amplop virus berikatan dengan reseptor tersebut dan DNA virus akan masuk. DNA virus bermigrasi ke nukleus dan di dalam nukelus terjadi replikasi dan transkripsi DNA virus. Pada infeksi yang menunjukkan gejala, sel-sel inang yang terinfeksi oleh virus mentranskripsikan gen virus yang bersifat lisis tetapi ada juga beberapa sel inang yang mentranskripsikan gen virus yang laten (virus dormant dalam sel). Virus laten, dalam jangka panjang tidak menunjukkan gejala. Virus laten ini bisa direaktivasi. Jika virus laten tersebut terbangun maka akan terjadi replikasi dan produksi virus. Dari virus laten ini dapat menyebabkan sel lisis dan seringkali menyebabkan kematian sel (lytic) dalam prosesnya. Aktivasi lytic umumnya ditandai dengan munculnya gejala penyakit yang tidak spesifik seperti demam ringan, sakit kepala, sakit tenggorokan, lemah, letih, lesu, gejala peradangan pada kelenjar limfe, bisa juga temuan imunologis seperti berkurangnya jumlah natural killer cells (Wikipedia, 2009).

Transmisi

Domba dapat terinfeksi setelah lahir. Infeksi terjadi antara sejak kelahiran sampai umur 4 bulan dan kebanyakan domba terinfeksi pada umur 4 bulan atau lebih awal. Transmisi plasenta dapat terjadi namun jarang. Transmisi secara horizontal melalui kontak fisik dengan hewan satu flock merupakan cara utama transmisi antar domba. Virus DNA OvHV-2 dengan level tinggi secara konsisten ditemukan dalam sekresi nasal pada domba, jadi dapat dikatakan hidung merupakan portal yang penting terhadap pengeluaran OvHV-2. Virus tersebut tidak menyebabkan kesakitan pada domba. Sapi, banteng dan rusa juga dapat terinfeksi melalui transmisi horisontal, yaitu tranfer virus melalui sekresi nasal (O’Toole et al., 2000). Rumput kering, sumber air, burung dan pekerja dapat memfasilitasi transmisi virus tersebut.

Transmisi ke manusia

MCF belum terdokumentasi dapat ditransmisikan ke manusia. Virus ini sendiri dapat dengan cepat diinaktivasi oleh sinar matahari dimana dapat menurunkan proses penularan melalui fomite.

« Pendahuluan | Patologi Anatomi]

Patologi Anatomi

Perubahan patologi mencerminkan gejal-gejala klinis, tetapi umumnya bersifat luas dan melibatkan banyak sistem organ. Erosi dan hemorrhagic dapat muncul di seluruh sistem gastrointestinal, dan dalam kasus yang lebih akut dapat dikaitkan dengan hemorrhagic pada usus. Secara umum, kelenjar getah bening akan membesar dan sering mengeras serta berwarna putih ketika dilakukan penyayatan, sedangkan yang lain, khususnya submandibular dan retropharyngeal, mungkin dapat terjadi hemorrhagic dan bahkan nekrotik. Akumulasi catarrhal, erosi dan pembentukan sebuah selaput diphteritic sering teramati di saluran pernafasan.

Di dalam saluran urinari, ciri khas seperti echymotic haemorrhages dari bagian epitel kantung kemih sering tampak, sementara lapisan luar ginjal (kortek renalis) mungkin akan muncul suatu foci dengan diameter 1-5 mm dan kadang dikelilingi oleh zona pendarahan yang tipis. Perubahan histologi telah menjadi suatu dasar untuk mengkonfirmasikan kasus MCF yang dicirikan oleh degenerasi epitel, vasculitis, hyperplasia dan pengerasan dari organ limfoid, serta akumulasi yang meluas pada sel limfoid dalam organ non limfoid. Luka pada epitel mungkin akan terlihat di semua permukaan epitel dan disifatkan dengan erosi dan koreng, sering juga disertai dengan infiltrasi sel limfoid pada sub epitel dan intraepitel yang mungkin terkait dengan vasculitis dan haemorrhagic.

