Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Thursday, 14 December 2017
sapi-almere

Hasil Lab Pastikan Kematian Sapi di NTT akibat Penyakit Ngorok

Senin, 6 Februari 2017

Kupang — Kepala Dinas Peternakan Nusa Tenggara Timur (NTT), Dani Suhadi memastikan, penyebab kematian mendadak puluhan ternak sapi di Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, NTT, adalah penyakit Septicaemia Epizootica (SE) atau sapi ngorok.

Menurut Suhadi, hal itu diketahui berdasarkan hasil uji laboratorium sampel darah sapi itu di Balai Besar Veteriner di Denpasar, Bali. Suhadi menjelaskan, setelah mendapat informasi dan laporan terkait kematian sapi, pihaknya menerjunkan tim reaksi cepat ke lokasi kejadian.

Pada hari pertama, tim tidak bisa sampai ke lokasi kejadian karena terhalang banjir besar menuju Naunu. Setelah banjir reda, barulah pada hari kedua tim bisa menjangkau wilayah itu. “Tim mengambil lima sampel untuk dikirim ke laboratorium kesehatan hewan di Denpasar, Bali. Menurut hasil uji laboratorium, kematian ternak sapi di Naunu akibat terserang penyakit SE,” kata Suhadi.

Langkah yang diambil untuk menyikapi penyakit SE dimaksud adalah dengan melakukan pengobatan selama dua minggu. Setelah kondisi fisik ternak sudah agak membaik, barulah diberi vaksinasi. “Pemberian vaksin ini tidak hanya pada sapi yang terserang penyakit SE, tetapi semua ternak dalam radius 3 kilometer. Langkah ini untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit itu,” kata Suhadi.

Suhadi menyebut, jumlah sapi yang mati akibat terserang penyakit SE bukan 70 ekor sebagaimana informasi yang berkembang selama ini, melainkan 24 ekor. “Penyakit SE sering muncul dalam kondisi iklim seperti ini. Ketika kondisi iklim dingin seperti sekarang, ternak sapi rentan terserang penyakit SE,” pungkasnya. (Sigiranus Marutho Bere | Ed: Farid Assifa)
Sumber: Kompas.com