Vets for a Better Life
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Tuesday, 7 April 2020
Inang Alamiah Virus Corona-Tata-200220
Sumber: Infovet

Inang Alamiah Virus Corona

Jumat, 20 Maret 2020

Oleh Tri Satya Putri Naipospos (Ketua II Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia/PDHI dan Ketua Badan Pengurus Center for Indonesia Veterinary Analytical Studies/CIVAS)

 

Kemunculan penyakit yang telah diberi nama “COVID-2019” (WHO 2020) di China, sesungguhnya tidak terlepas dari peristiwa awal dimana virus melompat dari hewan ke manusia. Peristiwa yang membuktikan pentingnya untuk dipahami konsep dasar epidemiologi tentang keterkaitan antara agen penyakit, inang dan lingkungan.

Penyakit baru seperti halnya COVID-19, semakin muncul pada populasi manusia melalui proses “pelimpahan keluar agen penyakit” (spillover) yang kompleks, sering kali terjadi, tetapi tidak terlihat dari suatu kombinasi inang alamiah, inang perantara dan ekosistemnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa 26% kematian manusia secara global disebabkan oleh penyakit menular dan lebih dari 70% dari penyakit zoonosis baru muncul (emerging zoonoses) bersumber dari  interaksi manusia dengan satwa liar.

Banyak penyakit zoonosis baru muncul yang bersumber dari satwa liar terjadi dalam 20 tahun terakhir, seperti human immunodeficiency virus (HIV), Ebola, virus Nipah, severe acute respiratory syndrome (SARS) dan Middle East respiratory syndrome (MERS). Jika virus-virus tersebut mulai menyebar dari satu orang ke lainnya, maka virus dapat menyebabkan wabah yang berdampak sangat besar bahkan dapat menghancurkan ekonomi suatu negara.

 

Kelelawar sebagai Reservoir

Meskipun penelitian tentang asal-usul COVID-19 masih harus diteliti lebih lanjut, tetapi bukti memperlihatkan bahwa 27 (66%) dari 41 pasien yang terinfeksi awal terpapar langsung dengan pasar makanan laut Huanan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China (Huang et al. 2020). Berdasarkan bukti sekuensing penuh dari lima sampel pasien yang menderita pneumonia tersebut, virus-virus tersebut hampir identik satu sama lain dan 79,5% identik dengan SARS-CoV. Selain itu, 96% identik dengan virus corona pada kelelawar. Bukti ini menunjukkan bahwa kelelawar sangat mungkin merupakan sumber COVID-19 (Zhu et al. 2019).

Sejak kemunculan SARS-CoV, MERSCoV, virus Nipah dan terbaru COVID-19, maka menjadi semakin jelas bahwa kelelawar merupakan reservoir penting dari virus corona. Kelelawar ordo Chiroptera dengan lebih dari 1.240 spesies, memiliki keragaman spesies yang luar biasa dan meliputi lebih dari 20% spesies mamalia hidup yang ada di dunia (Nowak 1994). Setidaknya 120 spesies kelelawar ditemukan di China, terutama tersebar di wilayah-wilayah timur, tengah dan selatan dari negara tersebut (Zhang et al. 1997).

Perburuan kelelawar untuk konsumsi sebagai daging satwa liar (bushmeat) dan obat, sudah menyebar luas dan melibatkan setidaknya 167 spesies kelelawar (sekitar 13% dari spesies kelelawar yang ada di dunia). Suatu kegiatan berburu yang biasa dilakukan di banyak negara, baik di Afrika, Asia, sepanjang kepulauan di Oceania dan sebagian kecil di Amerika Tengah dan Selatan. Perburuan terutama terjadi diantara kelelawar buah yang bertubuh besar, dimana setengah (50%) yang diburu adalah dari spesies dalam keluarga Pteropodidae.

Menurut Peter Daszak (2017), seorang ahli penyakit lingkungan, menyatakan bahwa masing-masing dari lebih 1.240 spesies kelelawar tersebut memiliki rata-rata 17,22 virus yang mungkin dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Ditambahkan juga, sebanyak 53 virus kelelawar telah menginfeksi manusia, sebagian besar virus masih belum diketahui dan belum menyerang manusia. Ada ribuan virus berpotensi menular yang menunggu untuk ditemukan pada kelelawar.