Vasculitis biasanya muncul dan mungkin terjadi di otak, yang mempengaruhi vena, arteri, arteriol dan venula. Hal ini ditandai dengan infiltrasi sel limfoid dari selaput adventisia dan media, juga sering dikaitkan dengan degenerasi fibrinoid. Dalam lumen mungkin ada 'pengerasan' oleh sel limfoid, dan dalam kasus yang parah, kerusakan endothelial dan sub endothelial oleh sel limfoid kadang-kadang dapat mengakibatkan kemacetan. Hiperplasia getah bening dicirikan oleh ekspansi sel lymphoblastoid di paracortex, sedangkan lesion degeneratif pada umumnya terkait dengan folikel. Edema dengan peradangan limfoid sering mempengaruhi jaringan perinodal. Akumulasi sel limfoid di interstisial organ non limfoid, khususnya di kortek renalis dan area periportal hati adalah biasa, dan pada ginjal sangat luas.

Di dalam otak mungkin terjadi nonsuppurative meningoencephalitis dengan lymphocytic perivascular cuffing dan ditandai dengan peningkatan sel dari cairan tulang punggung ke otak. Secara makrokopik dapat teramati adanya lesi di kornea oleh infiltrasi sel limfoid dengan edema dan erosi yang berkembang dalam kasus lanjutan. Vasculitis, hypopyon dan iridocyclitis juga dapat terjadi. Pada dasarnya patologi yang terjadi pada hewan penderita MCF. Namun, selain pemeriksaan histologi, metode yang tersedia untuk mendiagnosa AIHV-1-dan OvHV-2 ini sangat berbeda dan dianggap terpisah (OIE, 2008).

[section_title title=Diagnosa Banding]

Diagnosa Banding

Banyak penyakit yang dapat menyebabkan kematian mendadak, termasuk rabies, bloat dan anthrax. Beberapa penyakit yang juga memperlihatkan kesamaan dari lesio yang terbentuk adalah infectious bovine rhinotracheitis (IBR), bovine virus diarrhea (BVD), vesicular stomatitis, foot and mouth disease (FMD), bluetongue, vesicular stomatitis, salmonellosis, pneumonia complex, mycotoxin dan beberapa keracunan tanaman.

[section_title title=Diagnosa Laboratorium]

Diagnosa Laboratorium

Metode uji

Metode Uji MCF

AIHV-1 bisa ditemukan pada hewan yang menunjukan gejala klinis dengan menggunakan leukosit atau suspensi sel darah perifer yang dibuat dari kelenjar getah bening dan limpa. Virus juga dapat ditemukan pada rusa kutub, baik dari leukosit atau dari suspensi sel organ lainnya. OvHV-2 belum pernah diidentifikasi secara formal, meskipun garis sel lymphoblastoid berkembangbiak dari hewan tertular yang mengandung DNA OvHV-2-spesifik, partikel virus telah diamati dalam sel-sel ini.

Baik AlHV-1 maupun OvHV-2 telah menjangkiti secara eksperimen pada kelinci dan hamster, dimana lesio berkembang sebagai salah satu karakteristik dari MCF. DNA virus telah terdeteksi dalam bahan klinis dari kasus MCF yang disebabkan oleh AIHV-1 dan OvHV-2 menggunakan PCR. PCR menjadi metode pilihan untuk mendiagnosis-OvHV 2.

Sampel
Isolasi dan deteksi virus: Dinginkan tetapi jangan membekukan jaringan.
  • AlHV-1 tidak aktif dengan cepat pada hewan mati - sampel yang paling bermanfaat dikumpulkan dengan segera setelah eutanasia atau kematian.
  • Jaringan untuk isolasi virus: darah antikoagulan 10-20 ml- dalam EDTA, limpa, paru-paru dan kelenjar getah bening,
  • dan kelenjar adrenal
  • Jaringan untuk PCR: darah antikoagulan, ginjal, kelenjar getah bening, dinding usus, otak dan jaringan lainnya dari atas.
Uji Serologis:

