Vets for a Better Life
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Monday, 30 November 2020
peta-ntt

Ketika Ambisi Gubernur Terganjal Flu Babi

Rabu, 21 Oktober 2020

NTT – Pasti banyak warga belum mengetahui perihal ASF itu karena jarang diberitakan. Kehadiran pandemi Covid19, telah meredam berita tentang demam afrika alias African Swine Fever (ASF) di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Padahal, antara Corona dan ASF memiliki kemiripan. Sama-sama belum ada obat dan vaksinnya. Juga sama-sama ganasnya, mematikan inangngnya. Bedanya, Corona senang menggerogoti manusia, sedangkan ASF selalu mencari ternak babi sebagai mangsanya.

ASF itu awal mulanya berasal dari Afrika. Gejalanya mirip seperti flu lalu demam. Itulah sebabnya, di Indonesia penyakit ini disebut Flu atau Demam Babi. Keganasan penyakit ini sangat luar biasa. Angka mortalitas bisa 100%. Populasi bisa hilang total. Oh, mengerikan dan menakutan sekali.

Pada bulan Januari lalu, ASF mulai menginvasi Pulau Timor. Ribuan ternak babi mati bergelimpangan di mana-mana dalam tempo singkat. Saking banyaknya ternak mati, peternak sulit menguburkannya. Banyak bangkai babi dibuang begitu saja di sungai-kali, jembatan, pinggir jalan, semak dan di hutan.

Untuk meminimalkan kerugian, ada sebagian peternak mengambil jalan pintas. Memotong atau menjual paksa ketika gejala sakit mulai timbul. Dagingnya dipatok harga murah bahkan dibagi gratis.

Sekitar bulan Mei yang lalu,wabah ASF menyerang Sumba. Lalu mulai bulan Juni, Flores sudah terjangkit juga. Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Dinas Peternakan NTT, Artati Loasana, mengatakan, sejak Januari sampai dengan Juni 2020, sebanyak 24.822 ternak babi milik warga di NTT, mati akibat terkena virus flu babi.

Diyakini, hingga saat ini, angka kematian ternak babi di NTT pasti sudah berlipat ganda. Apa pula masih begitu banyak warga yang tidak melaporkan kejadian ASF itu.

 

Ambisi VBL Terganjal

Di hadapan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang NTT di Ruang Kerjanya, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) mengatakan bahwa sangat optimis, di bawah kepemimpinannya, NTT akan kaya dari sektor Peternakan (08/06).

Mimpi besar VBL ini, tentu dilatari sejarah masa lalu, kekuatan potensi alam dan budaya NTT yang sangat menjanjikan untuk pengembangan peternakan. Di era tahun 1970 hingga 1980-an, NTT merupakan gudang ternak sapi Indonesia. NTT, bukan saja mampu memenuhi kebutuhan daging dalam negeri tetapi bisa juga diekspor ke manca negara seperti Singapura dan Hongkong. Alam NTT yang mayoritas lahan kering merupakan kekuatan yang sangat pas untuk mendukung pengembangan perpaduan antara pertanian lahan kering dan peternakan. Demikian pula adat istiadat baik itu kawin mawin, kematian, aktivitas pertanian, bangun rumah, ritual kepercayaan dan sebagainya selalu mengandalkan ternak sebagai meterinya.

Namun di tengah mimpi besar itu, justru muncul ASF, virus yang membuat ternak babi mati bergelimpangan. Bukan saja ekonomi para peternak babi luluh lantah tetapi juga semua pelaku usaha yang terkait seperti resto olahan babi, toko-kios pakan, pedagang hewan babi dan lain lain, kena imbasnya juga.

 

Protokol Kesehatan Hewan

Kehadiran virus maut Corona, telah menginspirasi pemerintah mewajikan setiap warga, menerapkan protokol kesehatan dalam beraktivitas apa pun. Itu merupakan satu satunya solusi oleh karena belum ditemukan obat dan vaksin untuk melawannya. Jaga jarak, cuci tangan, pake masker, konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup merupakan beberapa contoh protokol kesehatan tersebut.

Lantas,bagaimana dengan ASF? Mungkinkah penting menerapkan Protokol Keseharan Hewan?

Seperti dikemukakan terdahulu, ternyata ASF juga belum ditemukan obat atau vaksinnya. Membiarkan ASF membasmi seluruh populasi ternak babi tentu sangat menakutkan. Mimpi besar VBL menjadikan warga NTT kaya dari usaha ternak, niscaya sia-sia belaka. Begitu pula segala macam urus ritual budaya, bisa tinggal kenangan.

Protokol kesehatan hewan menjadi sangat urgen membebaskan ternak babi dari ASF. Tidak rumit amat yang bisa dilakukan peternak perihal Protokol Kesehatan Hewan (Keswan) tersebut.

Pertama, menjaga ketahanan tubuh hewan dengan pakan bernutrisi dan seimbang. Penyakit apa pun termasuk ASF, akan cukup sulit membawa maut bila tubuh hewan selalu dalam kondisi prima, segar bugar. Virus boleh masuk, tetapi kemungkinan untuk sembuh sangat besar;

Kedua, menjaga kandang selalu bebas dari kuman dengan cara disemprot sekurang-kurangnya sekali sehari dengan desinfektan. Bisa menggunakan bayclin dicampur air dengan perbandingan 1:10. Semua area di sekitar kandang disemprot;

Ketiga, menjaga kebersihan kandang. Usahakan kandang senantiasa dibersihkan setiap hari;

Keempat, tidak boleh mengunjungi lokasi peternakan yang sudah terjangkit penyakit;

Kelima, tidak boleh menerima tamu dari lokasi yang sudah terjangkit;

Keenam, tidak menerima/mengkonsumsi daging/olahannya yang berasal dari babi sakit apa lagi babi mati;

Ketujuh, tidak boleh membeli daging babi yang dijual murah apa lagi bila diberikan gratis. Hampir pasti daging tersebut berasal dari hewan sakit bahkan mati;

Kedelapan, tidak membawa/menerima oleh- oleh olahan babi dari daerah tertular; dan Kesembilan, secara rutin selalu diberi asupan/suntikan vitamin, obat antianemia (anak babi) dan obat cacingan.

Kesembilan protokol keswan di atas merupakan satu kesatuan. Sesungguhnya peternak sendirilah yang wajib menyelamatkan hewan peliharaanya. Kewajiban pemerintah dan segenap elemen terkait hanya sebatas menggerakan, mengkampanyekan, membimbing dan mendampingi. Niscaya kelak, menjadikan warga NTT kaya dari ternak bukan sekedar impian.

 

Sumber: The Columnist.id

Tinggalkan Balasan

Ketika Ambisi Gubernur Terganjal Flu Babi

by Civas time to read: 3 min
0