Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Friday, 21 July 2017
dua-warga-berusaha-menjinakkan-ternak-sapinya-saat-akan-diberi-_antara Sahrul M. Tikupadang

Antraks Terdeteksi Positif di Tiga Kecamatan

Sabtu, 22 April 2017

Kabupaten Pacitan - Sebaran warga yang terinfeksi penyakit antraks di Kabupaten Pacitan sempat membuat khawatir Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat. Untuk memastikan, pihak Dinkes setempat mengirimkan sampel tanah untuk uji lab ke Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Indonesia (UI).

Pasalnya, warga yang terinfeksi penyakit antraks, belum ditemukan adanya hewan ternak yang terjangkit penyakit tersebut. Contohnya, seorang warga Kecamatan Tulakan, ternyata terjangkit antraks sewaktu bekerja di Sumatera.

“Hasil uji lab dinyatakan negatif. Sehingga masyarakat juga tidak perlu terlalu risau. Namun, tetap tidak boleh mengabaikan kewaspadaan,” himbau PLT Kepala Dinkes Kab. Pacitan, dr. Eko Budiono.

Menurut Eko, temuan warga positif terinfeksi antraks didapat dari observasi  21 warga yang memiliki riwayat kontak dengan hewan ternak dilakukan oleh tujuh puskesmas di wilayah Kabupaten Pacitan. Hasilnya, 3 warga dinyatakan positif sedangkan 19 warga lainnya dinyatakan suspect.

Dinas Pertanian (Distan) memastikan, wilayah yang hewan ternaknya telah positif terjangkit antraks hanya di tiga kecamatan, yakni Pringkuku, Donorojo, dan Punung. Total ada sembilan sapi yang sudah positif selama satu tahun terakhir. “Yang paling baru di Sobo, Pringkuku, ada temuan satu sapi meninggal diduga antraks. Namun, ternyata negatif,” terang Kepala Distan, Pamuji.

Menurut Pamuji, penularan antraks tidak hanya bisa dari hewan ternak ke manusia saja. Sebaliknya, manusia pun bisa menularkan antraks ke hewan ternak meski media atau cara penularannya tidak banyak. Antraks paling bisa menular melalui luka pendarahan terbuka pada tubuh. “Jika daya tahannya baik, masih ada kemungkinan bakterinya mati, dan gagal hidup di tubuh,” jelasnya.

Pamuji mengatakan, upaya yang paling penting untuk meminimalisir penularan antraks adalah dengan menelusuri riwayat pembelian hewan ternak. Hewan-hewan ternak yang berasal dari daerah positif antraks seperti Wonogiri, patut dicurigai membawa bakteri tersebut. Para peternak wajib lebih jeli dalam melakukan transaksi. Terlebih, migrasi hewan ternak cenderung begitu mudah.

Upaya pencegahan kedua, adalah dengan melakukan vaksinasi. Pamuji menyebut, vaksinasi hewan ternak dilakukan sampai tiga ring. Di wilayah yang masuk ring satu atau lokasi positif antraks, vaksinasi hewan ternak bahkan dilakukan sampai tiga kali.

Total, ada 24 ribu populasi sapi di Pacitan. Sebanyak delapan ribu diantaranya sudah divaksinasi. Pamuji menyebut, upaya vaksinasi akan terus dilakukan berkala, untuk semakin memperkecil peluang penularan antraks. “Kami juga meminta para peternak untuk segera melaporkan ke desa dan Dinas Pertanian, jika ada gejala kematian hewan ternak seperti antraks. Jika cepat diketahui, dapat segera diuji lab dan dipastikan apakah hewan tersebut benar positif antraks atau tidak,” ujar Pamuji.

Masyarakat dihimbau untuk perlu waspada. Selain harus menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal dan kandang ternak, mereka juga harus lebih proaktif menjaga diri. Hasil negatif sejumlah sample tanah itu tidak menjamin tanah di Pacitan terbebas dari antraks. “Wajib menjaga kebersihan lingkungan yang dekat dengan kandang ternak, dan jika perlu, memakai alat pelindung diri (APD),” ujar Eko. (naz/rif/jprm)

 

Sumber: Radar Madiun Jawa Pos