Vets for a Better Life
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Saturday, 25 January 2020
tikus1

Waspada KLB Leptospirosis, Hindari Kontak Langsung dengan Banjir

Minggu, 5 Januari 2020

Jakarta – Seiring dengan meningkatnya intensitas curah hujan di sebagian besar wilayah di Indonesia, potensi terjadi kejadian luar biasa penyakit leptospirosis pun semakin besar. Untuk itu, kewaspadaan terhadap penyakit ini perlu ditingkatkan karena bakteri leptospira dari urin hewan yang terinfeksi bisa terbawa dari banjir atau genangan air.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono (5/1), menuturkan, surat edaran tentang Kewaspadaan KLB Leptospirosis telah diterbitkan dan diteruskan kepada seluruh pemerintah daerah di Indonesia. Hal ini merujuk pada kasus leptospirosis yang terus meningkat di sejumlah daerah, terutama saat musim hujan tiba.

”Leptospirosis secara epidemiologis terjadi di hampir semua daerah di Indonesia karena semua daerah di Indonesia punya tikus sebagai inang atau host dari kuman leptospira. Dikhawatirkan bisa berpotensi terjadi kejadian luar biasa (KLB) leptospirosis,” katanya.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, kasus leptospirosis cenderung meningkat setiap tahun. Dilaporkan, pada 2016 terdapat 830 kasus dengan 61 kematian akibat penyakit ini. Jumlah ini meningkat pada 2017 menjadi 940 kasus dengan 236 kematian dan pada 2018 terlapor ada 894 kasus dengan 150 kematian.

Sementara itu, hingga Oktober 2019, tercatat sembilan provinsi telah melaporkan adanya peningkatan kasus leptospirosis dengan total kasus sebanyak 686 dengan 110 kematian. Adapun laju kematian (case fatality rate/ CFR) sebesar 16 persen tercatat di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Maluku, dan Sulawesi Selatan.

Anung mengatakan, bakteri leptospira biasanya dibawa oleh hewan liar ataupun peliharaan, seperti tikus, babi, anjing, dan sapi. Bakteri ini ada pada ginjal binatang dan menyebar melalui urin sehingga bisa ditemukan dalam banjir dan genangan air.

”Kalau terjadi banjir atau ada genangan air, kuman leptospira yang ada pada kencing tikus berpotensi terbawa air tersebut. Apabila kulit kita ada luka dan terjadi kontak dengan air itu, leptospira bisa masuk ke tubuh manusia, di samping masuknya juga bisa lewat lendir atau mukosa tubuh,” tuturnya.

Menurut Anung, antisipasi yang paling utama untuk dilakukan adalah menghindari kontak langsung dengan banjir ataupun genangan serta tidak bermain air kotor saat banjir.

Kondisi pascabanjir di Perum Pondok Gede Permai, Jatirasa, Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat (2/1). Masyarakat terdampak banjir dan longsor yang terjadi di wilayah Jabodetabek berisiko mengalami berbagai jenis penyakit akibat lingkungan yang kotor, seperti ISPA, leptospirosis, dan diare.

Anung mengatakan, jika terpaksa harus melakukan aktivitas di tengah banjir, masyarakat diimbau agar mengenakan pelindung diri, seperti  sepatu bot, sarung tangan karet, dan kacamata pelindung agar tidak terpercik air. Segera  cuci tangan dan kaki dengan sabun serta air mengalir setelah melakukan aktivitas di genangan air.

Praktisi klinis, Ari Fahrial Syam, yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menambahkan, masyarakat diharapkan segera memeriksakan diri ke petugas kesehatan jika ditemukan gejala penularan leptospirosis.

Gejala yang bisa timbul adalah demam tinggi mendadak, sakit kepala, mual muntah, lemas, dan nyeri otot, terutama pada otot betis. Selain itu, gejala lain seperti mata merah, kulit menjadi kekuningan, dan air kencing berwarna pekat seperti air teh.

”Penyakit leptospirosis sangat berbahaya jika tidak segera diatasi. Penyakit ini bisa berlanjut dengan berbagai komplikasi, antara lain kerusakan ginjal serta peradangan pada pankreas, liver, paru, dan otak. Deteksi dini menjadi penting, tetapi banyak masyarakat dan tenaga kesehatan kurang waspada penyakit ini karena gejalanya mirip dengan infeksi hepatitis virus dan demam tifoid,” kata Ari. (Deonisia Arlinta | Ed: Pascal S Bin Saju)

 

Sumber: Kompas

Tinggalkan Balasan

Waspada KLB Leptospirosis, Hindari Kontak Langsung dengan Banjir

by Civas time to read: 2 min
0