Vets for a Better Life
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Sunday, 28 November 2021
Tata

Resistensi Antibiotik di Rantai Pangan

Jumat, 16 Juli 2021

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos (Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies)

 

Kita berbicara tentang suatu pandemi senyap (silent pandemic) resistensi antibiotik yang sudah dimulai sejak sebelum pandemi Covid-19.

Apabila Covid-19 mampu memorakporandakan aspek kehidupan suatu negara dalam beberapa bulan saja, resistensi antibiotik bergerak lebih lambat dengan kemampuan destruksi sama.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka kematian akibat resistensi antibiotik per tahun sekitar 700.000 orang di seluruh dunia. Namun, para ahli mengestimasi angka kematian per tahun akan menyentuh 10 juta orang pada 2050, mengalahkan penyakit utama lainnya, seperti kanker dan diabetes.

Resistensi antibiotik telah menjadi suatu ancaman kesehatan global serius yang dapat melintasi batas spesies manusia dan hewan. Banyak negara di dunia menyadari resistensi antibiotik harus menjadi isu prioritas di kedokteran manusia, kedokteran hewan, dan sistem pangan karena ancamannya terhadap kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, dan perekonomian global.

Dibutuhkan waktu rata-rata 21 tahun untuk bakteri menjadi resisten ketika antibiotik pertama kali digunakan.

 

Situasi Global

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom mengatakan, jika para pembuat kebijakan gagal mengatasi tantangan resistensi antibiotik, kita akan menyaksikan pandemi meningkat secara diam-diam dengan konsekuensi besar yang sangat tidak kita harapkan.

Faktanya akan semakin banyak infeksi menjadi resisten terhadap antibiotik dan ini berarti lebih sulit bagi kita untuk mengobati infeksi dan menyebabkan lebih banyak kematian.

Di negara maju seperti Amerika Serikat, lebih dari 35.000 orang meninggal setiap tahun akibat resistensi antibiotik. Di Uni Eropa, resistensi antibiotik bertanggung jawab atas kematian 33.000 orang setiap tahun. Sementara negara berkembang, seperti Thailand, mencatat kematian sekitar 38.000 orang setiap tahun. Memang belum ada data pasti mengenai kematian akibat resistensi antibiotik di Indonesia, tetapi dari catatan rumah sakit diperkirakan angka kematian terus meningkat.

Sampai saat ini muncul dan menyebarnya resistensi antibiotik telah dikaitkan dengan penyalahgunaan, penggunaan berlebihan atau sembarangan antibiotik untuk kesehatan manusia dan hewan. Bahkan penggunaan rutin antibiotik pada hewan sebagai pemacu pertumbuhan (growth promoter) atau untuk pencegahan dan pengobatan infeksi nonspesifik yang telah dipraktikkan sejak lama telah meningkatkan konsumsi antibiotik dan resistensi bakteri di habitat hewan.

Data rinci mengenai berapa sesungguhnya konsumsi antibiotik global sulit dikumpulkan. Para ilmuwan mengestimasi 75 persen dari jumlah antibiotik global dikonsumsi oleh ternak. Sebuah studi tahun 2020 mengestimasi penggunaan antibiotik global pada ternak adalah sebesar 93.300 ton pada 2017 dan diproyeksikan akan meningkat 11,5 persen menjadi 104,1 ton pada 2030. Begitu juga diestimasi peningkatan 15 persen penggunaan antibiotik pada manusia antara tahun 2015 dan 2030.

Krisis resistensi antibiotik muncul dari fakta bahwa perkembangan temuan antibiotik baru tidak dapat mengimbangi laju resistensi bakteri yang tumbuh secara eksponensial. Dibutuhkan waktu rata-rata 21 tahun untuk bakteri menjadi resisten ketika antibiotik pertama kali digunakan.

Contohnya, penisilin ditemukan tahun 1928, mulai diakses publik secara luas tahun 1940, dan menjadi resisten pada tahun 1947. Sekarang hanya dibutuhkan rata-rata satu tahun bagi bakteri untuk mengembangkan resistensi terhadap antibiotik.

 

Rantai Pangan

Penularan resistensi antibiotik lewat rantai pangan saat ini semakin meningkat dan berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Pangan berperan penting dalam pengembangan dan penyebaran resistensi antibiotik. Lingkungan pengolahan pangan dapat bertindak sebagai area berisiko yang berpotensi untuk perkembangbiakan dan penyebaran bakteri resisten antibiotik.

