Vets for a Better Life
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Thursday, 24 September 2020
Kompas
Sumber: Kompas

Menjaga Hutan, Mencegah Pandemi

Kamis, 6 Agustus 2020

Berkurangnya lahan hutan akibat aktivitas manusia memicu munculnya penyakit menular zoonosis yang berisiko menjadi pandemi. Risiko tersebut muncul karena hilangnya habitat dan berubahnya sistem ekologi. Menjaga keberlangsungan hutan menjadi upaya untuk mencegah terjadinya pandemi di masa depan.

Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sejumlah bukti menyatakan Covid-19 yang disebabkan oleh virus korona jenis baru (SARS-COV-2) bersumber dari penularan zoonosis, yaitu penularan patogen dari hewan ke manusia. Kelelawar diduga menjadi pembawa virus ini.

Namun karena kontak manusia dengan kelelawar jarang, penularan virus diduga melalui perantara hewan yang lebih dekat kontaknya dengan manusia. Sampai dengan 10 Juli 2020, sebanyak 12,29 juta jiwa terjangkit virus ini.

Sebelum Covid-19 menyebar, pada awal Desember 2019, sebuah studi dalam jurnal Proceeding of National Academy of Science (PNAS) yang meneliti tentang flu babi (H1N1) sejak 2011-2018 menyebutkan bahwa sekelompok baru virus H1N1 berpotensi menjadi pandemi di masa depan.

Kelompok virus yang disebut G4 EA H1N1 telah menyebar di peternakan babi di China pada 2016. Virus ini berisiko menular pada manusia sebab mampu bereplikasi secara efektif pada saluran pernapasan manusia. Kemunculan penyakit menular zoonosis tersebut bukan hal yang mengagetkan lagi. Sebelumnya telah muncul virus zika (1947), ebola (1976), infeksi bronkitis atau IBV (1937), nipah (1998), MERS (2012), SARS (2016), dan puluhan patogen lainnya yang dapat menginfeksi manusia.

Sekitar 75 persen penyakit infeksi menular baru (emerging infectious disease/EIDs) bersumber dari penularan hewan ke manusia. Secara alamiah, virus dan patogen-patogen lain dapat dengan cepat bermutasi dan beradaptasi pada lingkungan baru sehingga selalu ditemukan jenis patogen yang baru.

Meskipun berkembang secara alami, munculnya penyakit infeksi menular zoonosis juga dipicu oleh aktivitas manusia. David Quammen penulis buku Spillover yang telah menyelidiki penularan virus dari hewan ke manusia selama lebih dari satu dekade mengatakan, relasi manusia dengan alam menjadi kunci munculnya penyakit zoonosis. Relasi manusia dengan alam cenderung konsumtif, intrusif, dan destruktif.

Penyakit EID

Hilangnya Habitat

Pernyataan tersebut serupa dengan laporan dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berjudul “Preventing The Next Pandemic: Preventing The Next Pandemic Zoonotic Diseases and How to Break The Chain of Transmission”. Berdasarkan laporan tersebut, terdapat tujuh pemicu penyakit infeksi menular baru yang disebabkan oleh aktivitas manusia atau antropogenik.

Ketujuh penyebab tersebut adalah kebutuhan protein hewani yang meningkat, intensifikasi pertanian dan peternakan, eksploitasi hewan liar yang meningkat, perubahan penggunaan lahan dan pemanfaatan sumber daya alam berlebihan, mobilitas yang meningkat, perubahan mata rantai makanan, serta perubahan iklim. Salah satu pemicu yang paling berdampak adalah perubahan penggunaan lahan, terutama karena berkurangnya lahan hutan. Penyebabnya bisa jadi karena deforestasi dan kebakaran hutan.

Berkurangnya hutan berarti hilangnya habitat dan sumber makanan bagi beberapa spesies. Akibatnya, spesies tersebut mencari tempat baru untuk tinggal dan sumber makanan. Mereka akhirnya tinggal dan mencari makanan di area permukiman atau wilayah aktivitas manusia sehingga penularan dari hewan ke manusia semakin mungkin terjadi.

