Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Friday, 19 October 2018
rabies
Ilustrasi

Di Manggarai, NTT, Dua Orang Meninggal Karena Rabies

Kamis, 8 Februari 2018

Ruteng, NTT – Rabies masih menjadi acaman serius di Kabupaten Manggarai, NTT. Tingginya populasi hewan penular rabies (HPR) terutama anjing menjadi penyebab sulitnya virus ini diberantas.

Kepala Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Manggarai, Dan Konstantianus (8/2) menginformasikan bahwa setiap tahunnya korban gigitan anjing di Kabupaten Manggarai terus meningkat.

Untuk tahun 2017 lalu, korban gigitan anjing di Manggarai sebanyak 964 orang atau bertambah 112 kasus dari angka tahun 2016 yakni  852 kasus gigitan.

“Memang kasus gigitan ini bukan semuanya oleh anjing yang positif rabies. Tapi karena daerah kita ini endemik rabies, maka perlu diwaspadai, untuk korban gigitan dari anjing positif rabies telah diberikan suntikan vaksin anti rabies,” jelas Dan.

Sementara jumlah korban meninggal akibat gigitan anjing yang positif rabies di tahun 2017 sebanyak dua orang, angka korban ini berkurang jika dibandingkan tahun 2016 yakni sebanyak tiga orang meninggal.

“Yang dua orang meninggal ini satu di Kecamatan Lelak dan satunya lagi di Kecamatan Cibal. Keduanya meninggal karena tidak mendapat suntikan VAR. Memang keduanya sempat ke Pustu masing-masing, tapi karena di Pustu tidak ada VAR, petugas menyarankan untuk berobat ke Puskesmas, tapi dua korban ini menolak dan memilih untuk menggunakan obat kampung,” jelas Dan.

Dan mengaku, HPR yang menggigit dua korban ini memang tidak bisa dipastikan positif rabies, karena HPR liar. Namun dari gejala-gejala fisik yang terdapat pada korban seperti takut cahaya, takut air, tidak bisa menelan makanan dan minuman, kejang-kejang dan meronta, maka bisa dipastikan kedua korban meninggal akibat gigitan anjing rabies.

“Korban rabies sebetulnya bisa sembuh total jika para korban kontinu mendapat suntikan VAR. Contohnya saja, kasus gigitan anjing rabies di Wae Palo dan Konggang beberapa waktu lalu, para korban kini sudah sembuh total karena kontinu mendapat suntikan VAR, padahal kasus gigitan tersebut tergolong berisiko tinggi,” tambah Dan.

Untuk meminimalisir meningkatnya kasus rabies, Disnak Manggarai berencana akan terus meningkatkan rapat koordinasi dengan para lurah dan kepala desa di Kabupaten Manggarai.

“Setiap tahun di dinas ini ada anggaran untuk rabies. Karena itu, kami akan meningkatkan rapat koordinasi dengan instansi terkait maupun dengan Lurah maupun dengan kepala desa,” janji Dan. (Adi Nembok)

 

Sumber: Florest Post