Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Thursday, 21 June 2018
WHO (2016)
Sumber: Med Sym TV (2016)

Schistosomiasis, Penyakit yang Hanya Ada di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan

Kamis, 18 Januari 2018

Schistosomiasis adalah penyakit hewan menular yang menyerang manusia. Penyakit yang dikenal dengan demam keong ini merupakan salah satu penyakit tropis yang terabaikan. Menurut data World Health Organization (WHO), sebanyak 206,5 juta orang memerlukan pencegahan pada 2016. Kini Indonesia menjadi satu-satunya negara ASEAN yang terdeteksi penyakit ini, tepatnya di Sulawesi Tengah.

Dari data Kementerian Kesehatan, penyakit ini ditemukan di daratan tinggi Lindu, Napu dan Bada yang disebabkan oleh cacing Schistosoma japonicum. Cacing ini kemudian menginfeksi keong perantara Oncomelania hupensis lindoensis yang berkembang menjadi serkaria dalam tubuh keong. Serkaria ini yang kemudian keluar dari tubuh keong dan berenang aktif di dalam air hingga menembus kulit manusia dan hewan ternak.

Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan, drg. Vensya Sitohang infeksi serkaria ini terjadi di sawah atau di tepi saluran irigasi yang tidak terawat. “Akibat yang ditumbulkan gatal-gatal, demam, diare dan hingga akhirnya ada pembengkakan hati yang dapat menjadi penyebab kematian,” katanya (17/1).

Vensya menuturkan bahwa dalam 30 tahun terdapat lima orang yang meninggal akibat penyakit ini. Pengobatan yang dilakukan dengan obat cacing Praziquantel yang diminumkan selama dua kali dengan jarak empat sampai enam jam. Tentunya dibawah pengawasan tenaga medis dan paramedis kesehatan. Namun selama ini penderita yang sudah sembuh akan kembali terinfeksi sehingga dibutuhkan penanganan lebih lanjut untuk pemutusan rantai penularan schistosomiasis.

Untuk itu, upaya eradikasi atau pemusnahan total dicanangkan oleh kementerian dan lembaga terkait serta pemerintahan daerah. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek menuturkan bahwa eradikasi akan berjalan dari periode 2018 hingga 2015. “Perantara keong tidak besar, hanya sebesar empat milimeter,” kata Menteri Nila pada saat Peluncuran Roadmap Eradikasi Schistosomiasis 2018-2025 di Kementerian PPP/Bappenas, Rabu (17/1).

Di Sulawesi Selatan penyakit ini ditemukan di 28 desa di 6 kecamatan di dua Kabupaten, yakni Sigi dan Poso. “Cacing Schistosoma menginfeksi manusia, keong dan mamalia. Pada manusia angka kejadian Schisosomiasis berada di angka 0,65 sampai 0,97 persen. Untuk keong perantara sebesar 1,22 sampai 10,53 persen dan pada hewan ternak 5,56 sampai 40 persen,” lanjut Menkes.

“Obat untuk hewan ternak ada yaitu Praziquantel dan belum tersedia di Indonesia dan saya kira untuk disediakan melalui Kementerian Pertanian,” papar Menkes.

 

Roadmap Eradikasi Schistosomiasis

Schistosomiasis atau yang dikenal sebagai penyakit Demam Keong merupakan salah satu penyakit tropis terabaikan. Penyakit ini berasal dari cacing Schistosoma japonicum yang pertama kali teridentifikasi di Jepang pada 1903. Data World Health Organization menunjukkan bahwa Indonesia menjadi satu-satunya negara ASEAN yang masih memiliki penyakit ini. Penyakit ini muncul di Sulawesi Tengah tepatnya di Lindu pada 1937, Napu pada 1974 dan Bada pada 2008.

Menurut Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola mengatakan bahwa sejak 1982 ada upaya pengendalian schistosomiasis di daerah. “Perkembangan schistosomiasis di Sulawesi Tengah terdapat penurunan pravelensi, dimana pada manusia hanya bertahan di bawah satu persen, namun untuk hewan dan lingkungan masih besar,” papar Gubernur pada acara Peluncuran Roadmap Eradikasi Schistosomiasis 2018-2025 di kantor Kementerian PPN, Jakarta, Rabu (17/1).

Untuk itu, eradikasi schistosomiasis 2018-2025 dilaksanakan untuk pengentasan schistosomiasis di Indonesia. Tidak hanya bersama Kementerian Kesehatan, namun juga dengan Kementerian dan lembaga terkait. “Berbagai persiapan telah dilakukan seperti kunjungan lapangan desa endemik, perencanaan oleh Tim Terpadu Provinsi, studi banding ke China, workshop konsultasi rancangan roadmap, konsultasi matrik program dengan Kemeterian/lembaga terkait dan koordinasi lintas sektor,” papar Gubernur.

Menkes menuturkan bahwa habitat keong hidup di tempat-tempat yang sering dijamah manusia. Untuk itu, pemutusan rantai penularan difokuskan pada pemukiman masyarakat. “Fokus keong perantara ini berada di daerah lahan-lahan pertanian penduduk yang tidak terawat atau lahan yang tidak dilengkapi dengan prasarana untuk mencegah pengembangbiakan sekaria sehingga penyebab schictosomiasis ini saluran drainase dan jaringan irigasi,” lanjut Menkes.

Penyakit ini sudah 35 tahun dilakukan upaya pemutusan. Salah satu wujud untuk pemutusan rantai penularan hingga angka penyakit ini 0 baik pada manusia, mamalia, maupun keong perantara. “Sistem cara kerja 35 tahun terakhir diubah menjadi dua tahun kedepan dan lima tahun berikutnya sampai 2025,” lanjutnya.

Menkes menuturkan strategi utama untuk mencapai eradikasi Schistosomiasis antara lain pengobatan pada manusia dan hewan. Manajemen pola pengembalaan ternak, pemberantasan keong secara kimiawi, rekayasa lingkungan baik melalui pencetakan sawah, pengembangan agroforestri, penyediaan air bersih dan sanitasi serta kampanye perubahan perilaku masyarakat. (Hartifiany Praisra | Winda Destiana Putri)

 

Sumber: Republika