www.civas.net
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Saturday, 19 January 2019
ilustrasi-antraks-trh-370x277

Enam sapi di Maros mati mendadak, tiga diantaranya terjangkit Antraks

Selasa, 29 Agustus 2017

Maros – Enam ekor sapi di Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, mati mendadak. Tiga ekor diantaranya dinyatakan terjangkit antraks yang diketahui berdasarkan hasil uji laboratorium Balai Besar Veteriner Kabupaten Maros.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) Provinsi Sulawesi Selatan, Abdul Azis membenarkan kejadian ini. Dia menuturkan, sejak 1 Agustus sudah enam ekor sapi mati mendadak. Kejadian ini dilaporkan dinas peternakan daerah setempat ke Disnak keswan Sulsel yang selanjutnya dikoordinasikan dengan Balai Besar Veteriner Maros.

“Hasil uji laboratorium Balai Besar Veteriner menyebutkan, dari enam sapi itu tiga diantaranya positif antraks. Selebihnya negatif namun sapi-sapi tersebut semuanya sudah dibakar dan dikubur termasuk yang negatif antraks untuk mengantisipasi kemungkinan adanya antraks juga di sapi-sapi itu,” ungkap Abdul Azis saat ditemui di kantornya (29/8).

Pihaknya langsung melakukan isolasi berupa pemusnahan dengan cara membakar dan menguburkan sapi yang mati. Pihaknya juga menginstruksikan dinas peternakan setempat untuk membatasi pergerakan lalu lintas ternak-ternak lainnya yang berasal dari daerah sumber penyakit antraks tersebut.

“Isolasinya bisa sampai 1 hingga 2 bulan ke depan karena antraks itu adalah sesuatu yang tidak terlihat jadi tidak boleh diyakini bakterinya benar-benar sudah hilang. Sebenarnya spora antraks itu diprediksi 2 hingga 4 tahun ke depan masih bisa berkembang,” ujarnya.

Diakui, kejadian sapi terjangkit antraks ini bukan pertama kalinya terjadi di Sulsel. Sudah ada beberapa kasus seperti ini ditemukan di daerah. Setahun lalu kasus serupa juga terjadi di Kabupaten Pinrang hanya saja memang sapi-sapi yang ditemukan terjangkit antraks itu tidak begitu banyak karena langsung dilakukan langkah antisipatif seperti melakukan vaksinasi. Seandainya tidak segera divaksin, penularannya akan lebih besar.

Dia memberlakukan pengawasan ketat terhadap hewan kurban. Pengawasan sebelum dilakukan pemotongan. Pengawasan yang sama juga dilakukan pasca pemotongan. Di Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan ini sudah dibentuk tim yang bertugas mendatangi hewan-hewan kurban yang akan dipotong.

Dia menambahkan, ketersediaan hewan kurban di Sulsel diyakini aman. Ada 56.000 ekor hewan kurban termasuk yang akan keluar ke daerah Kalimantan. Jumlah ini di atas kebutuhan Sulsel sebanyak 40.000 ekor. (Salviah Ika Padmasari)

 

Sumber: Merdeka

Tinggalkan Balasan