Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Sunday, 22 July 2018
image

Kementan Gerak Cepat Tangani Penyakit Jembrana di Lampung

Kamis, 12 April 2018

Direktur Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Fadjar Sumping Tjatur Rasa menjelaskan, tim yang terdiri dari staf Direktorat Kesehatan Hewan dan Balai Veteriner Lampung Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dikirim ke lokasi pada 6-8 April 2018 di Kabupaten Mesuji dan Tulang Bawang.

Menurutnya, tim telah melakukan investigasi dan menyampaikan langsung bantuan obat-obatan, desinfektan, serta sarana desinfeksi untuk membantu penanggulangan dan pemberantasan penyakit.

“Berdasarkan hasil investigasi, penyakit Jembrana yang terjadi di Kabupaten Mesuji dan Tulang Bawang ternyata disebabkan oleh adanya Sapi Bali sakit yang dibawa dari Kabupaten Ogan Komering Ilir, oleh pedagang,” ungkap Fadjar, Kamis (12/4).

Bantuan untuk penanganan kasus di tempat kejadian berupa vaksin, desinfektan, antibiotik, vitamin/roboransia, anti parasit dan alat suntik langsung diberikan Kementan.

Fadjar memaparkan, dalam upaya penanganan penyakit Jembrana, tim Kementan telah melakukan tindakan antara lain pengobatan anti parasit, pemberian antibiotika dan vitamin, penyemprotan desinfektan di lokasi kandang, penguburan hewan yang mati dan pembakaran sisa-sisa kotoran serta sosialisasi tentang penyakit.

“Dari upaya yang telah dilakukan tersebut,  kasus penyakit dapat dilokalisir dan tidak menyebar ke desa lainnya. Saat ini sudah terjadi penurunan kematian ternak Sapi Bali dan kasus sudah terkendali,” ujar Fadjar.

Lebih lanjut, dia menyampaikan, penyakit Jembrana disebabkan oleh virus (Genus Retrovirus) dan bersifat menular, serta menyerang sistim kekebalan tubuh Sapi Bali dari semua kelompok umur baik jantan maupun betina. Penyakit hanya ada di Indonesia dan hanya menyerang Sapi Bali yang menyebabkan kematian.

Pemerintah telah menetapkan penyakit Jembrana sebagai salah satu prioritas dalam pengendalian dan penanggulangan Penyakit Hewan Strategis.

“Adanya perubahan iklim dan cuaca yang ekstrim menjadi penyebab daya tahan tubuh ternak menurun, sehingga mudah terserang penyakit tersebut,” kata fadjar.

Untuk itu, pemantuan lapangan masih terus dilaksanakan dan dilakukan koordinasi antara Ditjen PKH Kementan dengan dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan di daerah.

Fadjar menambahkan, untuk pencegahan dan pengendalian penyakit Jembrana, beberapa hal yang harus dilakukan oleh dinas di daerah diantaranya meningkatkan pengendalian dan pengawasan lalu lintas/perdagangan Sapi Bali dengan dilengkapi SKKH (Surat Keterangan Kesehatan Hewan), dan tidak memasukkan Sapi Bali yang sakit ke daerah yang tidak terdapat kasus.

“Selain itu, kita imbau juga agar Sapi Bali dari daerah bebas wajib divaksin sebelum dibawa ke daerah tertular,” imbuhnya.

 

Sumber: Kantor Berita Politik RMOL