Vets for a Better Life
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Friday, 22 January 2021
administrasi-kota-palembang-a1

878 Babi di Palembang Terserang ASF, Dokter Sebut Masih Layak Konsumsi

Selasa, 14 Juli 2020

Pelembang – Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PHDI) Sumatera Selatan memastikan bahwa 878 ekor babi yang mati di Palembang, positif terkena demam babi afrika atau African swine fever (ASF). Hal tersebut diketahui setelah PHDI Sumsel melakukan uji sampel di Balai Veteriner Lampung.

Ketua PHDI Sumsel Jafrizal mengatakan, meskipun positif terpapar ASF, ratusan babi tersebut masih layak dikonsumsi. Sebab, virus ASF hanya menularkan penyakit ke babi dan tidak kepada manusia. “ASF ini bukan penyakit menular ke manusia, tetapi ke kawanan hewan babi saja. Apabila terinfeksi, terus dipotong, masih bisa dikonsumsi. Tinggal dimasak dengan baik. Jadi jangan takut orang-orang untuk mengonsumsinya,” kata Jafrizal (14/7).

Menurut Jafrizal, konsumsi daging babi yang terjangkit demam babi Afrika tidak akan berdampak negatif pada tubuh manusia. Jafrizal mengatakan, untuk mengantisipasi penyebaran virus ASF, mereka akan memberikan rekomendasi pengetatan, baik bibit maupun daging babi ketika masuk ke Palembang. Selain itu, seluruh kandang babi yang ada di Palembang juga akan disemprot dengan disinfektan.

“Harus dapat dipastikan babi itu sehat ketika masuk ke Palembang dan izinnya harus diperketat. Selama ini babi yang masuk ke Palembang berasal dari Lampung dan Sumatera Utara,” ujar Jafrizal. Sementara itu, menurut Jafrizal, sampai sejauh ini belum ada babi yang terkena virus H1N1 atau flu babi yang berasal dari China.

“Sejauh ini belum ada kita temukan babi yang terpapar H1N1. Virus itu yang lebih kita takutkan, karena dapat menyerang hewan lain seperti ayam,” kata dia. Diberitakan sebelumnya, sebanyak 878 ekor babi yang berada di peternakan Palembang, Sumatera Selatan, dilaporkan mati mendadak sejak dua bulan terakhir. Kematian ratusan babi tersebut akibat terkena virus demam babi Afrika.

Awalnya, PHDI curiga lantaran ampas tahu mengalami lonjakan dalam beberapa waktu terakhir. Adapun, ampas tahu tersebut merupakan pakan babi yang biasa digunakan oleh peternak. Dari temuan itu, mereka langsung melakukan penelusuran ke peternakan babi di beberapa tempat, yakni di Talang Buruk, Kecamatan Alang-Alang Lebar; Talang Keramat, Sei Hitam, Kecamatan Ilir Barat Satu, Palembang; dan Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin. PHDI kemudian menemukan ada 878 babi yang mati mendadak. (Aji YK Putra | Ed: Abba Gabrillin)

 

Sumber: Kompas.com

Tinggalkan Balasan

878 Babi di Palembang Terserang ASF, Dokter Sebut Masih Layak Konsumsi

by Civas time to read: 1 min
0