Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Thursday, 25 May 2017
peta-ntt

Waspadai Ancaman Penyakit Ternak

Kamis, 11 Agustus 2016

Nusa Tenggara Timur – Dengan kekayaan padang sabana merupakan tempat yang cocok untuk pengembangan ternak besar, seperti kuda, sapi dan kerbau. Hal ini pula yang menjadikan wilayah ini disebut-sebut sebagai gudang ternak.

Namun pengembangan peternakan di wilayah ini selalu diikuti denngan berbagai penyakit pada ternak besar. Beberapa penyakit ternak besar yang masih ada di NTT antara lain brucellosis dan antraks. Namun kini muncul lagi penyakit SE (Septicaemia Epizootica) atau penyakit Ngorok.

Penyakit SE atau penyakit Ngorok mewabah di Desa Nagerawe, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Dalam empat hari terakhir sudah ditemukan delapan ekor kerbau mati. Jumlah tersebut belum termasuk enam ekor kerbau yang belum ditemukan.

Melihat kondisi ini tentu kita patut waspada. Sebab, ini hanya temuan awal adanya penyakit di Flores ini. Bukan tidak mungkin dalam beberapa waktu ke depan, jumlah hewan yang sudah terkena serangan SE ini akan bertambah, karena sejauh ini kita belum tahu sudah berapa banyak ternak yang terkontaminasi bakteri penyebab penyakit ini.

Melihat kondisi ini, instansi terkait dalam hal ini Dinas Peternakan Provinsi NTT dan kabupaten harus berkerja cepat dan sigap. Sebab kematian hewan besar ini hanya akan merugikan petani peternak dan bahkan bisa mengganggu pasokan ternak dan daging dari wilayah tersebut. Peternak atau pemilik ternak tersebut tentu juga akan mengalami kerugian yang tidak kecil.

Kita berharap pemerintah tidak memandang sepele kasus ini hanya karena jumlah ternak yang sudah mati masih di bawah angka 10 atau baru satu digit.

Tapi kita percaya bahwa instansi terkait tentu sudah punya SOP dalam mengatasi penyakit ini. Sebab, belum ada jaminan bahwa penyakit pada hewan ini tidak berbahaya untuk manusia.

Melihat mulai mewabahnya penyakit hewan ini, maka langkah- langkah yang harus diambil oleh pihak terkait adalah melakukan pemetaan dan identifikasi jenis penyakit hewan tersebut sehingga bisa sesegera mungkin melakukan intervensi penanggulangan wabah tersebut. Selanjutnya adalah melokalisir penyakit tersebut sehingga tidak lagi menyebar ke ternak lain atau mencegah meluasnya penyakit tersebut.

Selanjutnya mengindentifikasi hewan-hewan yang kemungkinan sudah terkena penyebab penyakit ini seperti bakteri Pasteurella multocida, berbentuk cocobacillus yang mempunyai ukuran sangat halus dan bersifat bipoler. Bila ada hewan yang sudah terdeteksi penyakit, maka sebaiknya dipisahkan dari hewan lainnya dan diberi pengobatan atau upaya penanggulangan. (Ed: Agustinus Sape)

 

Sumber: Tribunnews.com/Pos Kupang