www.civas.net
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Wednesday, 18 September 2019
babi
Ilustrasi

Karantina Awasi Sisa Katering Pesawat dan Kapal dari Luar Negeri

Rabu, 5 Desember 2018

Salah satu upaya Badan Karantina Pertanian dalam pencegahan masuk dan tersebarnya Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) dari luar negeri adalah memusnahkan media pembawa lain berupa sisa katering yang dibawa oleh pesawat dan kapal dari luar negeri.

Selain sisa katering, sisa makanan yang dibawa penumpang maupun awak/kru pesawat dan kapal dari luar negeri juga menjadi fokus pengawasan karantina. Penyakit African Swine Fever (ASF) yang tidak ada di Indonesia, dapat mungkin masuk dan menular pada peternakan babi nasional melalui media pembawa ini (Evira Research Report, 5/2011).

Untuk diketahui, African Swine Fever (ASF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus genus Asfivirus keluarga Asfaviridae, dimana virus ini tidak saja bertahan infeksius untuk jangka waktu lama di dalam darah, jaringan tubuh dan feses babi terinfeksi, namun juga dapat bertahan hidup berbulan-bulan di lingkungan dan menempel secara mudah pada setiap permukaan.

Dengan demikian daging babi yang tidak dimasak atau kurang dimasak, kandang dan bangunan peternakan, serta alat angkut (pesawat/kapal/kendaraan) atau peralatan yang kontak dengan material terinfeksi memiliki risiko tinggi sebagai penular ASF, di samping dapat ditularkan melalui gigitan caplak jenis ornithodoros maupun orang dari luar negeri yang terkontaminasi pada saat mengunjungi suatu peternakan babi tertular. Tidak hanya itu saja, melainkan sayur-sayuran, tanaman, rodensia, hewan peliharaan dan pakan ternak dapat menjadi sumber penularan virus ASF walaupun kemampuan penularannya sangat rendah (EFSA Journal, scientific opinion on ASF, 2014).

Wabah ASF di Asia terdeteksi di beberapa provinsi China, salah satunya Provinsi Liaoning melalui immediate notification OIE Agustus 2018. Sebelumnya, wabah penyakit ini menjadi masalah serius yang memberikan dampak kerugian ekonomi di beberapa negara, sebagai contoh Cuba pada tahun 1980-an dan Spanyol yang menghabiskan sekitar 10 juta US$ dan 92 juta US$ untuk program pemberantasan ASF. Belum lagi kerugian yang ditimbulkan dalam perdagangan internasional akibat tidak diterimanya suatu produk babi oleh negara pengimpor (Evira Research Report, 5/2011).

Dalam antisipasi masuknya penyakit ASF melalui sampah karantina tersebut di atas, termasuk feses, sisa pakan, maupun hasil ikutan dari pengangkutan ternak yang diimpor dari luar negeri melalui pesawat/kapal laut, Badan Karantina melakukan pengawasan terhadap pemusnahannya yang dilakukan oleh penanggung jawab alat angkut. Pengawasan dilakukan berkoordinasi dengan instansi terlibat di bandara maupun pelabuhan, antara lain Otoritas Bandara/Pelabuhan dan PT Angkasa Pura maupun PT Pelabuhan Indonesia.

Untuk sisa makanan yang dibawa penumpang dan awak/kru pesawat/kapal dari luar negeri, sebelum dilakukan pemusnahan harus dibuang di kotak sampah karantina yang tersedia di area kedatangan bandara dan pelabuhan internasional. Hal ini sesuai dengan Pasal 25 UU No.16/1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan dan Pasal 56 Peraturan Pemerintah No.82/2000 tentang Karantina Hewan. Pemusnahan sampah juga sejalan dengan Peraturan Menteri Perhubungan No.PM 54/2017 tentang Pengelolaan Limbah dan Zat Kimia Pengoperasian Pesawat Udara dan Bandar Udara, dimana sampah internasional juga harus dimusnahkan. (Sri Endah Ekandari/Kepala Sub Bidang Keamanan Hayati)

 

Sumber: Infovet Edisi 293 Desember 2018

 

 

Tinggalkan Balasan

Karantina Awasi Sisa Katering Pesawat dan Kapal dari Luar Negeri

by Civas time to read: 2 min
0