Alih fungsi hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan oleh manusia menjadi daya tarik tersendiri bagi hewan-hewan tersebut. Mereka bernaung dan mengandalkan sumber makanan dari buah-buahan hasil pertanian atau perkebunan.

Ketika terjadi pergerakan ini, penularan patogen dapat terjadi meskipun manusia tidak memiliki kontak langsung dengan hewan pembawa patogen. Perpindahan patogen dari hewan ke manusia dapat dimungkinkan melalui barang atau hewan lain, misalnya melalui sisa buah yang telah dimakan spesies pembawa patogen.

Buah sisa ini dapat dikonsumsi kembali oleh hewan yang memiliki kontak dekat dengan manusia. Berawal dari kejadian ini, hewan yang memakan buah ini membawa patogen dan kemudian menginfeksi manusia.

 

Alih Fungsi Hutan

Salah satu titik alih fungsi hutan menjadi perkebunan di dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di Aceh Tenggara, Aceh, Minggu (7/5/2017). Kerusakan KEL memicu bencana ekologi dan mengancam keberlangsungan hidup satwa dilindungi.

Truk menumpahkan muatan untuk menguruk lahan bekas hutan lindung bakau di Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, Jumat (28/6/2019). Hutan lindung bakau seluas 18 hektare itu habis dibabat tanpa izin untuk dijadikan kavling Siap Huni (KSB).

Hamparan lahan kritis tampak di sekitar Danau Toba, Sumatera Utara, Kamis (27/6/2019). Kerusakan daerah tangkapan air Danau Toba disebabkan alih fungsi dan perambahan hutan.

Kondisi tersebut terjadi pada wabah virus nipah dan ebola. Universitas Malaga Spanyol dan Center for International Forestry Research (Cifor) di Afrika Tengah dan Barat menemukan bukti bahwa wabah ebola berkaitan dengan deforestasi.

Berdasarkan analisis biogeografi, ditemukan bahwa distribusi kelelawar buah tumpang tindih dengan wilayah penyebaran virus ebola. Sementara distribusi empat spesies di antaranya tumpang tindih dengan area deforestasi.

Sementara pada wabah nipah di Malaysia, penelitian Universitas Malaya mengungkapkan bahwa mereka menemukan kelelawar yang secara serologis membawa virus nipah bertengger di kebun buah di Desa Ampang. Sebelum tahun 1997-1998, kelelawar tersebut tidak ada di wilayah itu. Penelitian tersebut membuktikan bahwa kebakaran hutan dan deforestasi pada periode tersebut menyebabkan migrasi kelelawar ke kebun buah milik masyarakat.

Kebun buah tersebut berada di sekeliling peternakan babi yang terjangkit virus ebola. Pada kandang babi ditemukan buah-buahan sisa kelelawar. Diduga hal itu menyebabkan penularan virus ke babi dan kemudian ke manusia.

 

Perubahan Ekologi

Tidak hanya hilangnya habitat. Perubahan habitat pun turut memicu munculnya penyakit infeksi menular. Baik hilangnya habitat maupun perubahan konfigurasi habitat dinamakan fragmentasi habitat.

Fragmentasi habitat mempercepat dan meningkatkan diversifikasi spesies patogen. Apabila jika salah satu patogen ini menemukan mekanisme untuk keluar dari wilayah habitatnya melalui spesies lain, ia berpotensi berpindah ke manusia. Kondisi ini dapat memicu wabah penyakit menular baru.

Selain itu, menurut laporan Program Lingkungan PBB, ada hal lain yang memicu munculnya penyakit menular, yaitu efek dilusi (dilution effect). Proses efek dilusi menjelaskan, ada lebih banyak transmisi virus yang terjadi pada spesies tunggal yang memiliki sedikit keanekaragaman dibandingkan kelompok spesies dengan keanekaragaman tinggi.

Infeksi Menular

Risiko Zoonosis

Kera pantai berumur empat bulan marak diperdagangkan di Wana Wisata Monumen Suryo, Ngawi, Jawa Timur, Rabu (17/9/2008), dengan harga Rp 200.000-Rp 250.000 per ekor. Perdagangan hewan meningkatkan risiko zoonosis atau penularan penyakit dari hewan ke manusia.

