www.civas.net
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Tuesday, 25 June 2019
pacitan-1

Kementan Peringatkan Tiga Cara Penyebaran Antraks

Selasa, 24 Januari 2017

Jakarta – Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian memberikan peringatan adanya tiga cara penyebaran antraks, penyakit zoonosis (menular ke manusia) yang umumnya ditularkan melalui hewan, contohnya sapi ternak.

“Antraks ada tiga cara penyerangannya, yaitu melalui kulit karena infeksi luka, melalui pernapasan, dan ketiga lewat pencernaan karena memakan daging dari hewan yang terkena antraks,” kata Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita di Jakarta, Senin (23/1).

Diarmita mengatakan infeksi luka pada manusia bisa menjadi media penyebaran antraks ke kulit. Sementara itu, paru-paru akan terserang jika spora antraks terhirup ke saluran pernapasan. Ia menjelaskan musim hujan yang mengurangi intensitas sinar matahari membuat spora antraks dengan bakteri “Bacillus anthracis” sebagai penyebab penyakit itu, naik ke permukaan dan memudahkan penyebarannya melalui hewan.

“Jika sapi tersebut makan rumput dan tidak ada kekebalan, sapi akan terkena antraks. Sapi yang terkena antraks jangankan dipotong, dibuka saja tidak boleh karena sporanya akan terbang dan jika kita hirup dapat terkena paru-paru,” kata dia.

Ia pun juga mengimbau masyarakat yang memiliki hewan ternak, baik sapi, kambing, maupun domba untuk berwaspada dan tidak menyembelih ternak yang mati mendadak. Diarmita mengakui antraks sebagai penyakit yang bersarang pada tanah itu memang sulit diberantas, namun mudah dikendalikan karena penyebabnya bakteri, bukan virus yang mewabah.

Dinas Kesehatan serta masyarakat setempat pun harus bisa mengendalikan penyakit dengan memberikan vaksin hewan ternak setiap enam bulan secara berkala agar bebas dari antraks. Pencegahan antraks berkaitan dengan beredarnya di jejaring sosial media bahwa adanya beberapa orang terjangkit antraks.

Kasus tersebut muncul setelah tersebar surat pemberitahuan No.YK.01-02/I/1222/2017 dari RSUP Sardjito kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman, jika korban HA kelahiran 18 Maret 2008 tersebut meninggal akibat antraks.

Namun, Dinkes Kabupaten Sleman maupun RSUP Sardjito membantah isi surat tersebut. Tidak hanya surat, pesan berantai di grup-grup warga pun bermunculan. Pesan berantai tersebut meminta agar masyarakat menghindari wilayah Godean dan Sardjito. Dalam pesan berantai tersebut, warga dilarang untuk memakan daging sapi.

 

Penyakit Antraks di Pacitan

Sebelumnya, serangan penyakit mirip antraks di Pacitan awalnya diketahui Juli 2016 lalu. Saat itu, sejumlah ternak sapi milik warga Cemeng Donorojo mati mendadak. Kejadian itu lalu merambah Kecamatan Pringkuku. Sapi milik kelompok tani di Dusun Pringkuku dan Ngadirejan juga mati dengan gejala mirip antraks. Penularan diduga terjadi akibat seekor sapi terjangkit yang dibeli dari luar daerah yaitu berasal dari Pracimantoro, Wonogiri yang merupakan daerah positif antraks (Radar Madiun, 6 April 2017) di sembelih di sekitar lokasi.

Temuan sejumlah kasus diduga antraks di Pacitan memaksa jajaran dinas peternakan di daerah sekitarnya, seperti Ponorogo, Trenggalek hingga Tulungagung meningkatkan kewaspadaan atas risiko penyebaran penyakit yang bisa menular ke manusia dan menyebabkan kematian tersebut.

Pada bulan Januari 2017 ini, isu antraks kembali muncul, salah satunya di Desa Kalikuning, Kecamatan Tulakan. Pihak Dinkes Kabupaten Pacitan bekerja sama dengan tim kecamatan, Koramil, Kapolsek, UPT pertanian-peternakan, dan petugas Surveilans sudah ke lapangan untuk melakukan penyelidikan Epidemiologi.

 

Sumber: Pacitanku dan Radar Madiun

Tinggalkan Balasan

Kementan Peringatkan Tiga Cara Penyebaran Antraks

by Civas time to read: 2 min
0