sampel serum berpasangan (5 ml) diambil 3-4 minggu, terpisah

Histopatologi
  • Sapi: paru-paru, hati, kelenjar getah bening, kulit (jika muncul lesio), ginjal, kelenjar adrenal, mata, kerongkongan, Peyer's patches, kandung kemih, tiroid, otot jantung,
  • dan otak
  • Bison: jaringan saluran urogenital dan usus sangat penting
  • Spesies lainnya: berbagai jaringan.
Prosedur
Identifikasi agen:
  • Isolasi virus dari leukosit perifer (AlHV-1).
  • Kebanyakan kultur monolayer yang berasal dari ruminansia bersifat rentan dan dapat terjadi efek cytopathic (CPE). Kultur darei sel tiroid sapi telah digunakan secara ekstensif. Isolat primer biasanya menghasilkan CPE multinuklear di mana antigen virus dapat
  • diidentifikasi oleh immunofluorescence atau immunocytochemistry.
  • PCR (AlHV-1 dan OvHV-2)
Uji Serologi AlHV-1

Rusa kutub yang terinfeksi akan membentuk antibodi terhadap AIHV-1, yang dapat dideteksi dalam empat uji berikut ini. Namun, respon antibodi dari hewan yang tertular sangat terbatas, tanpa berkembangnya netralisasi antibodi, sehingga deteksi bergantung pada penggunaan immunofluorescence, ELISA atau imunoblotting.

  • Virus neutralisation
  • Immunoblotting
  • Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)
  • Immunofluorescence
OvHV-2

Antibodi untuk OvHV-2 hanya terdeteksi dengan menggunakan AIHV-1 sebagai sumber antigen. Domba domestik secara konsisten memiliki antibodi yang dapat dideteksi oleh immunofluorescence, ELISA atau imunoblotting. Meskipun sering antibodi dapat dideteksi oleh immunofluorescence dan ELISA pada sapi dengan MCF, pada hewan tertular yang lebih akut seperti rusa, antibodi tidak selalu hadir.

  • Immunofluorescence
  • ELISA
  • Immunoblotting
[section_title title=Pengobatan]

Pengobatan

Tidak ada pengobatan yang dapat memberikan manfaat secara konsisten. Sampai saat ini belum ada vaksin yang tersedia untuk penyakit ini.

Pada Hewan

Domba dapat diproduksi dan bebas dari virus dengan cara menyapih lebih awal dan isolasi.

Pada Manusia

Dikarenakan penyakit ini tidak dapat ditransmisikan ke manusia, maka tidak ada gejala klinis apapun yang ditimbulkan oleh penyakit ini kepada manusia sampai saat ini.

[section_title title=Pencegahan, Pengendalian Dan Pemberantasan]

Pencegahan, Pengendalian Dan Pemberantasan

Pencegahan

Di Indonesia, sapi Bali sangat peka terhadap terhadap infeksi virus MCF. Penyakit ini tidak menular dari sapi ke sapi, tetapi virus penyebabnya ditularkan dari domba (biri-biri) yang bertindak sebagai pembawa virus, tanpa menderita sakit. Gejala sebelum kematian tidak tampak sama sekali. Yang dapat dilakukan cukup sederhana yaitu sapi Bali jangan digabungkan dengan domba dalam satu kawasan (Khalisuddin, 2008). Domba dan kambing yang bersifat pembawa harus dipisahkan dari sapi terutama selama periode melahirkan. Sampai saat ini belum tersedia vaksin yang dapat mencegah penyakit ini namun secara eksperimental sapi dapat menunjukan proteksinya dari inokulasi yang diberikan.

Pengendalian

Pengendalian MCF saat ini bergantung pada inang alami dari spesies rentan, di mana hal ini tergantung pada spesies yang terlibat. Dengan AIHV-1, tampaknya hewan yang terkena MCF jarang atau tidak pernah menularkan infeksi; maka hanya inang alami yang dapat bertindak sebagai sumber infeksi. Wildebeest tampaknya merupakan penular penyakit yang cukup efisien untuk sebagian besar ruminansia, oleh karena itu pemisahan spesies ini sangat penting. Demikian juga, peternak harus memastikan bahwa sapi terpisah sendiri dari kelompok wildebeest dan terutama di sekitar periode melahirkan.

