www.civas.net
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Sunday, 18 August 2019
???????????????????????????????
Sumber: Katarina (2016)

Masalah Rabies di Toraja Utara: Populasi Tinggi, Vaksin Minim

Minggu, 28 Mei 2017

Rantepao – Pekan kedua Mei lalu, masyarakat Toraja Utara diributkan dengan terbitnya Surat Edaran (SE) Utara bernomor 524.3/03118/Dinkes tertanggal 29 Maret 2017, tentang pencegahan dan pemberantasan penyakit rabies.

Dinas Kesehatan, sebagai institusi yang mengeluarkan Surat Edaran tersebut, bersikukuh bahwa surat edaran tersebut memiliki dasar yang kuat berdasarkan data yang mereka miliki. Juga soal kekhawatiran akan tingginya kasus gigitan anjing dan kucing yang berpotensi rabies di Toraja Utara, beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, masyarakat melakukan protes, karena hewan penyebab rabies, seperti anjing dan kucing merupakan hewan yang secara sosia-kultural sangat dekat dengan masyarakat Toraja. Masyarakat juga melakukan protes terkait pembatasan jumlah hewan peliharaan anjing, satu rumah satu ekor, merupakan salah satu dari poin utama surat edaran tersebut.

Namun di balik nada protes ini, masyarakat perlu mengetahui berdasarkan data yang ada jumlah populasi anjing di Toraja Utara sangat tinggi. Sementara persediaan vaksin rabies, baik untuk hewan maupun manusia sangat terbatas. Tahun ini saja, jumlah vaksin rabies yang tersedia di Dinas Pertanian dan Peternakan Toraja yang sumber anggarannya dari APBD Toraja Utara, hanya 5000 dosis.

“Yang dari APBD hanya 5000 dosis, kami masih menunggu bantuan dari provinsi, biasanya ada setiap tahun,” sebut Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Toraja Utara, Paulus Tiku Tondok, Kamis pekan lalu.

Paulus, menjelaskan tahun 2016 yang lalu, pihaknya mendapat suntikan vaksin dari pemerintah provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 9000 dosis. “Kita berharap tahun ini bisa lebih banyak dari tahun lalu, karena jumlah populasi hewan juga meningkat,” harap Paulus.

Tahun lalu, kata Paulus, populasi hewan anjing di Toraja Utara tercatat sebanyak 50.676 ekor dan kucing 14.562 ekor. Dengan jumlah populasi sebanyak ini, vaksin rabies yang tersedia boleh dikata sangat tidak sebanding.

“Itu sebabnya kami berkonsentrasi di kecamatan-kecamatan dengan kasus gigitan yang cukup tinggi dulu. Saat ini, kami sedang melakukan vaksin rabies di dua kecamatan, yakni Sopai dan Kesu,” urai Paulus.

Soal ketersediaan vaksin rabies, fakta lebih mengejutkan datang dari Dinas Kesehatan. Saat ini, vaksin rabies untuk manusia; jika dia terkena gigitan anjing, tidak tersedia di dinas tersebut.

“Anggarannya ada, tapi barangnya yang tidak ada di pasaran. Kami sudah cek melalui e-katalog dan cara lainnya, tapi sampai saat ini kami belum dapat barang (vaksin rabies),” ungkap Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Toraja Utara, Dian Kristi, Senin pekan lalu.

Dian menyebut, tahun lalu (2016), vaksin rabies yang tersedia di Dinas Kesehatan Toraja Utara hanya 955 vial. Jumlah itu tidak cukup untuk menangani semua kasus gigitan anjing di seluruh wilayah Toraja Utara.

“Tahun ini anggaran yang tersedia 1000 vial, tapi barangnya (vaksin) tidak ada di pasaran,” kata Dian. “Yang ada vaksin saat ini di apotik dan dokter praktek,” lanjut Dian.

Dinas Kesehatan Toraja Utara merilis, kasus gigitan hewan penular rabies, seperti anjing, kucing, dan kera, terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2014 sebanyak 331 kasus, tahun 2015 meningkat menjadi 974 kasus, dan tahun 2016 meningkat lagi menjadi 1.059 kasus dengan jumlah kematian akibat rabies sebanyak 10 orang. (Arthur)

 

Sumber: Kareba Toraja

Tinggalkan Balasan

Masalah Rabies di Toraja Utara: Populasi Tinggi, Vaksin Minim

by Civas time to read: 2 min
0