www.civas.net
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Saturday, 19 January 2019
Ishani Ranjan 2015
Sumber: Ishani Ranjan

Teror Kematian Zoonosis

Senin, 5 November 2018

Jakarta – Indonesia boleh bangga dijuluki sebagai salah satu negara mega biodiservitas. Namun, di balik kelebihan itu tersembunyi potensi kemunculan wabah zoonosis serta penyakit menular baru (emerging infectious diseases-EID) yang mengancam nyawa.

Komite Ahli WHO pada 1958 mendefinisikan zoonosis sebagai suatu penyakit yang secara alamiah dapat menular di antara hewan vertebrata dan manusia. Demikian pula yang tercantum di Undang-undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Penyakit zoonosis merupakan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia, ataupun sebaliknya.

Potensi wabah zoonosis bukan tanpa sebab disematkan kepada Indonesia. Kementerian Kesehatan mencatat saat ini terdapat sekitar 150 penyakit zoonosis yang mengancam Indonesia, seperti Avian Influenza (AI) atau flu burung, rabies, dan antraks.

Kemunculan tiga penyakit tersebut dipicu pelbagai faktor, seperti arus globalisasi, deforestasi (penggundulan hutan), perubahan iklim, serta peningkatan arus urbanisasi dan populasi manusia.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik (P2PTVZ) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi menerangkan, ada beberapa vektor (hewan penular penyakit) yang wajib diwaspadai oleh masyarakat. Di antaranya adalah tikus, nyamuk, keong, cacing, dan lainnya.

Sementara untuk hewan peliharaan, beberapa di antaranya adalah anjing yang menyebabkan rabies atau burung yang menyebabkan flu burung.

Namun, sebetulnya penyakit zoonosis tidak hanya ditularkan oleh hewan dan vektor semata, tetapi juga bisa terjadi sebaliknya, dari manusia ke hewan. Siti menyebutkan, hingga saat ini Kemenkes mencatat ada sekitar 150 penyakit zoonosis.

“Tapi jenis-jenis tersebut ada yang dengan sistem kekebalan tubuh yang baik, tidak akan menginfeksi manusia, atau tidak berbahaya,” ungkap Siti (2/11).

Oleh karena itu, Siti mengatakan, Kemenkes memiliki lima prioritas penyakit zoonosis, yaitu flu burung, rabies, leptospirosis, antraks, serta Japananes Encephalitis (JE) dan pes. Rabies dan flu burung merupakan dua penyakit zoonosis dengan penyebaran yang paling banyak di Indonesia.

 

Flu Burung / Avian Influenza (AI)

Pada 2003 lalu Indonesia pernah diserang wabah flu burung yang menghilangkan nyawa ratusan orang. WHO kala itu mencatat, dari 359 kematian terkait flu burung di seluruh dunia, 159 kematian di antaranya terjadi di Indonesia.

Penyakit ini ditularkan kepada manusia melalui virus Avian Influenza yang disebarkan melalui kontak langsung dengan cairan tubuh unggas yang sakit, seperti kotorannya. “Apalagi masih ada 15 provinsi yang terjangkit flu burung,” tutur Siti yang tadinya menjabat sebagai Kepala Bagian Program dan Informasi Setditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes ini.

 

Wabah flu burung ternyata kembali terulang pada 2006. Dari 55 kasus yang terdata, Kepala Sub Direktorat Higiene Sanitasi dan Penerapan Kementerian Pertanian (Kementan RI) Arif Wicaksono mengatakan bahwa 45 korban harus meregang nyawa (2/11).

Beruntung angka tersebut secara konsisten turun pada 2007 menjadi 42 kasus dan kembali turun menjadi 24 kasus pada 2008. Yang menjadi persoalan, persentase kematian unggas akibat flu burung justru meningkat.

“Di tahun 2007 angka kematian mencapai 88,10% dari keseluruhan kasus, di tahun 2008 persentasenya mencapai 83,33%,” jelasnya. Meski begitu, Arif memastikan, dalam enam tahun terakhir kasus flu burung jauh menurun. Kasusnya tidak sampai 10 kasus dalam setahun. Bahkan, pada 2016 tidak ada kasus sama sekali. Namun, setahun berselang, penyakit flu burung kembali meningkat hingga mencapai 621 kasus.

