Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Saturday, 20 October 2018
Babi HogCholera
Ilustrasi

Cara NTT Tangkal Wabah Hog Cholera Pembunuh Babi

Rabu, 15 Agustus 2018

Pemerintah Australia mengapresiasi kinerja pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam program kerjasama pembangunan dan penanganan wabah hog cholera. Wabah ini terjadi di pertengahan tahun 2017 dan berakibat pada kematian 10.000 ekor ternak babi di pulau Flores. Kerugian akibat penyakit ini mencapai 2,5 miliar rupiah yang diderita oleh ribuan peternak kecil di NTT.

Wakil duta besar Australia untuk Indonesia, Allaster Cox menemui penjabat gubernur NTT Robert Simbolon. Allaster mengaku bahwa kolaborasi antar pemangku kepentingan yang dipimpin oleh pemerintah provinsi dalam usaha membasmi hog cholera sudah sangat bagus. “Saya kagum dengan cepatnya reaksi dari pemerintah provinsi. Sekarang waktunya pemulihan dan pengembangan industri ternak babi,” kata Allaster Cox (14/8).

Kepala Dinas Peternakan (Disnak) NTT, Ir. Danny Suhadi, mengatakan, untuk mengatasi persoalan penyakit hog cholera di NTT, ada beberapa langkah pencegahan yang telah dilakukan. Upaya yang telah dilaksanakan diantaranya pengambilan sampel untuk mengetahui penyebab kematian massal babi, pengadaan vaksin, penerbitan kebijakan serta rangkaian kegiatan dalam rangka penyusunan strategi pencegahan, pengendalian dan pemberantasan hog cholera di NTT.

Danny mengatakan, upaya pemerintah menanggapi permasalahan ini adalah melakukan pengembangan Provincial Road Map, yang diluncurkan April 2018. Bersama Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI bersama Disnak NTT, Disnak kabupaten se-NTT bekerjasama dengan Promoting Rural Income through Support for Markets in Agriculture (PRISMA), perusahaan swasta, perguruan tinggi dan pemangku kepentingan lainnya, meluncurkan sembilan 9 langkah pencegahan hog cholera di NTT.

Road Map ini adalah rangkaian kolaboratif, dipimpin pemerintah untuk melaksanakan pengujian hog cholera oleh ahli kesehatan ternak. Juga pengembangan alur distribusi vaksin dari perusahaan farmasi, hingga penerbitan surat tentang kewaspadaan penyakit hewan menular strategis.

Dijelaskannya 9 langkah itu antara lain:

  1. Surveilans, pengumpulan dan pengolahan data.
  2. Vaksinasi massal.
  3. Peningkatan tindakan biosekuriti di peternakan babi.
  4. Pengawasan dan pengendalian lalulintas ternak babi hidup dan produknya.
  5. Peningkatan kualitas ternak babi bibit (perbaikan genetik) dan manajemen perbibitan.
  6. Peningkatan manajemen gizi (pakan) serta kesehatan dan penyakit pada ternak babi (obat dan vitamin).
  7. Penguatan kelembagaan dan SDM.
  8. Pengembangan pangkalan data peternakan babi di NTT.
  9. Monitoring, evaluasi dan menghimpun pembelajaran pelaksanaan road map.

Menurut Danny, sembilan langkah strategis pencegahan, pengendalian dan pemberantasan hog cholera ini diharapkan dapat kembali mendorong bertumbuhnya industri peternakan babi di NTT ke depannya sehingga NTT akan mampu menjadi salah satu provinsi “lumbung babi” bagi Indonesia.

Penjabat gubernur NTT, Robert Simbolon mengaku, sejak 2015 PRISMA telah bekerja dengan pemerintah daerah dan perusahaan bidang peternakan, untuk mendorong produktivitas dan peningkatan pendapatan peternak babi.

Hingga kini, PRISMA telah membantu lebih dari 67,999 peternak kecil di 17 kabupaten di NTT, dengan total jumlah peningkatan pendapatan sebesar 747 miliar rupiah.

“Kami berterima kasih terutama PRISMA dan pemerintah Australia atas dukungan yang telah diberikan,” kata Robert. Kerjasama itu pula mengantarkan NTT sebagai salah satu provinsi penghasil ternak babi terbesar di Indonesia.

 

Sumber: Liputan 6 dan Pos Kupang News