Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Wednesday, 23 August 2017
AMR Peternak

Waspada! 60% Ayam Broiler Mengandung Residu Antibiotik

Senin, 29 Mei 2017

Medan – Penggunaan antibiotik untuk meningkatkan daya tahan ayam broiler kini semakin marak dilakukan di peternak ayam di Sumatera Utara (Sumut). Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan Hari Paraton mengungkapkan, dari peternakan ayam broiler di empat wilayah di Sumatera termasuk, 60% ayam broiler mengandung residu antibiotik.

“Daging ayam ini tidak boleh dikonsumsi dalam jangka waktu lama. Karena residu antibiotik akan membunuh semua bakteri dalam tubuh. Tak hanya bakteri jahat, tapi juga bakteri baik dan berisiko munculnya berbagai penyakit,” ujarnya dalam acara Pfizer Press Circle (PPC) ‘Kendalikan Penggunaan Antibiotik untuk Mencegah Munculnya Bakteri Resistensi’ beberapa waktu lalu.

Hari menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian terungkap kelompok antibiotik penisilin merupakan residu paling banyak ditemukan di daging ayam. Namun, sebenarnya kelompok antibiotik penisilin itu bukan digunakan untuk ternak ayam, melainkan pengobatan manusia.

Karena itu, jika daging ayam broiler dikonsumsi dalam jangka waktu panjang sangat membahayakan kesehatan manusia dan paling parah bisa menyebabkan kematian. “Sekarang penderita penyakit banyak yang meninggal bukan karena penyakitnya, tapi bakteri yang sudah resisten karena penggunaan antibiotik tidak benar,” kata dia.

Dipaparkannya, bagi mereka yang banyak mengonsumsi daging dan hati ayam yang mengandung antibiotik tubuhnya akan mengalami resisten terhadap reaksi antibiotik. Karena itu, obat antibiotik dikonsumsi orang yang banyak makan hati ayam mengandung antibiotik tidak akan menimbulkan efek apa pun. Hari juga mengungkapkan, penggunaan antibiotik saat ini perlu dibatasi.

Karena tidak semua penyakit infeksi perlu diberikan antibiotik, terutama yang disebabkan virus. Sayangnya, sekira 40% pelayanan kesehatan terkadang tidak tepat dalam pemberian antibiotik. “Ada ditemukan 30% hingga 80% penggunaan antibiotik di berbagai rumah sakit di Indonesia tidak didasarkan pada indikasi penggunaan,” katanya.

Communications Manager PT Pfizer Indonesia Ninesiana Saragih menyebutkan, pihaknya ikut peduli dan mendukung kampanye pengendalian penggunaan antibiotik untuk mencegah munculnya resistensi antimikroba tersebut. Hal itu demi masyarakat Indonesia yang lebih sehat. “Dengan kegiatan ini diharapkan masyarakat menjadi lebih teredukasi tentang penggunaan antibiotik untuk mencegah munculnya resistensi tersebut serta tidak membeli obat antibiotik tanpa resep dan anjuran dokter,” katanya.

Seorang peternak ayam broiler asal Langkat, Ewin, 33, membenarkan pemberian antibiotik selalu dilakukannya untuk meningkatkan daya tahan ayam. Kata dia, dengan antibiotik, bobot ayam yang dikembangkannya juga lebih cepat naik karena lebih sehat. (rzk)

 

Sumber: Oke Zone.com