Sementara itu, sesuai laporan kasus Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI), Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Juli, Agustus, dan September 2017 menempati pencapaian tertinggi di antara provinsi lainnya dengan 270 kasus flu burung tercatat pada unggas.

Arif menyebut Sulawesi memang merupakan pusat peternakan Indonesia di bagian timur dan lalu lintas perdagangan hewan dan ternak yang paling sibuk. Jadi, cukup rentan memicu flu burung.

“Keadaannya ditambah oleh masyarakat yang belum terlalu peduli dengan kejadian penyakit zoonosis. Perlu ada peningkatan KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi),” jelas Arif.

Sunandar Direktur Eksekutif LSM Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS) menjelaskan bahwa penyebarannya bisa melalui udara atau kontak secara langsung dan tidak langsung. Hal ini berbeda dengan penyebaran rabies yang hanya melalui kontak langsung.

Flu burung merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh unggas. Flu burung sendiri memiliki dua jenis virus, yakni Highly Pathoghenic Avian Influenza (HPAI) dan Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI).

Sunandar menyebutkan orang yang terpapar virus HPAI akan lebih berpotensi terinfeksi dan mengakibatkan kematian. Selain itu, Sunandar juga menyebutkan bahwa untuk penyakit flu burung, tidak semua orang mudah terpapar. “Sifat penyebarannya lebih individual, artinya ada orang yang lebih rentan dan ada yang tidak,” katanya.

Jadi, lanjut Sunandar, mungkin saja ada dua pekerja ternak yang masuk kandang peternakan yang sama, namun hanya salah satu di antara mereka yang terpapar penyakit flu burung.

“Karena pada dasarnya orang yang terpapar penyakit dipengaruhi oleh tingkat imun seseorang,” demikian ucap Sunandar.

 

Rabies

Kementan sampai saat ini juga memprioritaskan penanganan penyakit zoonosis, yakni rabies dan antraks. Setahun ke belakang, kasus rabies memang masih terbilang tinggi karena masih mencapai 409 kasus. Penyakit zoonosis ini lagi-lagi menjadi momok bagi Sulsel. Terdapat 105 kasus di sana.

Masalahnya pun bukan sebatas ketidakpedulian saja. Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan Penularan Penyakit Zoonosis Kementan RI Gunawan Setiaji menyebut, pihaknya sampai saat ini kesulitan melakukan vaksinasi terhadap hewan-hewan liar atau pun hewan tak berkepemilikan, terlebih untuk zoonosis jenis rabies. Padahal, rabies masih jadi penyakit yang mengkhawatirkan sampai saat ini.

“Kendalanya adalah hewan yang tak berkepemilikan dan situasi-kondisi medan (hutan) saat kita melakukan penangkapan untuk vaksinasi,” ujar Gunawan (2/11).

Anjing peliharaan pun sebetulnya sangat mudah terkena dampak rabies. Koordinator Jakarta Animal Aid Network (JAAN) Femke Den Haas menerangkan, hal ini terjadi karena si pemilik minim pengetahuan. “Sekarang ini, sudah banyak orang memelihara anjing, tetapi yang memiliki sertifikasi ataupun surat bebas rabies itu sedikit,” terangnya (1/11).

Kata Femke, tak sedikit masyarakat memelihara hewan (anjing) sekadar ikut-ikutan saja. “Kebanyakan karena ikut tren saja. Ketika sudah merasa memiliki dan bosan, mereka membiarkan anjingnya,” katanya.

Kemenkes merangkum dalam Strategi Eliminasi Rabies 2020 bahwa rabies menular melalui gigitan hewan penular rabies (GHPR), baik anjing, kucing, kera, maupun musang. Kenyataannya, 98% kasus rabies terjadi karena gigitan anjing. Hanya 2% saja yang terjadi karena kucing atau kera.

Rabies dikenal memiliki dampak serius. Sebutan penyakit anjing gila yang disematkan pada rabies sejatinya bukan tanpa dasar. Sebab bila telah mencapai gejala dan tanda klinis rabies pada otak (Encephalomyelitis), baik hewan maupun manusia yang tertular rabies akan berakhir pada kematian. Perbandingannya, hanya ada satu penderita yang berhasil hidup setelah mengalaminya.

