Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Friday, 20 October 2017
Babi HogCholera

Status KLB Meningitis Berakhir, Hindari Penularan, Jangan Mengolah Daging Saat Tangan Luka

Senin, 20 Maret 2017

Denpasar  Status Kejadian Luar Biasa (KLB) bakteri Meningitis Streptococcus suis (MSS) akhirnya berakhir. Hal ini dikarenakan tidak lagi ada laporan kasus serupa dalam beberapa hari terakhir. Streptococcus suis merupakan bakteri yang menyerang babi dan bersifat zoonosis.

“Astungkara, Hari Raya Nyepi dan Galungan sudah dekat, tidak adanya laporan kasus. Maka, KLB MSS sudah dicabut dan berakhir,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali, Ketut Suarjaya, Minggu (19/3/2017).

KLB ini pertama kali ditetapkan Dinkes Kabupaten Badung, setelah 19 orang di Desa Sibang Gede, Abiansemal, mengalami gejala sakit suspect MSS. Suarjaya mengungkapkan bahwa selama ini masyarakat telah salah persepsi menerjemahkan KLB. Masyarakat menganggap KLB adalah wabah penyakit, padahal KLB dengan wabah tidak sama.

Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat. Jumlah penderitanya meningkat secara nyata pada waktu dan ada di daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Sementara KLB adalah peningkatan angka suatu kasus dalam periode waktu yang sama.

“Tahun 2014 silam terdapat tiga kasus MSS di Buleleng. Dalam periode yang sama tahun 2017 muncul kasus serupa, tapi jumlahnya melonjak menjadi 40 kasus. Semoga tidak ada lagi muncul kasus MSS atau bakteri lain. Semoga ini bisa menjadi pelajaran kita bersama,” ujarnya.

Meski sudah tidak ditemukan kasus, Dinkes Provinsi Bali tetap belum membubarkan tim pemantau. Tim pemantau kata dia tetap bekerja dengan membuat laporan terbaru tiga kali sehari mengenai perkembangan kasus tersebut.

Pada Minggu pagi kemarin para pihak yang berwenang dalam bidang kesehatan hewan saling mengutarakan pencegahan terkait dengan adanya MSS ini dalam Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS).

Kapala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali, drh. Nata Kusuma menekankan pentingnya upaya pemeliharaan hewan secara baik. Khusus terkait penyebaran MSS melalui babi, Nata Kusuma membeber ciri jika hewan terinfeksi MSS.

“Ciri-cirinya, babi mengalami gangguan persendian sehingga jalannya terseok-seok dan akan gelisah. Jika menemukan ciri-ciri seperti itu, segera hubungi petugas kesehatan hewan dan jangan dijual pada pengepul,” ujarnya di panggung PB3AS di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Denpasar.

Bahkan sebenarnya tak hanya MSS, jika peternak tidak memelihara lingkungan secara baik, banyak sumber penyakit yang menjadi ancaman. Sumbernya macam-macam, bisa bakteri, virus dan parasit dan bahan kimia. Maka dari itu masyarakat harus menjaga kebersihan lingkungan dan merawat hewan peliharaan dengan baik. ”Jika kita merawat hewan peliharaan dengan baik, niscaya penyebaran penyakit seperti MSS bisa ditangkal,” ujarnya.

Hal senada diutarakan Kepala Seksi Survelans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr. IGA Raka Susanti, yang menjelaskan bahwa MSS bisa ditularkan melalui binatang berkaki empat bukan hanya babi saja. Maka dari itu masyarakat juga disarankan mengolah daging dengan cara yang benar. Sebab, bakteri MSS diyakini akan mati jika daging direbus dalam suhu lebih dari 60 derajat selama 60 menit.

“Jangan takut makan daging, khususnya babi. Sepanjang dimasak secara benar. Selain itu, saat mengolah daging, pastikan tangan tidak dalam keadaan luka, agar penyebaran bakteri ini dapat dicegah,” ujarnya.

Ciri-ciri dari gejala MSS pada manusia seperti demam, sakit kepala, penurunan kesadaran dan gangguan pendengaran. Ia mengingatkan masyarakat untuk segera datang ke pusat kesehatan jika mengalami gejala tersebut.

 

Diobati dengan Vaksin

Dalam PB3AS, Gubernur Bali Made Mengku Pastika juga menyinggung upaya Pemprov Bali dalam mencegah meluasnya penyebaran penyakit Meningitis Streptococcus suis (MSS).

Sejumlah ahli yang berkompeten di bidang kesehatan diterjunkan terkait hal tersebut. “Para ahli saat ini tengah bekerja di lapangan dan diharapkan dapat mencegah meluasnya penyebaran penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan ditularkan melalui babi ini,” ujar Pastika.

Kepala Balai Besar Veteriner Denpasar drh. I Wayan Masa Tenaya, menambahkan bahwa bakteri MSS sejatinya bisa diobati. Untuk itu, pihaknya sangat berkepentingan untuk memperoleh sampel bakteri MSS untuk diuji di laboratorium.

“Melalui proses pengujian, selanjutnya kami berharap dapat menemukan formula yang tepat untuk pembuatan vaksin,” ujarnya. (A.A.Gde Putu Wahyura | Ed: Ida Ayu Made Sadnyari)
Sumber: Tribun Bali