Vets for a Better Life
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Saturday, 18 September 2021
Issue Brief Covid 19 (2)

MediaSenin, 6 September 2021

Issue Brief Covid-19: Panggilan untuk Memulihkan Keseimbangan Manusia, Biodiversitas dan Lingkungan

Pada dasarnya hubungan antara manusia, biodiversitas dan lingkungan dengan kemunculan dan menyebarnya wabah atau pandemi zoonosis sangat kompleks. Pada abad ke-21, lingkungan di mana kita hidup telah berubah drastis dimana pertumbuhan populasi manusia dan pengaruhnya terhadap perubahan penggunaan lahan telah mengarah pada hilangnya biodiversitas dan degradasi lingkungan.

Berita

kabupaten-di-ntt

365 Ekor Babi di Lembata Terserang Virus ASF, Kerugian Capai Rp 1,2 Miliar

Minggu, 10 Januari 2021

Lembata – Sebanyak 365 ekor babi di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur mati terserang virus African Swine Fever (ASF). Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lembata, Kanisius Tuaq (10/1) mengatakan, sampai tanggal 7 Januari sebanyak 365 ekor babi mati. Lembata – Sebanyak 365 ekor babi di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur mati terserang virus African Swine Fever (ASF). Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lembata, Kanisius Tuaq (10/1) mengatakan, sampai tanggal 7 Januari sebanyak 365 ekor babi mati.

Seminar
Pelatihan
Riset
Diskusi
Workshop
Event Khusus
IMG_0959
Atasi AMR, Dokter Hewan Menjadi Garda Terdepan
Selasa, 29 Januari 2019

Bogor – Antimicrobial Resistance (AMR) masih menjadi isu global yang terus menjadi perhatian banyak pihak. Fenomena ini tidak hanya terjadi di manusia, tetapi juga pada hewan dan lingkungan. Hal ini terjad akibat penggunaan antibiotik yang berlebihan, tidak bjak dan tidak bertanggung jawab.

Hal tersebut mendasari Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS) melaksanakan seminar dan dialog “Pendekatan One Health dalam Upaya Mengatasi Meningkatnya Ancaman Resistensi Antimikroba (AMR)”, Sabtu (1/12).

lab_training_Subang
Pelatihan Penguatan Diagnostik Laboratorium Penyakit pada Unggas di Jawa
Rabu, 12 Desember 2012

Peran laboratorium dalam kegiatan surveillans dan monitoring, investigasi, serta diagnosa penyakit hewan sangat membantu dalam upaya penanggulangan penyakit hewan dan peningkatan kesehatan hewan di Indonesia

Konsul Jabar
Konsultasi Surveilans Antraks dan Brucellosis Kerjasama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Barat
Rabu, 12 April 2017

Antraks (radang limpa) dan Brucellosis (penyakit keluron) ditetapkan sebagai penyakit hewan menular strategis. Kedua penyakit tersebut merupakan penyakit prioritas yang ditetapkan oleh Direktorat Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian berdasarkan SK Menteri Pertanian No.4026/Kpts/OT.140/4/2013 tentang penetapan jenis penyakit hewan menular strategis.

20170313_125310
FGD pada Kajian Uji Media Komunikasi dan Advokasi Resistensi Antimikroba
Minggu, 30 April 2017

Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS) menyelenggarakan rangkaian kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka Kajian Uji Materi Komunikasi dan Advokasi Resistensi Antimikroba yang merupakan kerjasama dengan Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). FGD ini dimaksudkan sebagai evaluasi kesesuaian konsep media sebelum diproduksi secara massal ke perwakilan kelompok target sasaran utama dan diharapkan dapat diterima disemua kalangan masyarakat di Indonesia.

lokakarya program pemberantasan rabies
Lokakarya Program Rencana Pemberantasan Rabies di Pulau Nias
Rabu, 5 Februari 2014

Pada tahun 2010 Pulau Nias ditetapkan statusnya sebagai daerah Kejadian Luar Biasa (KLB) rabies dengan jumlah korban mencapai 26 orang. Pemerintah telah melakukan beberapa program termasuk vaksinasi, eliminasi, dan kesadaran masyarakat untuk membebaskan Pulau Nias dari Rabies

fgd
FGD Seri 2 Covid-19: Panggilan untuk Memulihkan Keseimbangan Manusia, Biodiversitas dan Lingkungan
Selasa, 10 Agustus 2021

Untuk mencegah pandemi berikutnya, negara-negara harus segera mengintegrasikan keahlian dan kebijakan kesehatan manusia, hewan dan lingkungan — melalui pendekatan “One Health” untuk melindungi kita dan planet ini. -UNEP dan ILRI-

Opini

Pebi

Mengenal Penyakit Virus Marburg dan Potensi Pandemi Selanjutnya

“Sejak pertama kali ditemukan 54 tahun yang lalu di Marburg dan Frankfurt, Jerman serta Beograd, Yugoslavia (sekarang Serbia), wabah yang disebabkan oleh virus Marburg tercatat pernah terjadi di delapan negara di Afrika dan Eropa. Virus Marburg dapat membunuh sembilan dari sepuluh orang yang terinfeksi. Dengan adanya peningkatan globalisasi, apakah virus ini akan lebih mungkin terjadi di berbagai belahan dunia, dan berpotensi menjadi pandemi selanjutnya?”