Produsen pangan hewani telah lama menggunakan antibiotik, termasuk yang sangat penting bagi kesehatan manusia, untuk membantu hewan mencapai berat badan yang ditargetkan pada saat pemotongan sambil mencegah hewan tertular infeksi karena kondisi kandang yang kurang higienis dan padat.

Adanya bakteri resisten antibiotik dalam sistem produksi ternak dan rantai pangan merupakan rute potensial untuk terpapar ke manusia. Bakteri dan gen resisten antibiotik dapat secara mudah menyebar pada setiap tahapan dalam rantai pangan, mulai dari peternakan hingga ke konsumen.

Suatu studi tahun 2015 menemukan bahwa 40 persen sampel pangan hewani mengandung bakteri resisten terhadap satu atau lebih antibiotik. Bakteri resisten antibiotik di rantai pangan, seperti campylobacter, salmonella, dan Escherichia coli, sering kali menjadi isu kesehatan yang penting karena dapat diisolasi dari pangan dan lingkungan pengolahan pangan.

Kita dapat terpapar bakteri resisten dari rantai pangan, misalnya saat mengonsumsi daging ayam. Jika bakteri tersebut patogen akan menyebabkan manusia menjadi sakit, dan orang tersebut tidak bereaksi terhadap antibiotik atau pengobatan lainnya. Jika bakteri itu sendiri tidak patogen, bakteri tetap dapat berkontribusi dengan mentransfer gen resisten ke bakteri patogen lainnya.

Distribusi pangan yang luas akan lebih mempercepat penyebaran resistensi antibiotik. Namun, bagaimana kita terpapar sangat bergantung pada keputusan kita memilih pangan yang bersih dan bermutu. Pangan hewani tetap aman sepanjang konsumen mengikuti praktik higiene dan pemasakan yang baik.

 

Strategi ”One Health”

Untuk memenuhi tuntutan kebutuhan pangan, terutama yang berasal dari hewan, penggunaan antibiotik di sektor peternakan diperkirakan akan meningkat substansial di beberapa bagian dunia, termasuk Indonesia. Tantangan ganda yang dihadapi saat ini dan ke depan adalah bagaimana kita dapat melindungi efektivitas antibiotik, sekaligus tetap mampu memproduksi pangan hewani yang aman dalam jumlah memadai.

Dalam beberapa tahun terakhir, suatu upaya global telah dilakukan untuk mempersatukan semua negara di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengangkat isu resistensi antibiotik menjadi pusat perhatian dunia dan memastikan komitmen politik dalam mengambil tindakan bersama.

Strategi dengan pendekatan One Health untuk mengatasi resistensi antibiotik dengan fokus pada pengurangan penggunaan antibiotik pada manusia dan hewan serta memastikan penggunaan antibiotik yang bijak dan bertanggung jawab oleh semua pemangku kepentingan.

Praktik-praktik higiene dan sanitasi di sepanjang rantai pangan, mulai dari peternakan, rumah potong hewan, gerai ritel, restoran, hingga konsumen, bukan hanya sangat mendasar dalam meningkatkan status keamanan pangan, melainkan juga kunci dalam mengatasi resistensi antibiotik.

Upaya mengatasi resistensi antibiotik perlu didukung juga oleh sistem monitoring dan surveilans yang efektif untuk menelusuri penggunaan antibiotik dan mengidentifikasi penyebaran resistensi di rantai pangan.

Kepatuhan terhadap regulasi, persyaratan pelabelan produk, kesadaran konsumen, dan peran media adalah faktor yang juga berkontribusi penting dalam mencapai sasaran perbaikan yang kita inginkan di rantai pangan. (Editor: Yohanes Krisnawan)

Baca juga: e-paper Kompas Edisi 16 Juli 2021.pdf dan Penyalahgunaan Antibiotik di Peternakan Ayam Broiler

Baca juga: Laporan Studi Resistensi Antimikroba pada Rantai Pangan Ayam Potong

 

 

Sumber: Kompas.id

Tinggalkan Balasan

Resistensi Antibiotik di Rantai Pangan

by Civas time to read: 4 min
0