Siti menambahkan, permasalahan rabies hingga saat ini masih menjadi tugas besar yang harus diselesaikan. Kasus rabies masih terjadi di lebih dari setengah wilayah yang ada di Indonesia.

“Sekarang ini baru ada sembilan provinsi yang bebas rabies, 25 provinsi lainnya belum,” terangnya.

Provinsi Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Barat (NTB) secara historis memang merupakan daerah bebas rabies, sedangkan Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, DKI Jakarta, Kepulauan Riau, dan Bangka Belitung merupakan daerah yang berhasil dibebaskan. Masih terdapat 25 provinsi lainnya harus terus berjuang mengeliminasi rabies.

Menurut catatan Kemenkes, sepanjang 2017-2018, tingkat kematian akibat rabies (Lyssa) masih terbilang tinggi. Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) berada di posisi teratas, yaitu dengan 22 kematian pada 2017 dan 10 kematian pada 2018.

Tepat di bawah Kalbar ada Provinsi Sulsel dengan angka kematian yang sama di tahun 2017, yaitu 22, dan 5 kematian di tahun 2018. Kemudian ada Sulawesi Utara (Sulut) dengan 15 kematian di 2017 dan 4 kematian di 2018.

Sementara jika dilihat dari kejadian gigitan hewan penular rabies (GHPR) secara nasional, sepanjang tahun 2017 ada sekitar 74.910 kasus gigitan yang terjadi. Dari angka tersebut, hanya sekitar 51.580 yang ditangani dengan memberi vaksin anti-rabies pada korban. Total korban yang akhirnya mengalami kematian sebanyak 108 orang, atau naik 9 orang dari tahun sebelumnya.

Sedangkan per Oktober 2018, angka kejadian GHPR jauh menurun, yaitu sekitar 21.070 kasus dan 14.720 kasus di antaranya berhasil ditangani dengan pemberian vaksin. Sayangnya, angka kematian belum dapat ditahan, tetap ada 71 kematian.

Diakui Siti, gigitan rabies masih terjadi karena hewan penular virus tersebut belum sepenuhnya terdata dan masih berkeliaran. Masih banyak kendala untuk menangani seluruh hewan yang diduga menyebarkan virus rabies.

“Sebenarnya juga karena ada beberapa kebudayaan masyarakat kita yang membebaskan anjing liar seperti di Bali,” ujar Siti.

Di Bali, masyarakat memiliki kebudayaan untuk tidak mengekang anjing. Hal ini menyebabkan peredaran anjing dengan rabies menjadi lebih tidak terkendali. Permasalahan lainnya adalah terjadinya kontak antara anjing peliharaan dan anjing liar, ketika berburu atau didatangkannya anjing dari daerah lain untuk keperluan berburu, tetapi tidak dibarengi dengan kesehatan yang memadai.

“Selain itu juga kesadaran masyarakat kita untuk memvaksinasi anjingnya secara teratur masih perlu ditingkatkan,” tambahnya.

Secara teori, lanjut Sunandar, gejala hewan yang terjangkit rabies ialah hewan yang mengeluarkan air liur berlebih dan melipatkan ekornya di antara kedua kaki.

Namun, Sunandar mengatakan bahwa saat ini gejala hewan yang terjangkit rabies tak melulu seperti itu. Gejala hewan yang terjangkit rabies dapat turut dilihat dengan adanya perubahan perilaku hewan, dari yang semula pasif menjadi aktif, ataupun dapat sebaliknya.

“Jadi bukan berarti hewan yang menggigit itu pasti rabies, tetapi memang sebaiknya kalau setelah mengalami gigitan hewan segera bersihkan luka dan lapor ke puskesmas,” jelas Sunandar.

Perubahan perilaku hewan disebutkan Sunandar terkadang karena perilaku manusia yang mengganggu hewan. Jadi, hewan merasa terancam. Akibatnya, hewan memberi respons yang agresif atau galak kepada manusia.

