Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Wednesday, 12 December 2018
anjing

Rabies Tak Kunjung Beres

Rabu, 12 September 2018

Soeharsono

Dokter Hewan Mantan Penyidik Penyakit Hewan di Denpasar

 

Dalam sepekan terakhir, Kompas menyoroti masalah rabies, terutama situasi darurat di Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur. Sepanjang 1997-2017, sudah 321 orang meninggal karena rabies di Flores.  Namun, korban masih berlanjut sampai 2018 meskipun relatif menurun.

Berita kelangkaan stok vaksin antirabies (VAR) untuk manusia (6/8/18), menimbulkan kepanikan warga. Hal ini bisa dipahami karena begitu digigit anjing rabies dan gejala muncul, infeksi tidak bisa dihentikan dan berakhir dengan kematian.  Meski demikian, sebagian besar serangan virus rabies bisa diatasi melalui vaksinasi segera pasca-gigitan (post exposure vaccination). Pemberian VAR pertama oleh Louis Pasteur, 1885.

Bali tertular rabies sejak 2008. Sampai saat ini lebih dari 160 orang meninggal. Meskipun terdapat lebih dari 300 dokter hewan di Bali, rabies tetap sulit dieradikasi.

 

Pelik dan Kompleks

Dr. Soehardjo Hadjosworo, ahli rabies dari Fakultas Kedokteran Hewan IPB, dalam simposium Nasional Rabies di Bali (1984), menyatakan bahwa penanganan rabies memang pelik dan kompleks. Lewat berbagai upaya yang dilakukan pemerintah, sebenarnya kasus rabies pada anjing dan juga manusia sudah sangat rendah, tetapi belum ada tanda-tanda Indonesia akan segera bebas rabies.

Kunci pembebasan rabies adalah memutus rantai penularan atau siklus penyakit. Di Flores, Bali, dan bagian lain Indonesia-juga di negara tertular di Asia dan Afrika-siklus rabies terjadi pada anjing liar.  Anjing liar bisa bertahan dan makin banyak karena tersedia cukup makanan di habitatnya. Anjing liar akan menularkan penyakit langsung pada orang, atau lewat anjing berpemilik yang dibiarkan bebas ke sana-kemari, tetapi tidak divaksin. Siklus ini disebut urban rabies.

Siklus tersebut berbeda dengan rabies pada hewan liar vampire di Amerika Selatan atau rakun di Amerika Serikat, yang disebut sylvatic rabies.  Sylvatic rabies pada rubah (fox) di Eropa berhasil dibebaskan lewat live modified oral vaccine, sedangkan rabies pada rakun sedang diupayakan vaksin oral DNA recombinant yang diberikan dalam bentuk umpan.

Vaksinasi merupakan upaya pengendalian rabies yang bisa diterima semua pihak. Jenis vaksin yang dipilih harus mampu menimbulkan kekebalan selama minimal satu tahun. Harga vaksin rabies hewan relatif murah, tetapi biaya operasional cukup mahal karena harus disuntikkan dari rumah ke rumah agar cakupannya tinggi.  Untuk anjing rumahan, pemberian vaksin mudah karena bisa dipegangi pemilik. Kendala utama adalah memberikan vaksin pada anjing liar. Beberapa ekor dapat ditangkap dengan jaring, tetapi lebih banyak lagi yang tidak bisa ditangkap.

 

Memutus Siklus

Beberapa ahli epidemiologi mengatakan, apabila cakupan vaksinasi minimal 70 persen, siklus rabies akan terputus. Teori ini tidak sepenuhnya benar. Dalam suatu survei vaksinasi rabies di Bali, cakupan vaksinasi secara umum lebih dari 70 persen. Namun, kalau dilihat lebih lanjut, ternyata cakupan pada anjing rumahan lebih dari 80 persen, sedangkan pada anjing liar hanya 40 persen. Akibatnya, siklus rabies anjing akan terus berlanjut. Cakupan vaksinasi pada anjing liar bisa tinggi andaikan ada vaksin oral. Sebenarnya sudah ada vaksin rabies oral, tetapi sejauh ini bagus untuk rubah, belum bagus untuk anjing liar.

Eliminasi (culling) anjing liar pernah dilakukan di Inggris sebelum tahun 1990. Cara ini terpaksa dilakukan karena tidak ada vaksin rabies yang memberi perlindungan lama. Dengan peraturan karantina yang ketat, Inggris dapat bebas rabies sampai sekarang. Kini tindakan eliminasi ditentang pembela hak hewan.

Eliminasi anjing liar pernah dilakukan di Flores, tetapi tidak didukung warga sehingga siklus rabies tidak putus. Di Kabupaten Klungkung, anjing liar juga pernah dieliminasi dan mendapat protes pencinta anjing.  Saat ini baru di Pulau Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, yang sudah bebas rabies. Namun, di daratan Klungkung rabies muncul lagi akibat rembesan dari kabupaten lain.

Sterilisasi anjing jantan dan betina merupakan cara terbaik untuk mengendalian populasi anjing. Tindakan ini masih dilakukan beberapa yayasan di Bali, tetapi perkembangbiakan anjing lebih cepat dari jumlah yang disterilisasi.  Di sisi lain, penyuluhan dan perda agar orang memelihara anjing secara bertanggung jawab kurang mendapat respon masyarakat. Akibatnya, kerja keras pemerintah untuk bebas rabies belum berhasil.

Maka, harapan besar ditujukan pada vaksin oral yang murah dan efektif untuk anjing. Jika tersedia vaksin ini, anjing liar tidak perlu ditangkap. Cukup di lempar vaksin yang rasanya enak untuk memberikan kekebalan.

 

Sumber: Harian Umum Kompas