Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Monday, 21 August 2017
small_15AA AAbujang burung imigran Jambi
Puluhan burung migran yang ditemukan mati dan lumpuh di Pantai Cemara Jambi (Bujang S, Haluan Jambi 2017)

Bakteri E. coli, Penyebab Kematian Burung Migran

Rabu, 29 Maret 2017

Muarasabak – Kematian burung-burung migran di pantai cemara Kecamatan Sadu beberapa waktu lalu, adalah negatif dan tidak ada infeksi flu burung. Peristiwa ini sendiri sempat menimbulkan kekhawatiran masyarakat Sungai Cemara.

Kepala Dinas Peternakan Tanjab Timur Rajito, mengatakan, untuk hasil laboratorium terkait kematian burung migran yang ada di pantai Cemara tidak mengandung virus berbahaya seperti yang dikhawatirkan masyarakat.

“Kita sudah menerima hasil laboratorium dari Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, tepatnya Balai Veteriner Bukittinggi bahwa hasilnya negatif virus flu burung,” ujarnya, Senin(27/3).

“Masyarakat tidak perlu khawatir, sebelumnya Dinas Peternakan belum bisa memastikan apakah kematian burung migran ini disebabkan flu burung atau tidak. Makanya perlu membawa sampel untuk diuji atau dicek di laboratorium,” jelasnya.

“Sebelumnya, informasi dari lab di Jambi bahwa penyebab kematian adalah dikarenakan saluran pencernaan. Namun, karena kekhawatiran masyarakat, sesuai nota dinas sampel dikirim lagi ke Balai Veteriner di Bukittinggi. Dan dari hasil labnya tidak ada virus flu burung,” katanya.

Untuk mengurangi kecemasan warga, kata Rajito, pihaknya sudah menginformasikan kepada kecamatan untuk memberi informasi kepada masyarakat sesuai hasil laboratorium bahwa tidak ada flu burung.

Sementara itu, Drh. Adam menyebutkan, berdasarkan hasil lab yang dikirim Balai Veteriner Bukittinggi bahwa ada bakteri yang mengakibatkan kematian burung migran. ”Kematian burung migran disebabkan dehidrasi yang didalamnya terdapat 4 bakteri, diantaranya bakteri E. coli,” jelasnya.

Menurutnya, bakteri E. coli, bisa menyebabkan penyakit manusia maupun burung. Secara umum, di tubuh hewan sudah ada bakteri itu, manakala burung itu kekebalannya turun, maka akan muncul di atas batas normal dan bisa menginfeksi dirinya. “Kalau sudah banyak, maka bisa menginfeksi saluran pencernaan dan mengakibatkan dehidrasi yang membuat daya tahan tubuh melemah pada burung,” katanya.

Sedangkan untuk penyebaran ke manusia terbatas, hanya bisa melalui kotoran dan bakteri ini tidak mematikan. Gejala yang akan muncul pada manusia seperti diare. Langkah utama adalah menjaga kebersihan, karena burung ini adalah satwa liar. (Nanang Suratno | Ed: Ikbal Ferdiyal)

 

Sumber: MetroJambi.com