 

Antraks

“Sedangkan untuk kasus antraks, yang dilaporkan hanya kecurigaan-kecurigaan terdampak antraks,” ujar Arif. Saat ini

 

Vaksinasi Penyakit Zoonosis pada Hewan Liar

Masifnya penyebaran penyakit zoonosis di Indonesia tentu tak bisa dianggap remeh. Pantauan Office International des Epizooties (OIE) menggambarkan 80% penyakit menular pada manusia itu bersumber dari hewan. Lantas, sekitar 75% penyakit baru bagi manusia juga disebabkan oleh mikroba yang berasal dari hewan.

Arif menjelaskan, ada tiga faktor yang memengaruhi masifnya penyebaran zoonosis. Pertama, keanekaragaman mikroba satwa liar dalam suatu wilayah tertentu. Kedua, perubahan lingkungan. Ketiga, frekuensi interaksi antara hewan dan manusia. Dia memastikan, apabila salah satu faktor tersebut terganggu, dipastikan zoonosis pun akan menyebar.

Untuk mencegahnya, masyarakat disebutnya perlu menyadari bahwa penyebaran zoonosis saat ini telah semakin liar. Bagi Arif salah satu cara untuk mencegahnya saat ini adalah lewat vaksinasi.

“Tapi negara kita negara kepulauan, agak sulit. Masih banyak pula masyarakat yang masih belum peduli terhadap vaksinasi,” ungkapnya.

 

Pengendalian Vektor dan Zoonosis Lainnya

Selain rabies, Siti menerangkan, penyakit zoonosis lainnya yang memiliki penyebaran terbesar adalah flu burung. Penyakit ini ditularkan kepada manusia melalui virus Avian Influenza yang disebarkan melalui kontak langsung dengan cairan tubuh unggas yang sakit, seperti kotorannya.

“Apalagi masih ada 15 provinsi yang terjangkit flu burung,” tutur wanita yang tadinya menjabat sebagai Kepala Bagian Program dan Informasi Setditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes ini.

Untuk kasus tertinggi leptospirosis sendiri terjadi di Jawa Tengah, yaitu 113 kasus dengan 26 kematian. Penyakit ini disebabkan bakteri leptospira interrogans yang penyebarannya terjadi lewat melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi.

Hewan pengerat seperti tikus dan hewan ternak, seperti sapi dan babi merupakan hewan yang bisa menularkan penyakit ini. Anjing juga termasuk vektor.

Diakui Siti, hewan, baik peliharaan maupun tidak, memang memiliki kontak yang sangat dekat dengan manusia secara sadar. Namun, yang tidak boleh kalah diperhatikan justru vektor-vektor yang berada di lingkungan manusia.

Sebut saja kasus pes atau penyakit sampar yang terjadi akibat gigitan hewan pengerat, terutama tikus. Infeksi akibat bakteri Yersinia pestis ini bisa berujung kematian. Jadi, mengingat tikus adalah salah satu jenis hewan yang hampir pasti ada di lingkungan perumahan, Siti berharap masyarakat lebih mempedulikan keberadaan vektor yang bisa berdampak pada kesehatannya.

Beberapa vektor lainnya yang harus diwaspadai adalah nyamuk penyebab demam berdarah, nyamuk malaria, atau jenis cacing seperti cacing filaria yang menyebabkan kaki gajah.

Kata Siti, penyakit kaki gajah masih terjadi di banyak wilayah. Masih ada 251 kabupaten dan kota yang merupakan wilayah endemis cacing yang menginfeksi kelenjar getah bening ini.

“Karena sebenarnya cacing filarianya masih ada, otomatis penyakitnya ada. Kalau untuk vektor masih banyak PR dan tidak mudah karena pengendalian vektor melibatkan Kemenkes dan Kementerian Pertanian (Kementan),” ujar Nadia.

Sementara itu, Sunandar menjelaskan, bahwa hampir 98% penularan ke manusia itu melalui gigitan hewan anjing. “Ada pula karena cakaran, namun tak sebanyak kasus rabies karena gigitan,” kata Sunandar (02/11). (Fajar Setyadi, Elisabet Hasibuan, Dana Pratiwi, Fadli Mubarok | Ed. Fie)

 

Sumber: Valid News

Tinggalkan Balasan