Vets for a Better Life
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Tuesday, 7 April 2020
201811082018-11-08-ASF
Sumber: Ditkeswan, Kementan RI

Ribuan Babi Ternak Mati di Empat Kabupaten/Kota di NTT

Jumat, 21 Februari 2020

Kupang – Sebanyak 1.076 ternak babi warga dilaporkan mati di Provinsi Nusa Tenggara Timur sejak akhir Januari 2020 hingga hari ini. Kematian mendadak itu tersebar di Kabupaten Belu, Timor Tengah Utara, Kabupaten Kupang, dan Kota Kupang. Sampel darah dan organ babi mati telah dikirim ke Medan, Sumatera Utara.

Kepala Dinas Peternakan Nusa Tenggara Timur (NTT) Danny Suhadi di Kupang, Jumat (21/2), mengatakan, kasus kematian ternak babi itu berawal dari Kabupaten Belu, kemudian merambat ke Timor Tengah Utara, Kabupaten Kupang, dan Kota Kupang. Penyebabnya belum diketahui, tetapi dari gejalanya diduga hog cholera atau demam babi afrika (african swine fever/ASF).

”Penyebab kematian belum pasti, tetapi bisa mengarah ke ASF. Gejala-gejala klinisnya demam tinggi, kehilangan nafsu makan, muntah, dan diare, kemudian mati. Gejala seperti ini bisa juga hog cholera,” kata Danny. Babi mati tak terlaporkan relatif banyak, terutama di desa-desa di pedalaman.

Saat ini, jumlah babi mati telah mencapai 1.076 ekor, masing-masing tersebar di Belu sebanyak 570 ekor, Timor Tengah Utara/TTU (400), serta Kabupaten Kupang dan Kota Kupang sebanyak 106 ekor. Belum ada laporan di Kabupaten Malaka dan Timor Tengah Selatan. Kasus kematian babi serupa diduga masih banyak, tetapi belum dilaporkan karena masyarakat menganggap sebagai kematian wajar.

Ia mengatakan, sampel darah dan organ tertentu babi mati telah dikirim ke Laboratorium Veteriner di Medan Sumatera Utara sebagai laboratorium rujukan, khusus AFS. Pengiriman sampel pertama pertengahan Januari 2020. Dalam waktu dekat, hasil sampel dari Medan segera tiba di Kupang.

Merebaknya kematian babi karena ASF sudah dikonfirmasi terjadi di sejumlah kabupaten, termasuk di Deli Serdang, Sumatera Utara. Ribuan babi ternak mati dan dibuang ke sungai. Hingga kini, para peternak belum menerima informasi dan kebijakan pemerintah yang menenangkan mereka.

Hal sama dialami di Bali. Hampir 1.000 babi mati, hingga dipastikan bahwa itu terkait ASF. Namun, hingga kini belum jelas penanganan dari pemerintah pusat. Daerah khawatir kejadian itu mengganggu pariwisata di Pulau Dewata itu.

Di NTT, petugas dinas peternakan provinsi sedang di lapangan bersama petugas dinas peternakan kabupaten/kota. Mereka menyemprot kandang babi, membersihkan kandang bersama peternak, dan mengajak peternak agar tak memberi makan babi dari sisa-sisa makanan olahan bersumber dari babi.

Meski belum diketahui penyebab pastinya, empat dinas peternakan di daerah yang mengalami kematian babi sudah diinstruksikan agar babi-babi di wilayah mereka tidak ditransportasikan ke luar daerah. Sejauh ini, Pulau Flores, Sumba, Alor, Lembata, Rote, dan Pulau Sabu masih aman dari kasus kematian babi.

Virus ASF yang menyerang Timor Leste sejak Agustus 2019 itu ditengarai berasal dari China. Negara tersebut mengimpor sejumlah produk makanan olahan babi  pada saat China sedang dilanda virus ASF tahun 2019.

Jumlah populasi ternak babi di NTT sekitar 3 juta ekor tersebar di 22 kabupaten/kota dengan harga jual Rp 2 juta hingga Rp 6 juta per ekor. Harga ini bergantung pada bobot babi. Rata-rata keluarga yang memelihara memiliki 2-5 ekor.

Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes mengatakan, meski belum mengetahui penyebab pasti kematian babi, ia telah memerintahkan petugas kesehatan hewan setempat memberi suntikan vitamin guna menjaga daya tahan babi dari serangan virus. Ia juga telah memerintahkan para camat dan kepala desa mengingatkan peternak agar tetap menjaga kebersihan kandang babi.

 

Pukulan Berat

Ketua Yayasan Mitra Timor Mandiri Vinsen Nurak mengatakan, kasus kematian babi kali ini merambat begitu cepat. Pemerintah menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, tetapi secara kasat mata dapat dipastikan ASF sudah merambat masuk Timor Barat.

Babi milik peternak di Kota Kupang, NTT. Jika tidak segera diatasi, babi-babi ini akan mudah terserang penyakit yang diduga demam babi afrika (ASF).

”Harus ada langkah strategis menanggulangi kasus ini. Ternak babi sebagai salah satu sumber ekonomi peternak. Mereka bisa membangun rumah, menyekolahkan anak, membiayai kesehatan, biaya hidup, dan kegiatan sosial dari penjualan babi. Jika semua babi di Timor habis akibat penyakit ini, ketahanan ekonomi warga akan ambruk,” kata Nurak.

Kondisi alam saat ini memukul dua kali warga NTT. Di tengah kekeringan di daratan Timor Barat yang berdampak pada gagal tanam dan gagal panen, ternak babi menjadi andalan hidup, selain sapi. Jika babi pun terserang virus, akan sangat membahayakan kehidupan masyarakat di Timor Barat.

Agustinus Naben (45), warga Desa Noemuti TTU, memiliki delapan  ternak babi, tiga ekor di antaranya mati. Namun, ia tidak melaporkan ke dinas peternakan setempat. Kematian babi seperti itu dia anggap biasa karena sering terjadi saat musim hujan.

”Saya potong babi yang mati itu, kemudian dijual di pasar seperti kasus-kasus sebelumnya. Kami belum paham soal virus baru dari Timor Leste itu,” kata Naben.

Kepala Desa Favoe, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka, Yoseph Seran Klau  memelihara 25 babi di desa itu. Sampai hari ini belum ada laporan mengenai kematian ternak babi di Kabupaten Malaka.

Malaka berbatasan dengan Distrik Suai, Timor Leste. Namun, di Pos Lintas Batas Motamasin-Timor Leste belum digelar pasar perbatasan seperti di Motaain dan perbatasan Wini. Menyusul adanya wabah ini, diharapkan tidak ada dulu pasar bersama di Motamasin karena bisa menjadi penyebab masuknya virus ASF ke daratan Timor Barat.

”Jika virus itu sudah ada di Belu, TTU, dan Kabupaten Kupang, cepat atau lambat akan masuk ke Malaka. Pemda harus melakukan pengawasan yang ketat agar ternak babi atau makanan olahan dari babi tidak masuk Malaka,” kata Yoseph. (Kornelis Kewa Ama | Ed: Gesit Ariyanto)

 

Sumber: Harian Kompas

Tinggalkan Balasan

Ribuan Babi Ternak Mati di Empat Kabupaten/Kota di NTT

by Civas time to read: 3 min
0