Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Friday, 20 October 2017
pacitan-1

Lepto Menyebar di Delapan Kecamatan

Minggu, 16 April 2017

Kota Pacitan – Kendati penyebarannya sudah mulai surut, leptospirosis di Pacitan tetap tidak boleh disepelekan. Baru-baru ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat merilis data yang cukup mencengangkan. Ternyata, hanya dalam waktu tiga bulan, penyakit tersebut sanggup menyebar di delapan kecamatan.

Padahal, leptospirosis biasanya hanya ditemukan di satu wilayah tertentu. Karena persebarannya yang luas dan dalam waktu singkat, ada kemungkinan vektor atau pembawa leptospirosis bukan hanya tikus.

“Fakta bahwa dalam tiga bulan sanggup menyebar di delapan kecamatan itu unik. Kemungkinan khusus di Pacitan, vektor pembawa penyakit tersebut bukan hanya tikus,” ujar Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Kabid P2PL) Dinkes Kota Pacitan, Wawan Kasianto.

Menurut Wawan, hewan ternak seperti kambing atau sapi punya potensi menjadi vektor leptospirosis. Hanya, sangat sedikit temuan hewan ternak yang positif membawa leptospirosis. Jika benar vektor utama leptospirosis di Pacitan adalah tikus, Wawan menyebut ada kemungkinan telah terjadi ledakan populasi tikus di Pacitan.

Sebab, 25 desa dari delapan kecamatan yang ditemukan leptospirosis itu cukup luas dan jaraknya juga jauh. Delapan kecamatan itu diantaranya Ngadirojo, Tulakan, Sudimoro, Kebonagung, Arjosari, Punung, Pringkuku, dan Donorojo. Jika ditarik garis dari Sudimoro ke Donorojo saja, jarak tempuhnya sudah mencapai lebih dari 60 kilometer. “Migrasi tikus tidak sampai sejauh itu,” terangnya.

Untuk memastikan hewan apa saja yang dimungkinkan telah menjadi vektor leptospirosis di Pacitan, Wawan menyebut perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Secara khusus, penelitan harus dilakukan dengan terjun ke lapangan. Menurut Wawan, terlepas dari hewan apa yang menjadi vektor leptospirosis, peran masyarakat dalam menjaga lingkungan lah yang menjadi benteng dari penyebaran penyakit tersebut. “Kesadaran masyarakat terhadap penyakit ini harus ditingkatkan,” ujarnya.

Meski sudah mulai menurun, Wawan juga meminta kewaspadaan masyarakat terhadap leptospirosis tidak ikut berkurang. Dari 38 penderita yang telah positif terjangkit, 11 diantaranya berakhir dengan meregang nyawa. Itu harus menjadi pelajaran, untuk menghadapi musim penghujan di akhir tahun mendatang.

Sebab, saat musim penghujan nanti, leptospirosis berpeluang kembali muncul. “Menjaga kebersihan lingkungan dari genangan, terutama saat musim penghujan itu mutlak. Sebab karena vektornya adalah urin hewan, maka lewat genangan lah media yang paling mudah untuk menularkan kepada manusia,” katanya. (naz/rif)

 

Sumber: Pacitanku dan Radar Madiun