www.civas.net
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Saturday, 23 February 2019
IMG_0959

Atasi AMR, Dokter Hewan Menjadi Garda Terdepan

Selasa, 29 Januari 2019

BogorAntimicrobial Resistance (AMR) masih menjadi isu global yang terus menjadi perhatian banyak pihak. Fenomena ini tidak hanya terjadi di manusia, tetapi juga pada hewan dan lingkungan. Hal ini terjadi akibat penggunaan antibiotik yang berlebihan, tidak bijak dan tidak bertanggung jawab.

Hal tersebut mendasari Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS) melaksanakan seminar dan dialog “Pendekatan One Health dalam Upaya Mengatasi Meningkatnya Ancaman Resistensi Antimikroba (AMR)”, Sabtu (1/12).

Seminar dihadiri peserta dokter hewan dari beragam institusi, Ketua Pelaksana, Drh Sunandar, menyebut, saat ini peran dokter hewan telah menjadi dasar penting untuk keberhasilan penerapan strategi, tindakan, dan metode untuk memajukan, melindungi, serta mengembalikan kesehatan hewan dan kesehatan manusia,

Sementara Ketua Badan Pengurus CIVAS, Drh Tri Satya Putri Naipospos, mengungkapkan, edukasi, mengenai AMR menjadi sesuatu hal yang penting. Menurutnya, saat ini Indonesia telah memiliki lebih dari 20 ribu dokter hewan rata-rata mereka memberikan pelayanan teknis di pemerintah atau swasta, sehingga mereka harus paham dan mengerti AMR.

“Para dokter hewan, mereka adalah garis terdepan yang dalam praktik sehari-harinya melakukan pemberian antibiotik kepada hewan. Mereka kurang tersentuh dengan kampanye tentang AMR, ini tidak benar, kalau mau menurunkan kasus AMR pada manusia sebagai konsumen produk ternak, maka yang perlu dilakukan edukasi dokter hewannya secara langsung,” tutur Tata, sapaannya.

Ia menambahkan, profesi dokter hewan harus aktif dalam menghadapi AMR dengan pendekatan One Health. “Untuk memitigasi risiko AMR, dokter hewan harus mengubah cara pemberian anggotik lama yang dianggap berlebihan dan menyimpang menjadi bijak dan bertanggung jawab,” imbuhnya.

Senada, Dr Joanna McKenzie, pembicara dari Massey University, New Zealand menyatakan AMR merupakan ancaman nyata yang dapat menyebabkan kematian lebih dari 10 juta orang pada tahun 2050 mendatang jika tidak bergerak dari sekarang.

AMR, lanjut dia, merupakan masalah komplek dan multi sektoral yang membutuhkan pendekatan One Health, serta peran semua pihak terutama dokter hewan. Profesi kesehatan hewan sangat penting dalam penggunaan antimikroba dengan bijak, sebab 80-99% penggunaan antimikroba terdapat di industri peternakan.

Ditambahkan oleh Dr Tikiri Wijayathilaka, spesialis AMR dari Sri Lanka, Benua Asia merupakan salah satu epicenter terjadinya AMR di dunia, ini disebabkan masih lemahnya penegakkan peraturan dan pengawasan antibiotika untuk kesehatan manusia dan ternak, selain ancaman dari antibiotik palsu yang 78% diproduksi di Asia, 44% diantaranya digunakan di kawasan ini. (Sadarman)

 

Sumber: Infovet Edisi 294 Januari 2019

Tinggalkan Balasan

Atasi AMR, Dokter Hewan Menjadi Garda Terdepan

by Patricia Noreva time to read: 1 min
0