Bayi kelelawar hinggap di dahan pohon di Taman Langsat, Barito, Jakarta, Kamis (19/2/2015). Kelelawar menjadi inang sejumlah penyakit yang berisiko menular ke manusia

Petugas menyuntikkan vaksin antraks pada sapi-sapi ternak di Desa Dadapayu, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, Rabu (22/1/2020). Vaksinasi untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit antraks.

Hal ini dapat terjadi karena beragamnya spesies dapat melemahkan proses transmisi virus dengan melindungi hewan yang rentan. Namun, hal ini tergantung pula pada faktor lain, seperti komposisi kelompok hewan serta ekologi inang dan patogen.

Fragmentasi habitat ataupun berubahnya kondisi keanekaragaman hayati tersebut merupakan akibat dari aktivitas manusia yang, menurut David Quammen, konsumtif, intrusif, dan destruktif. Hutan menjadi habitat bagi berbagai macam spesies. Maka, apabila sedikit saja manusia mengubah tatanannya, sistem ekologi hutan berubah dan dapat menjadi bumerang bagi manusia sendiri. Salah satunya melalui penyakit infeksi menular.

Lantas, sejauh mana perubahan lahan hutan yang telah terjadi sehingga dapat memicu sejumlah penyakit menular?

Kera ekor panjang hasil sitaan BKSDA Lampung yang hendak diselundupkan ke Pulau Jawa, Rabu (12/11/2014). Satwa membawa penyakit dalam tubuhnya yang berisiko berpindah ke makhluk lain, termasuk manusia.

Zoonosis

Berkurangnya Hutan

Menurut laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), diperkirakan 420 juta hektar hutan hilang akibat deforestasi sejak 1990. Pada periode 2015-2020, laju deforestasi mencapai 10 juta hektar per tahun. Meskipun menurun dibandingkan periode 1990-2000 yang mencapai 16 juta hektar per tahun, dampak deforestasi ini luar biasa.

Deforestasi memicu kebakaran hutan yang menyebabkan hilangnya hutan-hutan. Kehilangan didominasi oleh negara-negara yang memiliki hutan luas. Menurut laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), diperkirakan 420 juta hektar hutan hilang akibat deforestasi sejak 1990.

Akhir tahun lalu, Indonesia, Brasil, dan Australia, tiga negara yang termasuk negara dengan hutan terluas di dunia, kehilangan hutannya karena kebakaran. Indonesia kehilangan 1,65 juta hektar hutan sepanjang 2019. Sementara sampai 30 Januari 2020, luas hutan yang terbakar di Australia mencapai lebih dari 11 juta hektar. Di Brasil, hutan Amazon terbakar sekitar 900.000 hektar.

Selain itu, meskipun deforestasi menurun, upaya perluasan hutan belum dapat menutupi kehilangan hutan selama ini. Pada periode 2015-2020, hutan yang bertambah setiap tahunnya mencapai 5 juta hektar. Artinya, luas hutan yang bertambah hanya setengah dari luas hutan yang hilang pada periode tersebut.

Data tersebut dapat dimaknai menjadi luas habitat dan keanekaragaman hayati yang hilang. Jika terus dibiarkan, bukan tidak mungkin ada wabah penyakit baru yang akan muncul di masa depan.

Ahli ekologi penyakit zoonotik, Peter Daszak, mengatakan, jika manusia bisa mengendalikan deforestasi dan perdagangan satwa liar, kita tidak perlu menghentikan wabah, kita pasti sudah bisa mengatasinya. Maka, masa pandemi ini menjadi momen yang tepat untuk kita menyadari pentingnya merawat dan menjaga keberlangsungan hutan. Pandemi memberikan pesan, sudah saatnya kita memperbaiki relasi dengan alam. (Debora Laksmi Indraswari)

 

Sumber: Kompas.id

Tinggalkan Balasan

Menjaga Hutan, Mencegah Pandemi

by Civas time to read: 5 min
0