Dengan OvHV-2, syarat untuk memisahkan domba tergantung pada jenis kerentanan spesies tersebut. Oleh karena itu pada peternakan rusa Pere David's dan sapi Bali, pemisahan yang ketat dan menghindari kontak melalui fomites harus dipastikan terlaksana dengan baik. Dengan kata lain, suatu peternakan banteng dan rusa harus melakukan suatu upaya yang masuk akal untuk memisahkan pengelolaan domba walaupun tampaknya rusa fallow (Dama dama) lebih resisten terhadap MCF.

SA-MCF jarang terjadi pada ternak sapi, sehingga pada umumnya pengelolaan ternaknya dilakukan bersamaan dengan domba tanpa mengambil tindakan untuk mencegah dan melawan penularan penyakit tersebut. Namun, jika beberapa kasus terjadi, hal yang penting yang harus dilakukan adalah memisahkan kawanan domba sejauh mungkin dari ternak sapi. Namun demikian ternak tersebut dapat terus menjadi sumber infeksi untuk beberapa tahun ke depan, dan limbah pemotongan dari flock tersebut harus diperhatikan. Ada kemungkinan masa inkubasi dapat terjadi sampai 9 bulan, sehingga harus berhati-hati dalam pengambilan prognosis ketika memberikan saran dalam pengendalian wabah penyakit tersebut (OIE, 2008).

Pemberantasan

Pemberantasan dilakukan sesuai dengan undang-undang kehewanan. Hewan yang sakit dianjurkan untuk dipotong. Ternak sapi harus dipisah dengan domba. Perlakuan pemotongan hewan sakit atau tersangka dan peredaran daging tidak dilarang asal dengan syarat harus dibawah pengawasan dokter hewan berwenang (Anonimous 2009).

[section_title title=Daftar Pustaka]

Daftar Pustaka

Anonimous. 2009. penyakit Viral pada Ruminansia (Lanjutan). [http://blogs.unpad.ac.id/roostitabalia/wp-content/uploads/penyakit-viral-pada-ternak-2.pdf].

Dewals Benjamin, Christel Boudry, Frédéric Farnir, Pierre-Vincent Drion, Alain Vanderplasschen. 2008. Malignant Catarrhal Fever Induced by Alcelaphine herpesvirus 1 Is Associated with Proliferation of CD8+ T Cells Supporting a Latent Infection 20 Februari 2008. [http://www.plosone.org/article/info:doi%2F10.1371%2Fjournal.pone.0001627].

Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur. 2007. Data Penyakit Malignant Catarrhal Fever – Bovine Epimeral Fever Tahun 2007. [http://www.disnak-jatim.go.id/web/index.php/Data-Penyakit-Tahun-2008.html].

Khalisuddin. 2008. Sapi Bali di Aceh Tengah. [http://voice-of-linge.blogspot.com/2008/12/sapi-bali-di-aceh-tengah.html. 4 Desember 2008

Kusumaningsih Anni. 2002. A Glance of Cattle (Bos javanicus) as an Indonesian Natural Resource. [http://tumoutou.net/3_sem1_012/anni_kusumaningsih.htm ]

O’Toole D., Hong Li, Tim Crawford. 2000. Questions and Answers about Malignant Catarrhal Fever in Bison. http://www.vetmed.wsu.edu/mcf/FAQonBison.htm#What%20is%20malignant%20catarrhal%20fever

OIE. 2008. Malignant Catarrhal Fever. Manual of Diagnostic Tests and Vaccines for Terrestrial Animal 2008. Chapter 2.4.15. [http://www.oie.int/eng/normes/mmanual/2008/pdf/2.04.15_MCF.pdf. OIE Terrestrial Manual 2008]

Sianturi G. 2004. Tanya Jawab Seputar Sapi Gila. [http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1073370416,11547]

Wikipedia. 2009. Herpesviridae. Wikipedia, free encyclopedia. [http://en.wikipedia.org/wiki/Herpesviridae »

  • dokterternak

    Di artikel ini tertulis:
    “Di Indonesia MCF juga disebut sebagai Bovine Epimeral Fever dan penyakit ini merupakan penyakit yang umum menyerang sapi di Indonesia (Sianturi, 2007).”

    Padahal etiologinya saja sdh berbeda..