www.civas.net
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Tuesday, 17 September 2019
Litbang Kompas Kemenkes
Sumber: Kemenkes dalam Litbang Kompas (2018)

Upaya Eradikasi ”Schistosomiasis” Diperkuat

Rabu, 17 Januari 2018

Jakarta — Upaya penuntasan penyakit schistosomiasis atau demam keong diperkuat. Komitmen semua pemangku kepentingan, baik di tingkat pusat maupun tingkat daerah, diperlukan untuk mendukung upaya tersebut.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang PS Brodjonegoro menyatakan, komitmen semua pemangku kepentingan dalam upaya penuntasan schistosomiasis harus diperkuat.

“Untuk itu, diperlukan roadmap eradikasi (penuntasan secara menyeluruh) schistosomiasis agar upaya tersebut bisa optimal,” ujar Bambang (17/1).

Schistosomiasis atau demam keong disebabkan cacing Schistosoma japonicum yang menginfeksi manusia, keong, dan hewan mamalia. Di Indonesia, penyakit ini hanya ditemukan di 28 desa yang berada di enam kecamatan di Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Gejala penyakit ini antara lain gatal, demam, diare, perut membuncit, dan badan gemetar. Penyakit ini bisa menyebabkan kerusakan pada hati.

Di Indonesia, penyakit ini hanya ditemukan di 28 desa yang berada di enam kecamatan di Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Bambang menyebutkan, melalui Roadmap Eradikasi Schistosomiasis 2018-2025, pihaknya berharap agar penyakit ini bisa segera dituntaskan.

“Upaya ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk melaksanakan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Salah satunya, untuk mengakhiri penyakit tropis terabaikan,” ucapnya.

Beberapa strategi, lanjut Bambang, antara lain memberikan pengobatan pada pasien, pengobatan pada hewan ternak, rekayasa lingkungan, penyediaan air bersih dan sanitasi yang layak, serta kampanye perubahan perilaku.

Ia menambahkan, secara umum, roadmap ini berisikan strategi eradikasi, tahapan pelaksanaan eradikasi, penetapan sasaran dan target capaian, pemetaan program dan kegiatan lintas sektor, serta mekanisme pemantauan evaluasi untuk mengukur capaian.

“Diharapkan melalui roadmap ini dapat memandu arah program dan anggaran dari semua pemangku kepentingan terkait di tingkat pusat dan daerah. Dana sudah disiapkan, baik dari APBN, APBD, dana transfer daerah melalui dana alokasi khusus, maupun dana desa,” tutur Bambang.

Fokus penuntasan tidak cukup pada manusia saja, tetapi juga hewan ternak dan keong perantara penyebab penularan.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan Nila Djuwita Anfasa Moeloek mengatakan, fokus pengendalian dan pencegahan diharapkan dilakukan secara lebih luas. Menurut dia, fokus penuntasan tidak cukup sekadar pada manusia saja, tetapi juga hewan ternak dan keong perantara penyebab penularan.

“Penyakit ini sudah endemis di Indonesia lebih dari 35 tahun lalu. Sayangnya, sejak dulu fokus penuntasan hanya pada manusia, bukan pada sumber perantaranya, seperti hewan ternak dan keong. Untuk itu, saat ini semua sektor harus bekerja sama agar penuntasan dilakukan secara keseluruhan,” katanya.

Dalam laporan berjudul “Kelainan Hati dan Limpa pada Schistosomiasis” yang dituliskan Pinardi Hadidjaja dari Bagian Parasitologi dan Ilmu Penyakit Umum Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, di Indonesia, penyakit ini ditemukan sejak tahun 1937 di daerah Danau Lindu, Sulawesi Tengah. Tahun 1972, penyakit ini ditemukan di daerah endemik baru, yaitu Lembah Napu (termasuk Besoa), sekitar 50 kilometer sebelah tenggara Danau Lindu.

 

Infeksi Masih Tinggi

Nila menyebutkan, meski angka kejadian schistosomiasis pada manusia saat ini berada pada kisaran 0,65 persen hingga 0,97 persen, angka infeksi pada keong perantara dan hewan ternak masih tinggi.

Untuk itu, lanjut Nila, masalah schistosomiasis tidak bisa hanya dikerjakan oleh sektor kesehatan, tetapi juga butuh kontribusi sektor lain, seperti pertanian, lingkungan hidup, kehutanan, kelautan dan perikanan, serta pekerjaan umum.

Berdasarkan data yang disampaikan Nila, Kementerian Kesehatan mencatat angka kejadian penyakit schistosomiasis tahun 2017 pada manusia di Lembah Bada sebesar 0,97 persen, di Lembah Napu sebesar 0,65 persen, dan di Lembah Lindu 0,85 persen.

Nila mengatakan, tingginya angka infeksi pada keong perantara dan hewan ternak terjadi karena masih adanya lahan pertanian penduduk yang tidak dirawat dan tidak dilengkapi dengan prasarana yang baik.

Adapun pada keong di Lembah Bada 1,22 persen, Lembah Napu 10,53 persen, dan Lembah Lindu 3,85 persen. Sementara infeksi pada hewan ternak menunjukkan angka lebih tinggi, yaitu 5,56 persen di Lembah Bada, 36,44 persen di Lembah Napu, dan 40 persen di Lembang Lindu.

“Saluran drainase, jaringan irigasi, dan sanitasi yang buruk dapat membuat Schistosoma berkembang biak,” lanjutnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Poso Taufan Karwur menambahkan, sebelumnya, untuk mendukung upaya eradikasi, pihaknya berkunjung ke negara yang berhasil melakukan eradikasi.

“Kami belajar ke negara-negara yang sudah berhasil eradikasi penyakit ini, seperti Jepang, China. Jadi, kita belajar ke China,” ujar Taufan.

Ia menambahkan, selama ini penyakit schistosomiasis masih ditemukan di Indonesia karena fokus penuntasannya dinilai kurang tepat, yaitu hanya dengan pengobatan pada manusia.

“Kalau manusia diobati akan sembuh, tetapi penyakit ini melalui perantara keong. Jadi, harus dituntaskan di semua sumber penyakit,” katanya.

 

Penularan

Taufan menyampaikan, penularan penyakit ini melalui telur cacing Schistosoma japonicum yang dikeluarkan bersama tinja yang sudah terinfeksi, baik pada manusia maupun hewan ternak. Kemudian, saat berada di dalam air, telur cacing tersebut akan menetas menjadi mirasidium yang akan menembus tubuh keong Oncomelania hupensis lindoensis.

Dalam tubuh keong, mirasidium akan berkembang menjadi serkaria dan keluar dari tubuhnya. Serkaria dapat menembus kulit manusia atau hewan mamalia yang melewati daerah perairan yang mengandung serkaria.

“Setelah menembus tubuh manusia, serkaria akan berkembang menjadi cacing dewasa di pembuluh darah hati sehingga menyebabkan kerusakan,” ujarnya.

Taufan mengatakan, deteksi penyakit ini bisa dilakukan dengan melakukan uji tinja di laboratorium schistosomiasis. Apabila ditemukan cacing Schistosoma japonicum, pasien akan diberikan obat praziquantel dengan jumlah sesuai berat badan.

“Deteksi dini sangat penting diperhatikan agar penanganannya bisa lebih cepat sehingga kondisi pasien tidak semakin buruk,” ucap Taufan. (Deonisia Arlinta)

 

Sumber: Kompas.id

 

 

Tinggalkan Balasan

Upaya Eradikasi ”Schistosomiasis” Diperkuat

by Civas time to read: 3 min
0