www.civas.net
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Saturday, 19 January 2019
Sada Studio (2012)
Sumber: Sada Studio (2012)

Belasan Warga Kulonprogo Terserang Antraks

Selasa, 17 Januari 2017

Kulonprogo – Belasan warga Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Daerah Istimewa Yogyakarta, terserang penyakit antraks karena mengonsumsi daging sapi yang diduga terserang antraks. Sekretaris daerah (Sekda) Kulonprogo Astungkara, Selasa, mengatakan petugas telah mengambil sampel daging yang disimpan di lemari pendingin milik warga yang terinfeksi sebanyak 16 orang warga Purwosari.

“Hasil tes laboratorium itu, ada indikasi antraks. Lokasi kejadian di Desa Purwosari, Girimulyo, tepatnya di tiga pedukuhan, yakni Ngroto, Ngaglik dan Panggung. Tiga dusun itu, lokasinya dicek dan ditemukan 16 orang terkena antraks,” kata Astungkara.
Ia mengatakan Dinas Kesehatan sudah melakukan pemeriksaan dan memberikan pengobatan kepada 16 orang warga Purwosari. Saat ini, kesehatan mereka berangsur membaik dan mulai ada kesembuhan.

Mereka tidak diisolasi karena tidak mual-mual dan pusing, hanya ada luka benjolan. Selain itu, mereka sudah mendapat perawatan dan pengobatan. Dinas telah melacak awal mula kejadian ini. Ternyata, pada 12 November 2016, di Dusun Ngaglik, tepatnya rumah Ngatijo, sapinya sempoyongan. Kemudian disembelih, akhirnya mereka mebagikan kepada masyarakat. Daging itu ada yang dikonsumsi, ada yang disimpan di lemari pendingin.

“Selanjutnya dilakukan uji laboratorium oleh Balai Besar Veteriner Wates dengan mengambil sampel daging yang disimpan di pendingin. Saat ini, daging masih diuji oleh BBVet,” kata Astungkoro.

Atas kondisi tersebut, lanjut Astungkoro, Pemkab Kulonprogo melakukan berbagai langkah antisipasi. Pertama, Pemkab melakukan tindakan Surveilans dengan melakukan penyemprotan dan melakukan vaksinasi hewan-hewan yang sehat.

Untuk itu, sejak Senin (16/1), pihaknya sudah koordinasi dengan camat, kades, dan dukuh supaya menginfomasikan kepada masyarakat, kalau hewan ternak terjadi sempoyongan segera melapor ke Dinas Pertanian.

Selanjutnya, bila terjadi sapi sempoyongan jangan dilakukan penyembelihan, dan segera membuat galian tanah sedalam dua meter dan dibuang.

“Kami juga melalukan pemantuan distribusi ternak. Dinas Kesehatan telah membuat laporan kepada Pemprov DIY dan Menteri Kesehatan atas kejadian ini,” kata Astungkoro. Terkait sumber penyakit antraks ini, pihaknya masih terus melacaknya. “Apakah berasal dari lokal setempat atau dari daerah lain,” katanya.

Menurut dia, potensi penyebaran penyakit antraks ini sangat kecil. Dari informasi dan laporan yang diterima oleh Pemkab sampai hari ini, hanya ada satu sapi dan lima kambing.

“Sekarang ini belum ada laporan tentang jumlah tambahan kambing dan sapi yang mati atau orang yang terjangkit berikutnya,” kata dia. (Sutarmi | Editor: B Kunto Wibisono)

 

Sumber: Antara News

Tinggalkan Balasan