 

Zoonosis Satwa Liar

Minat terhadap epidemiologi penyakit baru muncul (emerging diseases) pada manusia dan ternak yang terkait dengan satwa liar meningkat pesat selama beberapa dasawarsa terakhir. Banyak faktor, terutama faktor antropogenik seperti deforestasi, kehilangan habitat dan perburuan satwa liar untuk dikonsumsi dagingnya (bushmeat) telah memfasilitasi munculnya penyakit-penyakit dari satwa liar.

Pembelajaran sebelumnya dari SARS-CoV, MERS-CoV dan virus Nipah, menunjukkan bahwa penularan langsung dari kelelawar ke manusia belum berhasil didemonstrasikan. Inang perantara SARS-CoV adalah musang sawit, MERS-CoV adalah unta dromedari dan virus Nipah adalah babi. Oleh karena dinamika penularan virus-virus kelelawar adalah suatu proses kompleks yang melibatkan baik siklus silvatik dan urban, maka keberadaan inang perantara tidak selalu bisa teridentifikasi.

Sama halnya dengan SARS-CoV, COVID-19 juga dimulai dari pasar basah. Sampai saat ini, dari hasil analisis filogenetik mengindikasikan bahwa meskipun kelelawar merupakan inang asli dari COVID-19, akan tetapi satwa liar yang dijual di pasar Huanan, Kota Wuhan, mungkin saja mewakili inang perantara yang memfasilitasi munculnya virus pada manusia.

Para penjual di pasar Huanan menyediakan makanan laut, daging dan hewan/satwa hidup termasuk ayam, keledai, domba, babi, rubah, luak, tikus bambu, landak dan ular. Para ahli China menemukan keberadaan COVID-19 ini pada ular kobra (Ji et al. 2020). Namun para ahli lainnya menyatakan tidak ada bukti bahwa ular dapat terinfeksi dengan virus corona baru dan bertindak sebagai inang, karena virus corona sudah jelas hanya menulari mamalia dan unggas (Robertson et al. 2020).

Suatu hal yang pasti adalah bahwa pasar hewan/satwa hidup yang diregulasi dengan buruk, dicampur dengan perdagangan satwa liar ilegal menawarkan peluang yang baik untuk virus melimpah keluar dari inang satwa liarnya ke populasi manusia. Pertimbangan yang menantang negara-negara yang memiliki situasi seperti ini untuk menutup pasar yang memperdagangkan satwa liar, memperkuat upaya untuk memerangi perdagangan satwa liar dan mengubah perilaku konsumsi satwa liar yang berbahaya, terutama di perkotaan.

 

Pentingnya Surveilans

Negara kepulauan Indonesia adalah rumah bagi sekitar 175 spesies kelelawar. Sekitar 62 spesies kelelawar di dunia ditemukan di Sulawesi (Heinrichs et al. 1997). Sama halnya dengan negara-negara lain, banyaknya spesies kelelawar di Indonesia juga berpotensi untuk menularkan zoonosis dari virus-virus baru yang menjadi ancaman signifikan bagi kesehatan masyarakat.

Penularan zoonosis yang dipicu oleh hilangnya habitat alamiah, kepadatan penduduk, perilaku masyarakat dan perburuan satwa liar dapat terjadidi daerah-daerah tertentu di Indonesia. Selain itu, keragaman virus corona yang sangat luas dalam populasi kelelawar dibarengi dengan dinamika inang dan virus, akan menyebabkan suatu posisi unik dalam kemunculan zoonosis baru di masa depan.

Ada banyak kendala dalam upaya mencegah, mendeteksi, memonitor dan menangani penyakit-penyakit satwa liar. Kendala yang mungkin meliputi hambatan politik dan hukum, kurangnya pengetahuan tentang banyak penyakit satwa liar, tidak adanya data dasar tentang populasi satwa liar, kesulitan dalam pelaksanaan surveilans dan kendala logistik.

Mengingat keterkaitan yang diuraikan di atas, maka kegiatan surveilans pada satwa liar dan lingkungannya perlu ditingkatkan untuk upaya deteksi dini penularan zoonosis. Indonesia memiliki pengalaman dalam surveilans penyakit zoonosis sejak munculnya kasus flu burung di 2003-2004 lalu. Surveilans bersama dan pertukaran informasi antar dokter dan dokter hewan dengan mengintegrasikan unsur epidemiologi, analisis laboratorium dan surveilans dapat mempercepat respon terhadap zoonosis satwa liar.

 

Sumber: INFOVET EDISI 308 Maret 2020

Tinggalkan Balasan

Inang Alamiah Virus Corona

by Civas time to read: 4 min
0