Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Friday, 19 October 2018
vaksinasi

380 Ayam di Bojonegoro Terserang Flu Burung

Kamis, 1 Februari 2018

Bojonegoro – Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro mendata sebanyak 380 ayam terkena penyakit flu burung. Dari jumlah itu, 300 ayam tersebar di dua kecamatan yakni Kanor dan Kedungadem. Jumlah tersebut masih bisa bertambah mengingat belum semua kecamatan yang didata. Virus mematikan bagi hewan unggas tersebut mulai menyerang sejak Desember 2017 lalu hingga kini.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan, Kabupaten Bojonegoro, Sugiharti S. Rahaju, mengungkapkan, penyebaran vius flu burung tersebut awalnya menyerang peternak unggas di Desa Simbatan, Kecamatan Kanor. “Karena sudah telat saat melapor sehingga virusnya menyebar,” ujarnya, Selasa (30/1).

Di Kecamatan Kanor, virus flu burung menyebar di empat peternak. Di antaranya ternak milik Mahfud, dari 400 ekor ayam petelur sebanyak 105 ekor mati. Kemudian ternak milik Fajar Mahmudi, dari jumlah 600 ekor ayam petelur sebanyak 60 ekor mati. Lalu milik peternak Sulkan Imron, dari jumlah ternak 500 ekor sebanyak 40 ekor mati. Dan milik Sunarto 1.800 ekor sebanyak 5 ekor mati.

Sedangkan di Kecamatan Kedungadem, virus flu burung menyerang unggas milik peternak Mul Sutiono. Dari 200 ekor ayam petelur miliknya sebanyak 170 ekor mati. Virus flu burung itu diketahui setelah dilakukan uji rapid test oleh tim kesehatan hewan yang menunjukan hasil positif.

“Sebagian besar ayam yang mati ini karena tidak diberi vaksin AI. Selain itu juga karena faktor cuaca. Pada waktu pancaroba dan cuaca ekstrem unggas akan lebih mudah terserang penyakit,” jelas Sugiharti.

Sugiharti menambahkan agar virus mematikan dan bisa menular kepada manusia itu tidak menyebar, maka setiap unggas yang mati harus dikubur. Selanjuntnya dilakukan desinfeksi di area unggas positif, pelarangan lalu lintas unggas dan pedagang keliling yang masuk, melakukan karantina terhadap sisa ayam petelur yang masih hidup dengan dikandangkan dan peningkatan biosecurity.

“Wilayah kasus tersebut masuk dalam pengawasan Dinas Peternakan dan Perikanan selama kurang lebih tiga bulan,” pungkas Sugiharti.  (Muliyanto/Ius/Ted)
Sumber: Kumpuran dan Berita Jatim