www.civas.net
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Wednesday, 17 July 2019
Situasi Rabies P Nias 2010-2017
Sumber: Kompas

Kepulauan Nias Kekurangan Vaksin Rabies

Minggu, 13 Januari 2019

Gunungsitoli — Kepulauan Nias di Sumatera Utara kekurangan vaksin rabies. Padahal, daerah tersebut merupakan daerah endemik rabies. Ada sekitar 40.000 anjing di pulau tersebut. Namun, hanya 5.000 dosis vaksin rabies yang tersedia setiap tahun.

“Tiga warga di Kepulauan Nias meninggal pada tahun 2018 akibat penyakit rabies atau lyssa. Pemerintah harus meningkatkan vaksinasi rabies di Nias agar peristiwa ini jangan terjadi lagi,” kata anggota Dewan Perwakilan Daerah RI asal Sumut Parlindungan Purba di Kota Gunungsitoli (12/1).

Parlindungan mengatakan, ia telah meminta Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (DJPKH) menambah pasokan vaksin rabies untuk Kepulauan Nias. Hal itu adalah cara untuk mencapai Nias bebas rabies.

Tiga warga di Kepulauan Nias meninggal pada tahun 2018 akibat penyakit rabies atau lyssa. Pemerintah harus meningkatkan vaksinasi rabies di Nias agar peristiwa ini jangan terjadi lagi.

Kepala Seksi Pengawasan Obat Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumut Hendra Sutrisno mengatakan, populasi anjing yang merupakan hewan penular rabies termasuk tinggi di Kepulauan Nias. Hampir setiap rumah tangga memelihara satwa tersebut. Anjing pun berkeliaran di permukiman dan jalan.

Menurut Hendra, untuk mencapai Nias bebas rabies, sedikitnya 70 persen atau sekitar 28.000 ekor dari 40.000 anjing di Kepulauan Nias harus divaksin setiap tahun. Namun, keterbatasan vaksin membuat mereka hanya mampu memvaksin sekitar 5.000 anjing per tahun. Selama ini, vaksin tersebut dipasok dari pemerintah kabupaten dan kota di Kepulauan Nias dan Pemerintah Provinsi Sumut.

Petugas menunjukkan vaksin rabies di daerah endemik rabies, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara (12/1). Dari total 40.000 anjing di Kepulauan Nias, baru sekitar 5.000 ekor per tahun yang dapat divaksin karena keterbatasan vaksin.

Meski demikian, kata Hendra, jumlah kematian manusia akibat rabies terus berkurang. Pada 2010, 26 orang meninggal di Nias karena rabies. Angka itu terus berkurang hingga menjadi tiga orang per tahun sejak 2016.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kota Gunungsitoli Edi Roto Zebua mengatakan, selain keterbatasan vaksin, mereka juga kesulitan meningkatkan jumlah anjing yang divaksin karena terbatasnya petugas. Kota Gunungsitoli sendiri hanya mempunyai empat petugas vaksinator.

Tim tersebut pun hanya mampu memvaksin 30 anjing setiap hari karena mereka harus berkeliling dari satu rumah ke rumah lain. “Seharusnya vaksinasi bisa dilakukan di satu tempat terpusat. Jadi warga membawa anjingnya ke satu tempat yang telah ditentukan petugas sehingga anjing yang divaksin lebih banyak. Namun, saat ini kami harus menemui satu per satu pemilik ke rumah masing-masing,” katanya.

Edi mengatakan, kasus gigitan anjing di Kepulauan Nias masih cukup tinggi, tetapi yang menyebabkan rabies pada manusia terus berkurang. (Nikson Sinaga)

 

Sumber: Kompas.id

Tinggalkan Balasan

Kepulauan Nias Kekurangan Vaksin Rabies

by Civas time to read: 2 min
0